Materi BAB 5 Memetik Keteladanan dari Biografi Pahlawan - Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum Merdeka

Berikut adalah materi BAB 5 Memetik Keteladanan dari Biografi Pahlawan mata pelajaran Bahasa Indonesia (Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia) kelas 10 SMA/SMK kurikulum merdeka.

Tujuan pembelajaran BAB 5 Memetik Keteladanan dari Biografi Pahlawan ini adalah untuk memahami pengertian dan karakteristik biografi, menyimak pembacaan biografi dengan kritis dan reflektif, membaca untuk menganalisis biografi, menulis biografi dengan logis dan kreatif, dan mempresentasikan teks biografi dengan metode yang tepat.

A. Memahami dan Menganalisis Ide Pokok dan Ide Penjelas

Untuk memahami sebuah teks biografi, kalian perlu memperhatikan ide pokok dan ide penjelas di dalamnya. Ide pokok merupakan sebuah topik yang menjadi pokok atau inti pengembangan suatu paragraf. Karena itu, bentuk kalimatnya bersifat umum. Letak ide pokok umumnya mengikuti keberadaan kalimat utama, yaitu bisa pada awal paragraf (deduktif), pada akhir paragraf (induktif), atau campuran keduanya. Berikut ini contoh letak ide pokok pada paragraf deduktif dan induktif.

1. Ide pokok pada paragraf deduktif
Aman Datuk Madjoindo lebih dikenal sebagai penulis  cerita  anak- anak. Ketenarannya sebagai penulis cerita anak disebabkan profesinya sebagai pengasuh rubrik cerita anak-anak di majalah Panji pustaka. Di majalah mingguan itu, ia sering memublikasikan cerita anak. Sudah tidak terhitung jumlah cerita anak yang telah ditulisnya selama bekerja di majalah tersebut.

a. Ide pokok: Aman Datuk Madjoindo penulis cerita anak
b. Kalimat utama:  Aman  Datuk  Madjoindo  lebih  dikenal  sebagai
penulis cerita anak-anak

c. Ide penjelas:
- Ketenarannya karena mengasuh rubrik cerita di Panji Pustaka.
- Ia sering memublikasikan cerita anak.
- Tidak terhitung jumlah cerita anak yang ditulisnya.

2. Ide pokok pada paragraf induktif
Kartini saat itu menganggap wanita pribumi banyak yang tidak memiliki pendidikan layak sehingga tidak mengenal baca tulis. Mereka juga sering mendapat perlakuan diskriminasi jenis kelamin. Selain itu, wanita pribumi juga kerap tidak mendapatkan persamaan hak, kebebasan berpendapat, dan kesetaraan hukum. Itulah beberapa alasan Kartini yang bercita-cita ingin memajukan wanita Indonesia.

a. Ide penjelas:
  • Kartini menganggap wanita pribumi tidak memiliki pendidikan.
  • Mereka mendapat perlakukan diskriminasi.
  • Wanita pribumi tidak mendapat persamaan hak, kebebasan berpendapat, dan kesetaraan hukum.

b. Kalimat utama: Itulah beberapa alasan Kartini yang bercita-cita
ingin memajukan wanita Indonesia.

c. Ide pokok: Alasan Kartini ingin memajukan wanita Indonesia.

B. Menganalisis Teks Rekon untuk Menemukan Gagasan, Pikiran, dan Pesan

Untuk memahami sebuah teks, kalian juga perlu mendalami struktur atau bagian-bagiannya. Teks biografi dan teks rekon berisi kisah kehidupan atau pengalaman seseorang yang berbentuk cerita dengan penyajian secara kronologis sesuai urutan waktu. Untuk itu,  teks biografi dan teks rekon memiliki struktur yang sama terdiri atas tiga bagian, yaitu orientasi, masalah atau peristiwa/kejadian penting, dan reorientasi. Penjelasannya sebagai berikut.

1. Orientasi merupakan pengenalan tokoh atau gambaran awal mengenai identitas tokoh atau sosok biografi. Orientasi umumnya berisi nama, tempat dan tanggal lahir, latar  belakang  keluarga, serta riwayat pendidikan.

2. Masalah   atau   peristiwa/kejadian   penting   berupa   paparan suatu cerita yang berisi berbagai kejadian/peristiwa saat tokoh mengalami masalah, memecahkan masalah, proses karier, peristiwa menyenangkan, menegangkan, menyedihkan, atau mengesankan hingga akhirnya mengantarkannya mencapai mimpi, cita-cita, dan kesuksesan.

3. Reorientasi merupakan bagian penutup atau simpulan. Bagian ini berisi pandangan, ulasan, atau pemikiran penulis  secara  pribadi atas biografi tokoh yang dikisahkan. Reorientasi ini bersifat pilihan semata, jadi boleh ada maupun tidak ada.

C. Menelaah Penggunaan Tanda Baca dan Kata Serapan dalam Teks Biografi

Penggunaan tanda baca sangat penting dalam suatu teks. Apakah kalian telah memahami seluruh kaidah penggunaan tanda baca dalam bahasa Indonesia? Secara lengkap, kaidah penggunaan tanda baca terdapat dalam PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang saat ini dapat kalian temukan dalam bentuk cetak, buku elektronik, aplikasi, maupun daring/ online. Dalam PUEBI tersebut, tidak hanya mencakup kaidah tanda baca, tetapi juga pemakaian huruf, penulisan kata, dan penulisan unsur serapan. Kalian juga dapat menemukan beberapa contoh penggunaan kaidah tersebut.

PUEBI diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan  Teknologi.  Adapun berkas PUEBI versi buku elektronik terbaru dapat kalian unduh di laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Berikut tampilan untuk mengunduh berkas PUEBI di laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Setelah mencermati kaidah tanda baca, pemakaian huruf, penulisan kata, dan penulisan unsur serapan dalam PUEBI, kalian dapat berlatih menganalisis teks berdasarkan kaidah-kaidah tersebut. Berikut ini adalah beberapa contoh analisis penggunaan tanda baca dalam teks biografi Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Indonesia.

1. Nama Ki Hadjar Dewantara bukanlah nama pemberian orang tuanya sejak lahir.

Kalimat tersebut menggunakan tanda titik pada akhir kalimat. Hal tersebut sudah tepat karena kaidah PUEBI menyatakan bahwa tanda titik digunakan sebagai tanda akhir kalimat.

2. Semenjak itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.

Penggunaan tanda koma dalam kalimat tersebut sesuai dengan kaidah karena menurut PUEBI, tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian. Pada kalimat tersebut, terdapat kata penghubung antarkalimat sementara itu yang kemudian diikuti dengan tanda koma.

3. Kemampuan menulisnya terasah ketika ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.

Tanda koma juga digunakan dalam kalimat tersebut sebagai pemisah di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Selain itu, terdapat penggunaan huruf miring untuk penggunaan nama surat kabar dalam kalimat tersebut.

4. Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan melanjutkan sekolahnya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Lantaran sakit, sekolahnya tersebut tidak dapat ia selesaikan.

Dalam kalimat tersebut terdapat tanda kurung yang berfungsi mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

5. Tulisan “Seandainya Aku Seorang Belanda” dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.

Pada kalimat di atas terdapat dua tanda baca, yaitu tanda petik dan tanda titik. Tanda petik pada kalimat tersebut digunakan untuk mengapit judul sebuah tulisan dari Ki Hadjar Dewantara.

Sebagaimana tertera dalam PUEBI bahwa tanda petik digunakan untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Selain itu, kalimat tersebut juga mengandung tanda  titik. Tanda titik tertera pada dua tempat. Pertama sebagai pemisah untuk gelar dokter yang disingkat dan tanda titik sebagai akhir kalimat.

D. Memahami Unsur Kebahasaan Teks Biografi

Setiap teks memiliki ciri kebahasaannya masing-masing. Sebagai teks yang menceritakan kisah hidup seseorang, teks biografi memiliki unsur-unsur kebahasaan yang sering terdapat di dalamnya. Beberapa unsur kebahasaan yang terdapat dalam teks biografi adalah sebagai berikut.

1. Kata ganti (pronomina)
Kata ganti dipakai untuk mengacu pada kata benda (nomina) lain. Kata ini sering digunakan untuk menggantikan nomina yang sudah diketahui agar tidak disebutkan berulang-ulang. Kata ganti biasanya terletak pada subjek atau objek. Terdapat berbagai jenis kata ganti, tetapi dalam teks biografi yang sering digunakan adalah kata ganti orang (pronomina persona).

2. Kata kerja material
Kata yang menunjukkan aktivitas yang sedang dilakukan subjek atau menunjukkan adanya tindakan fisik atau mental. Sebagai contoh, kata membentuk dan bekerja terdapat dalam kalimat berikut merupakan kata kerja material.

Ki Hadjar Dewantara membentuk Komite Bumipoetra. Ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar.

3. Kata sifat (adjektiva)
Kata sifat umumnya berupa kata yang menjelaskan atau membuat kata benda atau kata ganti orang lebih spesifik. Kata sifat dapat menerangkan kuantitas, kecukupan, urutan, kualitas, maupun penekanan suatu kata. Contoh penggunaan kata sifat tampak pada kata yang ditulis miring dalam kalimat berikut.
  • Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai penulis andal.
  • Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam, dan patriotik.

4. Kata kerja pasif
Kata kerja pasif berupa kata kerja yang subjeknya dikenai suatu pekerjaan. Umumnya kata kerja yang memiliki imbuhan -di atau -ter. Contoh penggunaan kata kerja pasif tampak pada kata dibesarkan dan dipercaya pada contoh kalimat berikut.
  • Ia dibesarkan di lingkungan keluarga keraton Yogyakarta.
  • Ki Hadjar Dewantara dipercaya Presiden Soekarno untuk menjadi menteri

5. Kata kerja aktivitas mental
Kata kerja aktivitas mental ini merupakan jenis kata kerja yang mengutarakan suatu respons atau reaksi individu terhadap sebuah sikap, kondisi, atau pengalaman tertentu. Contoh penggunaan kata kerja pasif tampak pada kata mencurahkan dan menghendaki pada contoh kalimat berikut.
  • Ki Hadjar Dewantara semakin mencurahkan perhatiannya pada bidang pendidikan.
  • Mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda

6. Kata-kata penanda urutan waktu
Kata-kata penanda urutan waktu ini terdiri atas kata hubung (konjungsi), kata depan (preposisi), dan kata benda (nomina) yang berkenaan dengan urutan waktu (kronologis). Contoh penggunaannya tampak pada beberapa kalimat berikut.
  • Pada masanya, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai penulis andal.
  • Akhirnya, mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913.
  • Kegiatan menulisnya ini terus berlangsung hingga zaman Pendudukan Jepang.
  • Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil direbut dari tangan penjajah.

E. Menulis Teks Biografi secara Logis dan Kreatif

Setelah memahami secara keseluruhan teks biografi, kalian diharapkan mampu menulis teks biografi melalui sebuah riset atau penelitian sederhana. Kalian dapat melakukannya dengan cara mengutip atau mencantumkan sumber rujukan yang jelas. Untuk itu, sebelumnya kalian perlu memahami langkah-langkah menulis teks biografi .

Berikut adalah langkah-langkah menulis biografi:

1.    Memilih tokoh atau sosok
Pemilihan tokoh atau sosok menjadi penting. Tokoh yang dipilih tentu bukan sosok atau tokoh yang biasa saja. Tokoh yang dipilih harus memiliki kisah hidup inspiratif dan bermanfaat atau sebagai bahan pelajaran hidup untuk pembacanya. Untuk itu, kalian dapat terlebih dulu membuat daftar nominasinya. Diskusikan dengan teman-teman sekelompok. Pilih salah satu tokoh yang dirasa paling tepat sesuai dengan hasil diskusi. Sebagai contoh, beberapa tokoh pahlawan nasional dapat menjadi pilihan. Lanjutkan bagian yang kosong dengan nama tokoh pahlawan pilihan kalian sendiri.

2. Menentukan teknik pencarian data
Kalian perlu menentukan teknik pencarian data untuk memastikan cara yang digunakan cukup efektif dan efisien. Teknik yang dapat digunakan, misalnya melalui wawancara, telaah dokumen, pengumpulan video, foto, dan hasil rekaman. Kalian dapat menentukan lebih dari satu teknik untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif. Lakukan perencanaan agar kegiatan pencarian data dapat lebih terarah.

3. Mencari data tentang tokoh
Setelah menentukan teknik yang tepat, kalian dapat memulai untuk melakukan pencarian data tokoh. Pencarian data tokoh mencakup berbagai hal tentang kehidupan tokoh. Kalian dapat memulai dengan identitas lengkap, seperti nama lengkap atau nama yang dikenal umum, kelahiran, identitas orang tua, tempat kelahiran, pendidikan, pekerjaan, dan prestasi. Selanjutnya, kalian dapat mencari peristiwa, kejadian, pemikiran, sikap, atau pandangan tokoh secara lebih terperinci. Buat daftar cek tentang informasi atau hal-hal yang ingin atau telah kalian dapatkan. Jangan lupa tuliskan pula sumber informasi didapatkan dari mana. Perhatikan kaidah penulisan rujukan atau referensi sumber informasi.

4. Memilah data yang relevan tentang tokoh
Sebelum ke langkah selanjutnya, kalian perlu memilah-milah data yang sudah dikumpulkan. Petakan menjadi sebuah alur yang jelas dan menarik. Tidak semua data yang ditemukan dapat digunakan untuk bahan menulis biografi. Cari data yang benar-benar penting, menunjukkan keunggulan atau keistimewaan tokoh, dan bermanfaat untuk pembaca.

5. Menyusun kerangka tulisan
Langkah selanjutnya adalah menyusun kerangka teks biografi yang akan kalian tulis. Kerangka dapat mencakup hal-hal yang akan dibahas. Strukturnya terdiri atas bagian orientasi, masalah/peristiwa penting, dan reorientasi. Lebih rinci kalian dapat menuliskan ide pokok dan ide penjelas masing-masing paragraf.

6. Mengembangkan kerangka menjadi bentuk biografi
Pada tahap ini, kalian dapat mengembangkan kerangka menjadi sebuah tulisan yang utuh. Kalian dapat mulai menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, hingga membentuk suatu kesatuan dan tulisan utuh. Dalam hal ini, perhatikan baik-baik pilihan kata, struktur kalimat, hubungan antarkalimat, kepaduan antarparagraf, dan kesatuan gagasan dalam paragraf. Hal tersebut penting untuk meminimalkan koreksi kesalahan pada tahap selanjutnya.

7. Merevisi kembali hasil tulisan utuh
Sebelum dipublikasikan, hasil tulisan yang dikembangkan perlu ditelaah kembali untuk mendapatkan sebuah tulisan yang sempurna dan menarik. Ada baiknya tulisan dibaca oleh orang lain untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda. Revisi atau perbaikan tulisan mencakup beberapa hal, yaitu diksi (pilihan kata), penulisan tanda baca, penulisan kata serapan, struktur kalimat, paragraf, dan sebagainya.

8. Publikasikan
Setelah melalui proses editing dan revisi, publikasikanlah tulisan kalian. Publikasi dapat dilakukan melalui majalah dinding sekolah, tabloid sekolah, blog sekolah, atau media sosial. Agar lebih menarik, lengkapi tulisan kalian dengan foto, gambar, ilustrasi video, infografik, atau peta pikiran.