Nilai-nilai Ajaran Punarbhawa Sebagai Wahana Memperbaiki Kualitas Diri


Penyebab terjadinya kelahiran karena dipengaruhi oleh karma wasana sebelumnya.

Ada Tiga macam Karmaphala yang mempengaruhi karma wasana, yakni:
  1. Sancita karmaphala, yaitu karma yang lalu, namun baru dapat di nikmati buahnya pada kelahirannya yang sekarang.
  2. Prarabda karmahpala, yaitu karma yang dilakukan sekarang dan buahnya diterima sekarang juga.
  3. Kriyamana karmaphala, yaitu perbuatan yang tidak sempat dinikmati sekarang. Namun akan diterima pada kehidupan yang akan datang.

Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang berbuat yang baik, berpikir yang baik, dan berkata yang baik. Hasilnya pasti baik sesuai dengan hukum karmaphala tersebut.

Rahasia tentang kelahiran hanya diketahui oleh Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Manusia terlahir ke dunia secara berulang- ulang adalah untuk memperbaiki karmanya, maka itu tampaklah ia dalam keadaan yang berbeda-beda dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Seperti diuraikan pada Swetaswaiara Upanisad, V.12 (Tim Penyusun, 2012) berikut ini.

Sthulani suksmani bahuni caiwa, nipani dehi swagunais wrnoti krya- gunair Atma gunai ca tesam samyoga hetur aparo ’pidrstah.

Terjemahannya:

Atman yang berinkarnasi sesuai dengan sifat dan Karma-nya, memilih sebagai tubuhnya wujud yang kasar atau halus. Dia menjadi tampak berkeadaan berbeda dari satu inkarnasi ke inkarnasi berikutnya. (Swetaswatara Upanisad, V.12)

Berdasarkan isi sloka tersebut, punarbhawa wajib dimaknai sebagai kesempatan untuk memperbaiki karma dengan cara berbuat baik, bukan sebaliknya, yang dianggap sebagai sesuatu yang negatif.

Dengan demikian, diharapkan akan terwujud kesadaran untuk selalu berbuat baik. Karena sudah menyadari hal tersebut sehingga dapat memperbaiki karma buruk pada kehidupan sebelumnya, dan selalu berbuat baik dalam kehidupan yang sekarang.

Maka itu hendaknya seseorang selalu berbuat baik, misalnya dengan cara selalu berpikir yang baik, berkata yang baik, berperilaku yang baik, dan menjaga kebersamaan melalui gotong royong. Semua karma tersebut memiliki phala sesuai dengan ajaran hukum karma.

Hukum karma adalah hukum alam semesta yang telah ditetapkan oleh Hyang Widhi Wasa. Hukum itu berlaku bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Hukum ini berlaku sejak alam ini diadakan dan akan terus berlaku sampai alam ini pralaya (musnah, lebur).

Manfaat dan nilai yang akan diperoleh dari penghayatan terhadap hukum Karma pada ajaran punarbhawa adalah sebagai berikut:
  1. disiplin untuk selalu berpikir yang bersih dan suci (manacika parisudha);
  2. disiplin untuk selalu berkata yang baik, sopan, dan benar (wacika parisudha);
  3. disiplin untuk selalu berbuat yang jujur, baik, dan benar (kayika parisudha);
  4. melahirkan kesabaran, ketenangan, dan ketabahan;
  5. keyakinan diri terhadap setiap perbuatan;
  6. pengendalian diri yang ketat;
  7. selalu bersyukur; dan
  8. kebijaksanaan;

Semua nilai tersebut wajib disyukuri dengan cara selalu bhakti kepada Hyang Widhi Wasa. Karena Beliau telah menetapkan hukum karma phala itu, sehingga kita selalu berusaha berbuat baik.

Hal ini agar jika terlahir kembali, maka kita dapat menjadi manusia yang memiliki kualitas diri yang baik dan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas diri untuk mencapai kesempurnaan.