Soal dan Jawaban materi Menelusuri Tradisi Islam di Nusantara – Agama Islam (PAI) Kelas 9 SMP/MTs


Berikut adalah soal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti Kelas IX SMP/MTs materi Menelusuri Tradisi Islam di Nusantara lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Sebutkan contoh pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dalam budaya masyarakat Indonesia sebelum Islam!
  2. Apa yang kamu ketahui tentang tradisi Rabu Kasan?
  3. Sebutkan tiga prinsip Islam dalam memandang sebuah budaya!
  4. Bagaimana gambaran pelaksanaan Tabot di Bengkulu?
  5. Ceritakan sejarah Grebeg Besar di Demak!
Kunci Jawaban:

1. Contoh pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dalam budaya masyarakat Indonesia sebelum Islam, antara lain:
  • Kepercayaan kepada benda-benda alam dan roh nenek moyang.
  • Ritual sebelum melaksanakan hajatan, kelahiran, perkawinan, kematian.
  • Ukiran relief candi Borobudur tampak adanya perahu bercadik yang merupakan gambaran pelaut nenek moyang bangsa Indonesia.
  • Di bangunnya candi sebagai tempat pemujaan, dan berfungsi sebagai makam raja atau untuk tempat menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal.
2. Yang saya ketahui tentang tradisi Rabu Kasan:
Tradisi Rabu Kasan adalah tradisi yang dilakukan tepat pada hari Rabu Kasan terakhir bulan safar, kira-kira pukul 07.00 WIB. Semua penduduk telah hadir di tempat upacara dengan membawa makanan dan ketupat tolak bala sebanyak jumlah keluarga masing-masing.

Acara diawali dengan berdirinya seorang di depan pintu masjid dan menghadap keluar lalu mengumandangkan azan. Lalu disusul dengan pembacaan doa bersama-sama. Selesai berdoa semua yang hadir menarik atau melepaskan anyaman ketupat tolak balak yang telah tersedia tadi, satu persatu menurut jumlah yang dibawa sambil menyebut nama keluarganya masing-masing dilanjutkan makan bersama dan mengambil air wafak yang telah disediakan untuk semua anggota keluarganya.

Setelah selesai acara ini mereka pulang dan bersilahturahmi ke rumah tetangga atau keluarganya.

3. Prinsip Islam dalam memandang sebuah budaya, yaitu:
  • Tidak melanggar ketentuan hukum halal-haram
  • Mendatangkan mashlahat (kebaikan) dan tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan)
  • Sesuai dengan prinsip al-Wala` (kecintaan yang hanya kepada Allah Swt. dan apa saja yang dicintai Allah Swt.) dan al-Bara` (berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah Swt.).
4. Gambaran pelaksanaan Tabot di Bengkulu, yaitu:
Tabot di Bengkulu adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad saw. Kedua cucu Nabi Muhammad saw. ini gugur dalam peperangan di Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685.

Syaikh Burhanuddin menikah dengan wanita Bengkulu kemudian keturunannya disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar Islam) setiap tahun.

5. Sejarah Grebeg Besar di Demak:
Tradisi Grebeg Besar adalah upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di Kabupaten Demak Jawa Tengah. Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan dengan datangnya Hari raya Idul Adha atau Idul Qurban.

Pada awalnya Grebeg Besar dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1428 Caka dan dimaksudkan sekaligus untuk memperingati genap 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid Agung Demak. Mesjid ini didirikan oleh Walisongo pada tahun 1399 Caka, bertepatan 1477 Masehi. Tahun berdirinya masjid ini tertulis pada bagian Candrasengkala“Lawang Trus Gunaning Janmo.”

Pada tahun 1428 tertulis dalam Caka tersebut Sunan Giri meresmikan penyempurnaan masjid Demak. Tanpa diduga pengunjung yang hadir sangat banyak. Kesempatan ini kemudian digunakan para Wali untuk melakukan dakwah Islam. Jadi, tujuan semula Grebeg Besar adalah untuk merayakan Hari Raya Qurban dan memperingati peresmian Masjid Demak.