Siapa Sajakah yang Disebut Bahagia Dalam Aspek Iman Berdasarkan Perikop Sabda Bahagia Tersebut? Mengapa Mereka Disebut Bahagia?

Sabda bahagia mengandung aspek iman dan aspek sosial. Siapa sajakah yang disebut bahagia dalam aspek iman berdasarkan perikop sabda bahagia tersebut? Mengapa mereka disebut bahagia?

Jawaban:

Orang-orang yang disebut bahagia dalam aspek iman berdasarkan perikop sabda bahagia (Matius 5: 1-12) tersebut adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, dan dianiaya karena kebenaran.

Mereka disebut bahagia bukan karena harta benda atau pencapaian duniawi, melainkan karena hubungan mereka dengan Allah dan sesama.

Penjelasannya:

Sabda Bahagia (Matius 5: 1-12) bagaikan peta jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati. Yesus menyingkapkan delapan kelompok orang yang disebut bahagia, bukan karena harta benda atau pencapaian duniawi, melainkan karena hubungan mereka dengan Allah dan sesama.

Pertama, mereka yang miskin di hadapan Allah, sadar akan ketergantungan mereka pada kasih-Nya, menemukan kebahagiaan dalam penyerahan diri penuh. Orang-orang yang berdukacita, berduka atas dosa dan ketidakadilan, dihibur dengan pengharapan pembebasan dari Allah.

Selanjutnya, orang-orang lemah lembut, rendah hati dan penuh kasih, menemukan kebahagiaan dalam keselarasan hidup dengan ajaran Kristus. Mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, selalu mencari kebenaran dan keadilan Allah, dipenuhi dengan pemenuhan rasa haus akan kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan juga datang bagi orang-orang murah hati, yang rela memberi dan menolong tanpa pamrih, dan orang-orang suci hati, yang memiliki hati murni dan penuh kasih. Mereka yang membawa damai, berusaha menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi, dipersatukan dengan Allah sebagai anak-anak-Nya.

Terakhir, orang-orang yang dianiaya karena kebenaran, menderita karena iman mereka kepada Yesus, dijanjikan pahala besar di surga dan partisipasi dalam Kerajaan Allah.

Kebahagiaan sejati bukan kebahagiaan sesaat yang bergantung pada dunia, melainkan kebahagiaan kekal dari hubungan erat dengan Allah dan hidup sesuai ajaran-Nya. Marilah kita renungkan dan mengusahakan nilai-nilai Sabda Bahagia ini dalam kehidupan sehari-hari, menjadi teladan bagi sesama, dan mewujudkan kebahagiaan sejati yang dijanjikan Allah.

Komentar