Bagaimana Cara Kalian Mewujudkan Kekudusan Gereja Menurut Ajaran Gereja ini (LG, artikel 39)?

Bagaimana cara kalian mewujudkan kekudusan Gereja menurut ajaran Gereja ini (LG, artikel 39)?

Jawaban:

Cara saya mewujudkan kekudusan Gereja menurut ajaran Gereja ini (LG, artikel 39) adalah dengan menyadari panggilan universal untuk kekudusan dan berusaha hidup sesuai dengan ajaran Gereja. Saya akan mengikuti Nasihat Injil, membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus, dan berpartisipasi dalam Sakramen dengan penuh iman dan devosi. Saya juga akan melakukan karya amal, menjalani hidup doa, dan memberikan teladan baik bagi orang lain. Dalam segala aspek kehidupan, saya akan terus berusaha dan pantang menyerah untuk mencapai kekudusan.

Penjelasannya:

Gereja, sebagai Tubuh Mistik Kristus, dipanggil untuk menjadi kudus. Kekudusan ini bukan hanya milik para klerus atau orang-orang religius, tetapi merupakan panggilan universal bagi semua anggota Gereja, baik hierarki maupun umat awam.

Kesadaran akan panggilan ini menjadi landasan penting dalam upaya mewujudkan kekudusan Gereja. Kita diajak untuk mengikuti Nasihat Injil, yaitu kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian, sebagai jalan konkret untuk mencapai kekudusan. Kita perlu membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus, yang memimpin dan menguatkan kita dalam perjalanan menuju kesempurnaan.

Partisipasi aktif dalam Sakramen, terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat, memberikan rahmat yang membantu kita bertumbuh dalam kekudusan. Kita juga diundang untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kepada sesama melalui karya amal, seperti membantu orang miskin, mengajar anak-anak, atau merawat orang sakit.

Doa merupakan sumber kekuatan dan percakapan dengan Allah yang menopang perjalanan spiritual kita. Luangkan waktu untuk berdoa secara pribadi dan bersama komunitas, memohon rahmat dan bimbingan Tuhan.

Hiduplah dengan teladan yang baik bagi orang lain, mencerminkan nilai-nilai Kristiani dalam segala aspek kehidupan. Menjadi kudus bukan berarti tanpa cacat, tetapi terus berusaha dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.

Marilah kita bersama-sama mewujudkan kekudusan Gereja dengan komitmen dan usaha yang tulus. Ingatlah bahwa kekudusan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang berkelanjutan yang membawa kita semakin dekat kepada Allah dan memancarkan kasih-Nya kepada dunia.

Contoh Penerapan:

Seorang siswa menunjukkan kekudusan dengan rajin belajar, membantu teman yang kesulitan, dan menjaga sikap hormat kepada guru dan orang tua. Ibu rumah tangga menunjukkan kekudusan dengan setia mengurus keluarga, mendoakan suami dan anak-anaknya, dan aktif dalam kegiatan gereja. Pastor menunjukkan kekudusan dengan melayani umat dengan penuh kasih, mendalami Kitab Suci, dan hidup sederhana.

Setiap orang, dengan situasi dan panggilannya masing-masing, dapat berkontribusi dalam mewujudkan kekudusan Gereja. Marilah kita saling mendukung dan mendoakan satu sama lain dalam perjalanan spiritual ini.

Komentar