Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Upaniṣad Secara Etimologi dan Pokok Ajarannya

Kitab suci Weda merupakan sumber pengetahuan bagi umat Hindu. Kitab suci Weda terbagi menjadi dua, yakni Weda Śruti dan Weda Smerti.

Pada kelompok Śruti terdapat kitab Catur Weda yang mempunyai Upaniṣadnya masing-masing.

Kata Upaniṣad secara etimologi berasal dari kata upa artinya dekat, ni artinya di bawah dan sad artinya duduk. Untuk itu, Upaniṣad berarti sekelompok sisya (peserta didik) duduk dekat acarya (Pendidik atau guru) (Sutrisna, 2009:3).

Menurut Sura, Kitab Suci Upaniṣad mengembangkan pengertian tentang Weda sehingga mempunyai arti dan pengertian yang bersifat formal.

Tanpa penjelasan itu, mantra-mantra yang bersifat simbolis tidak pernah dapat dijelaskan (Sutrisna, 2009:11). Seorang sisya dalam mempelajari falsafah kehidupan harus membangun hubungan kedekatan dengan acaryanya.

Kedekatan ini tidak hanya secara fisik tetapi juga batin, sehingga sisya dapat mendengarkan, meresapi, dan menghayati, ajaran yang disampaikan dengan baik dan benar. Terutama ajaran atau mantra tertentu yang bersifat rahasia.

Kitab Upaniṣad mengungkapkan hakikat kebenaran di alam semesta, serta menguraikan realitas tertinggi secara filosofis, sehingga segala yang tertuang dalam Kitab Suci Weda dapat diterima secara rasional oleh manusia. Kitab Suci Upaniṣad adalah kesimpulan kitab Aranyaka, sehingga kitab Upaniṣad juga sering dikenal degnan nama Vedanta.

Vedanta bukan hanya diartikan Weda akhir, tetapi juga merupakan puncak tertinggi dari ajaran Weda (Titib, 1998:121). Istilah Upaniṣad yang lebih tua mempunyai nama yang berbeda-beda, seperti Guhya Adesah, Paramam Guhyam, Vedaguhya-upanisatsu, Guhyatamam dan lainlain. Penamaan ini diberikan oleh Deussen dalam modul materi pokok Upaniṣad (Sutrisna, 2009:7).

Upaniṣad merupakan bagian penyimpulan dari Weda. Kronologis Upaniṣad muncul pada akhir zaman Weda. Oleh Karena Upaniṣad mengandung falsafah yang sulit,  maka  para sisya memperoleh pengetahuan ini pada akhir masa belajarnya.

Dalam Upaniṣad kita menemukan kritik-kritik terhadap agama ritualistik. Para Ṛṣi Upaniṣad tidak terikat kepada hukum kasta, tetapi meluaskan pengertian hukum tentang kerohanian semesta hingga batas terjauh dari umat manusia (Radhakrishnan, 2015:26-27).

Secara garis besar, pokok ajaran Upanisad membahas tentang Brahman, Jivātman atau diri individual, jagat atau jagadraya,  sadhana atau sarana pencapaian.

Sesungguhnya kitab suci Upaniṣad mengajarkan kepada manusia tentang falsafah hidup guna memberikan panduan kepada umat manusia agar dapat menghayati Brahman, Ātman, Jagatraya, serta Sadhana mencapai tujuan.