Pemikiran Muhammad Iqbal tentang Pembaruan Islam


Muhammad Iqbal lahir di Kota Sialkot di Punjab pada tanggal 9 November 1877 M. Iqbal berasal dari keluarga kelas menengah yang sederhana.

Pendidikan agama didapatkan dari orang tuanya yang juga tokoh sufi di India. Setelah itu, ia belajar di Maktab (surau). Pendidikan formalnya ditempuh di Scottish Mission School di Sialkot, kemudian dilanjutkan di Government College di Lahore.

Iqbal mendapatkan gelar Bachelor of Art (B.A.) pada tahun 1897 M. Dua tahun kemudian mendapatkan gelar Master of Art (M.A.) dengan memperoleh medali emas.

Setelah itu, Iqbal belajar di Universitas Cambridge London dan Philosophy of Doctor (Ph.D.) dari Universitas Munich Jerman. Puncak kariernya, Iqbal terpilih menjadi Presiden Liga Muslim pada tahun 1930.

Liga Muslim ini memiliki peran yang strategis dalam pergerakan kemerdekaan India. Selain itu, ia menjadi kunci utama dalam pendirian Negara Pakistan, sebagai sebuah negara Islam yang terpisah dari Negara India.

Meskipun tidak sempat menyaksikan langsung pendirian berdirinya Negara Pakistan, tetapi karena jasanya, Iqbal tetap dikenang menjadi pahlawan nasional di Pakistan.

Namanya diabadikan menjadi nama bandar udara internasional Muhammad Iqbal di Lahore, Pakistan.

Berikut adalah pokok-pokok pemikiran Muhammad Iqbal tentang pembaruan Islam:
  1. Bercita-cita membangun sebuah peradaban baru yang anggun, yaitu perpaduan antara peradaban Barat dan Timur. Keduanya dipadukan antara penalaran (ziraki) dan cinta (isyq). Menurutnya, apabila cinta dan penalaran berpadu niscaya akan tercipta sebuah dunia baru. Kekurangan Barat diisi Timur, dan kekurangan Timur diisi Barat;
  2. Al-qur’an merupakan kitab yang lebih mengutamakan amal daripada cita-cita. Al-qur’an  sebagai  landasan  dalam  membentuk  sebuah peradaban baru dan kehidupan sebagai suatu proses cipta yang kreatif dan progesif;
  3. Pintu ijtihad masih terbuka. Ijtihad bagi Iqbal merupakan dasar pergerakan dalam Islam. Ijtihad dibutuhkan pada setiap zaman untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan tuntutan zaman;
  4. Mencita-citakan kebangkitan kembali umat Islam dari ”tidur panjangnya” dan berharap agar umat Islam dapat menerima kehidupan yang dinamis. Karakter berpikir dinamis, menurutnya adalah: menganut pola pikir yang kompleks, yaitu pola pikir yang kritis dan kreatif, pikir maju dan berkembang, memiliki pertahanan diri yang lebih besar, memiliki psikodinamika yang kompleks, dan memiliki kepribadian yang luas.
  5. Tujuan pendidikan adalah memperkokoh dan memperkuat individualitasi dari peserta didik sehingga mereka menyadari segala kemungkinan menimpa dirinya.

Muhammad Iqbal, yang kini dikenang sebagai pahlawan nasional di Pakistan, adalah salah satu pemikir terkemuka dalam sejarah pembaruan Islam.

Visinya tentang peradaban baru yang menggabungkan penalaran dan cinta, Iqbal menciptakan landasan bagi pembaruan Islam yang berakar dalam nilai-nilai keberagaman.

Pandangannya tentang Al-Qur'an sebagai landasan peradaban yang kreatif dan progresif tetap memberikan inspirasi bagi umat Islam hingga hari ini. Ijtihad sebagai alat untuk menyesuaikan Islam dengan zaman masih menjadi pemikiran yang relevan. Iqbal juga mendorong umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi individu yang dinamis dan berpikiran kritis. 

Comments