Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Malu beserta Hadits, Macam-Macam dan Manfaatnya

Malu merupakan nilai yang memiliki peranan penting dalam ajaran Islam. Konsep ini tidak hanya sebagai pangkal moralitas, melainkan juga sebagai pendorong untuk berbuat baik dan menjauhi tindakan buruk. Dalam Islam, malu bukanlah sekadar rasa tidak nyaman, tetapi memiliki arti yang mendalam dalam membentuk karakter dan perilaku.

Dibawah ini akan dipaparkan tentang pengertian malu, hadits, macam-macamnya, serta manfaat besar yang terkandung di dalamnya.

A. Pengertian Malu
Malu dalam bahasa Arab disebut kata al-haya’. Malu disebutkan oleh Nabi Saw sebagai cabang dari iman karena dengan sifat malu seseorang dapat tergerak melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Sifat malu akan selalu mengantarkan seseorang pada kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak berani melakukan kebaikan, maka sebabnya bukanlah sifat malu yang dimilikinya, tetapi itu disebabkan sifat penakut dan kelemahan yang dimiliki seseorang tersebut.

Jadi, malu adalah perasaan merasa tidak nyaman atau cemas terhadap tindakan atau perilaku yang bertentangan dengan norma-norma moral dan agama.

B. Hadits tentang Malu


Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar: suatu saat Nabi saw bertemu seorang laki-laki yang mencela saudaranya yang pemalu. Bahkan lelaki tersebut mengatakan rasa malu telah membahayakanmu. Maka Rasulullah bersabda: berhentilah kamu mencela saudaramu, karena malu adalah bagian dari iman. (H.R. Al-Bukhari).

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad Saw. menegur seorang laki-laki yang sedang mencela sifat malu yang dimiliki saudaranya. Sifat malu dalam hadis tersebut adalah bagian dari cabang iman. Mengapa? Karena sifat malu dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang dilarang agama (Badruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad al-‘Aini dalam Kitab ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari juz 1).

Lebih lanjut tentang malu ini, Nabi Muhammad Saw. menjelaskan pula dalam hadisnya:


Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah saw bersabda: “Malulah pada Allah dengan sebenarnya.” Berkata Ibnu Mas’ud: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kami malu, alhamdulillah. Beliau bersabda: “Bukan itu, tetapi malu kepada Allah dengan sebenarnya adalah kau menjaga kepala dan apa yang dipahami dan perut beserta isinya, mengingat kematian dan segala kemusnahan, barangsiapa menginginkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukannya, ia malu kepada Allah dengan sebenarnya.” (H.R. Al-Tirmidzi).

C. Macam-Macam Malu
Menurut Ibnu Hajar penulis kitab Fath al-Bari, malu dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Malu naluri (gharizah) yakni sifat malu yang Allah ciptakan pada diri hamba sehingga mengantarkan hamba tersebut melakukan kebaikan dan menghindari keburukan serta memotivasi untuk berbuat yang indah. Inilah yang termasuk cabang dari iman, karena bisa menjadi perantara menaiki derajat iman.
  2. Malu yang dicari/dilatih (muktasab). Sifat malu ini adakalanya bagian dari iman, seperti rasa malu sebagai hamba di hadapan Allah pada hari kiamat, sehingga menjadikannya mempersiapkan bekal untuk menemui Allah di akhirat nanti. Adakalanya juga malu ini bagian dari ihsan, seperti malunya hamba karena adanya rasa taqarrub atau merasa selalu dalam pengawasan Allah, inilah puncak dari macam-macam cabang iman.

Dengan demikian, sifat malu sangat penting dimiliki oleh setiap manusia, karena dapat menjadi perantara meningkatkan keimanan sampai pada puncaknya. Supian Sauri (2019) menegaskan bahwa manusia yang memiliki sifat malu (haya’) ialah manusia yang mampu untuk menahan dan menutup diri dari hal-hal yang akan dapat mendatangkan aib atau keburukan pada dirinya. Jika pada masa sekarang ini banyak perilaku buruk yang muncul dari umat beragama, seperti pencurian, penipuan, bahkan kasus korupsi, maka itu tidak lain karena sudah menipisnya rasa malu dari seorang hamba tersebut.

D. Manfaat Malu
Manfaat malu dalam Islam sangat penting karena memiliki peran yang besar dalam membentuk perilaku dan moral seseorang. Malu, atau "al-haya'" dalam bahasa Arab, adalah sifat internal yang membuat kita merasa tidak nyaman melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma-norma moral. Ada beberapa manfaat utama dari sifat malu dalam pandangan Islam, yaitu:
  1. Membantu kita menghindari perilaku buruk atau dosa-dosa. Ketika kita merasa malu, kita cenderung tidak akan melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. Contohnya, seseorang yang merasa malu cenderung akan menjauhi perilaku seperti berbohong, mencuri, atau berbuat curang.
  2. Mendorong kita untuk melakukan kebaikan. Sifat malu membuat kita lebih termotivasi untuk membantu orang lain, berbuat baik, dan mematuhi ajaran agama. Ketika kita merasa malu akan akibat dari tindakan kita, kita akan lebih berusaha untuk memilih jalan yang benar.
  3. Malu kepada Allah Swt. mendorong kesadaran spiritual yang lebih dalam. Merasa malu di hadapan Allah Swt. membuat kita lebih berhati-hati dengan perbuatan kita, karena kita menyadari bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Ini membantu kita menjaga hubungan yang kuat dengan-Nya.
  4. Membantu membentuk akhlak yang baik. Ketika kita merasa malu melakukan hal-hal yang tidak senonoh atau tidak pantas, kita cenderung mengembangkan akhlak yang mulia seperti kesopanan, rasa hormat, dan kesederhanaan.
  5. Meningkatkan Keimanan. Sifat malu adalah bagian dari iman dalam Islam. Dengan mempraktikkan malu, iman kita semakin diperkuat. Kita menjadi lebih sadar tentang nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah, yang pada gilirannya meningkatkan keimanan kita.
  6. Malu membantu menciptakan lingkungan sosial yang baik. Ketika seseorang dalam masyarakat memiliki sifat malu, mereka akan lebih berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang bermoral, saling menghormati, dan berusaha untuk kebaikan bersama.

Dengan begitu, malu dalam Islam tidak hanya menjadi hambatan untuk perbuatan negatif, tetapi juga menjadi fondasi bagi perbuatan baik dan kemajuan spiritual. Sifat malu mendorong kita untuk senantiasa mempertahankan kesucian hati, menguatkan keimanan, dan menjaga integritas moral. Dalam dunia yang semakin kompleks, nilai-nilai seperti malu memiliki peran yang semakin penting untuk membangun masyarakat yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, kita perlu memahami, menghayati serta menerapkan konsep malu dalam dalam kehidupan sehari-hari, agar kita dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama kita.