Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Definisi Perkelahian dan Tawuran Pelajar serta Faktor Penyebabnya

Dalam Islam, perkelahian dan tawuran pelajar memiliki implikasi serius terhadap perilaku dan harmoni masyarakat. Islam mengajarkan nilai-nilai kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang, yang seharusnya membimbing perilaku pelajar dalam mengatasi konflik dengan cara yang lebih baik.

Perkelahian antarpelajar, meskipun terjadi dalam dunia yang seringkali penuh tantangan, tidak dianggap sebagai tindakan yang terpuji dalam ajaran Islam.

A. Definisi Perkelahian dan Tawuran Pelajar

Perkelahian antarpelajar atau remaja adalah tindakan kekerasan atau aksi agresif yang dilakukan oleh sekelompok pelajar terhadap kelompok pelajar lainnya.

Mereka berusaha mengalahkan atau melemahkan pihak lawan dengan cara merusak atau membuat mereka tidak bisa melawan.

Jadi, bisa kita bayangkan seperti adu fisik atau pukulan antara kelompok pelajar yang berbeda.

Sementara itu, tawuran pelajar adalah istilah untuk menggambarkan perkelahian yang melibatkan banyak pelajar atau sekelompok orang yang saat itu masih berstatus sebagai pelajar. Hal ini berarti bahwa beberapa pelajar atau remaja dari satu kelompok bertemu dengan pelajar atau remaja dari kelompok lain dan terlibat dalam konfrontasi fisik atau benturan.

Secara psikologis, tindakan perkelahian seperti ini sering dianggap sebagai bentuk kenakalan remaja. Artinya, perilaku tersebut merupakan tindakan yang tidak baik dan bisa merugikan baik bagi pelajar itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Jadi, perkelahian pelajar adalah ketika kelompok pelajar saling berhadapan dalam aksi kekerasan atau agresi, sedangkan tawuran pelajar adalah perkelahian yang melibatkan banyak pelajar atau pelajar dari kelompok yang berbeda, dan tindakan seperti ini termasuk dalam kategori kenakalan remaja.

B. Faktor Penting Adanya Perkelahian Pelajar

Faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi terjadinya perkelahian antar pelajar adalah sebagai berikut:

1. Pilihan Rasional (Rational Choice), yaitu perkelahian pelajar terjadi karena faktor individu, seperti motivasi, pilihan, dan keinginan mereka sendiri. Misalnya, ada anak nakal yang akhirnya ditempatkan di pesantren agar bisa memperkuat imannya dan menghindari perilaku nakal.

2. Gangguan Sosial (Social Disorganization), yaitu faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perkelahian pelajar. Jika pranata budaya yang selama ini menjaga harmoni sosial berkurang atau hilang, lingkungan bisa menjadi tidak stabil. Misalnya, orang tua yang terlalu sibuk dan kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, atau guru yang memberikan tekanan tanpa bimbingan yang memadai.

3. Tekanan (Strain), yaitu adanya tekanan dari masyarakat. Misalnya, ketidaksetaraan ekonomi antara yang kaya dan miskin bisa menciptakan frustrasi di kalangan pelajar. Ada yang merasa tertekan oleh kenyataan bahwa beberapa orang kaya terlalu memamerkan kekayaan mereka.

4. Asosiasi yang Berbeda (Differential Association), yaitu pergaulan pelajar yang bergaul dengan teman-teman yang memiliki perilaku buruk, seperti suka tawuran, bolos sekolah, atau mencuri. Dalam pergaulan seperti itu, perilaku negatif menjadi lebih umum dan diterima.

5. Labeling (Labelling), yaitu faktor ini berkaitan dengan bagaimana pelajar dilihat oleh orang lain. Jika seorang pelajar sering dicap sebagai nakal, dia bisa merasa tertekan dan akhirnya bertindak sesuai dengan label yang diberikan padanya.

6. Persepsi Gender (Male Phenomenon), yaitu adanya perbedaan dalam perilaku antara anak laki-laki dan perempuan. Kadang-kadang budaya maskulinitas atau anggapan bahwa anak laki-laki lebih nakal bisa memengaruhi perilaku mereka.

Demikianlah penjelasan definisi perkelahian dan tawuran pelajar serta faktor penting penyebab adanya perkelahian pelajar. Oleh karena itu, perlu bagi pelajar untuk merenungkan ajaran Islam dalam konteks perkelahian dan tawuran. Melalui pemahaman agama, pelajar diingatkan untuk mengendalikan emosi, menjauhi perilaku agresif, dan mencari jalan damai dalam menyelesaikan konflik. Dalam menghadapi tekanan lingkungan, pergaulan negatif, atau perlakuan labeling, ajaran Islam mengajarkan untuk tetap teguh dalam prinsip-prinsip kebaikan dan tidak terjebak dalam perilaku yang merugikan.

Dengan memahami dan menerapkan ajaran Islam, pelajar dapat membantu mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih aman, harmonis, dan penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Ini akan memberikan dampak positif dalam membentuk karakter pelajar yang tangguh, peduli terhadap sesama, dan berkomitmen untuk menjaga kedamaian dan persatuan dalam masyarakat.