Cara Mencegah Perilaku Menyimpang Terhadap Pelajar dan Penanganannya


Dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan, tantangan perilaku menyimpang di kalangan pelajar menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Terutama perkelahian pelajar, fenomena yang mengundang keprihatinan dan menimbulkan dampak serius pada lingkungan belajar.

Kita perlu merespons dengan serius, mengenali penyebab, dan mencari solusi yang efektif guna mengatasi perilaku menyimpang ini sejak dini.

A. Cara Mencegah Perilaku Menyimpang Terhadap Pelajar

Berikut beberapa cara mencegah perilaku menyimpang khususnya bagi Pelajar, yaitu: 

1. Beri kesempatan yang banyak agar pelajar dapat mengembangkan segala minat, bakat dan potensinya, sehingga optimal menemukan jati dirinya dan orientasi hidup yang dituju, serta wujudkan kondisi sekitar yang sehat, aman dan tenteram.

2. Wujudkan kehidupan keluarga yang harmonis. Hubungan antar keluarga berjalan baik. Jaga betul keutuhan dan ketenteraman di antara keluarga. Begitu juga, jika anak berada dalam asrama atau tempat tertentu.

3. Setiap anak itu unik, bahkan yang lahir kembar sekalipun. Karena itu, jangan membiasakan menyamaratakan potensi anak, meski dengan saudaranya sendiri, justru itu menjadi pemicu iri hati. Jika akan mengambil keputusan, bentangkan segala alternatif yang ada, lalu suruh yang bersangkutan memilih atas kesadaran sendiri. Itu jalan terbaik dan tepat yang perlu dilakukan.

4. Di samping faktor keluarga, pengembangan pribadi yang optimal melalui pendidikan di sekolah, memiliki pengaruh yang besar. Melalui pendidikan yang baik, anak akan mampu mengontrol gejolak jiwanya, sehingga tidak melampiaskan ke hal-hal yang tidak perlu.

5. Bentuk perkembangan pelajar di lingkungan sekolah dengan baik. Sebab, sekolah berfungsi sebagai sarana pendidikan, bimbingan dan sebagai tempat perlindungan, jika ada problema yang muncul. Itulah pentingnya Guru BP dan guru senior yang memiliki banyak pengalaman hidup, sehingga dapat ditransformasikan ke dalam jiwa anak yang menghadapi masalah.

6. Pentingnya membentuk banyak organisasi atau lembaga yang mewadahi aktivitas pelajar atau anak, baik di lingkup sekolah (misalnya OSIS dengan segala sub-unitnya) maupun di lingkungan tempat tinggal sang pelajar, seperti: Karang Taruna, Majelis Ta’lim Remaja, Kelompok Belajar dan semacamnya.

7. Melakukan usaha untuk meningkatkan kemampuan pelajar atau remaja di bidang tertentu sesuai minat dan bakat masing-masing, sehingga semakin tumbuh kepercayaan dirinya, karena di mata teman-temannya dia memiliki skill dan keterampilan yang memadai. Tidak seperti di kebanyakan sekolah yang orientasinya hanya nilai, angka rapot bagus, atau berapa rangkingnya.

B. Penanganan Pelajar yang Menyimpang

Berikut 5 penanganan terhadap pelajar yang menyimpang, yaitu: 

1. Kepercayaan. Sang pelajar harus memiliki kepercayaan kepada pihak-pihak yang mau membantunya (wali kelas, guru BP, guru agama, dan lainnya). Mereka para pelajar yakin akan ditolong dan tidak akan dibohongi. Jika pelajar itu lebih memilih ‘pihak luar’, ya tidak apa-apa, karena biasanya ‘pihak dalam’ ada kepentingan lain atau tidak tulus untuk menolongnya.

2. Kemurnian Hati. Pelajar itu sudah percaya bahwa penanganan ini tidak bersyarat. Buat pelajar atau remaja, urusan membantu, ya membantu saja. Tidak perlu ditambahi, “tetapi tetapi”. Sebab itu, pelajar lebih mempercayai teman-temannya sendiri, jika menghadapi problema, meski terkadang nasehatnya tidak utuh dan solusinya bersifat parsial atau sepotong-potong.  

3. Kemampuan mengerti dan menghayati (empathy) perasaan pelajar atau remaja. Disebabkan posisi yang berbeda antara anak (pelajar) dengan orang dewasa (orang tua, guru), sulit bagi orang dewasa berempati kepada pelajar, karena kepentingan yang susah dikalahkan. Biasanya orang dewasa merasa lebih unggul dan kurang menghargai posisi pelajar.

4. Kejujuran. Ini penting dilakukan, karena sang pelajar ingin keterbukaan, termasuk sanksi yang diterima, meskipun tidak menyenangkan. Katakan yang benar itu benar. Sebaliknya, yang salah itu salah. Jangan sampai terjadi, ini salah bagi pelajar, sementara bagi orang dewasa itu benar. Jika ini yang terjadi, maka runtuhlah kepercayaan pelajar kepada orang dewasa.

5. Mengutamakan persepsi pelajar sendiri. Pelajar itu akan memandang persoalan dari sudut pandangnya sendiri. Terlepas dari kenyataan yang ada, sang pelajar akan bereaksi sesuai sudut pandangnya sendiri. Karena itu, kemampuan untuk memahami pandangan pelajar, sangat berarti untuk membangun empati terhadap pelajar atau remaja.

Dalam menjaga masa depan pelajar, langkah pencegahan dan penanganan terhadap perilaku menyimpang memiliki peranan besar. Melalui dukungan lingkungan keluarga, pendidikan yang baik, dan panduan dari para pengajar, kita dapat membentuk karakter pelajar yang tangguh, bijaksana, dan harmonis. Dengan demikian, kita berinvestasi pada generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjaga kedamaian dan membangun masyarakat yang lebih baik.

Comments