Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rancanglah Pengalaman Belajar yang Terdiri Dari Kegiatan Pendahuluan, Inti dan Penutup dengan Memanfaatkan Potensi Lingkungan Dengan Tepat dengan Alokasi Waktu 2 Jam Pembelajaran (70 menit)

Pak Roni mengajar kelas rangkap di kelas II dengan muatan pelajaran Bahasa Indonesia dan kelas III dengan muatan pelajaran PPKn.

Kompetensi Dasar (KD) Bahasa Indonesia adalah “Menentukan kata sapaan dalam dongeng secara lisan dan tulis”. Sedangkan KD PPKn adalah “Mengidentifikasi kewajiban dan hak sebagai anggota keluarga”

Berikut merupakan indikator dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan:

Indikator Bahasa Indonesia:
− Memahami kata sapaan
− Memahami ciri-ciri kata sapaan

Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia:
− Siswa dapat memahami kata sapaan
− Siswa dapat memahami ciri-ciri kata sapaan

Indikator PPKn:
− Mengenal kewajiban sebagai anggota keluarga
− Mengenal hak sebagai anggota keluarga

Tujuan Pembelajaran PPKn:
− Siswa dapat mengenal kewajiban sebagai anggota keluarga
− Siswa dapat mengenal hak sebagai anggota keluarga

Berdasarkan rancangan pembelajaran Pak Roni: Rancanglah pengalaman belajar yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti dan penutup dengan memanfaatkan potensi lingkungan dengan tepat dengan alokasi waktu 2 jam pembelajaran (70 menit)
Simak penjelasan dan jawaban berikut.

Pak Roni adalah seorang guru yang mengajar di kelas II dan kelas III. Di kelas II, dia mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan di kelas III, dia mengajar pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, ada dua Kompetensi Dasar (KD) yang harus dipenuhi. KD pertama adalah "Menentukan kata sapaan dalam dongeng secara lisan dan tulis". Artinya, siswa harus bisa mengerti apa itu kata sapaan dan mengenali kata sapaan dalam dongeng. KD kedua adalah "Memahami ciri-ciri kata sapaan". Di sini, siswa harus memahami karakteristik atau ciri-ciri kata sapaan.

Tujuan dari pembelajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa dapat memahami kata sapaan dan ciri-ciri kata sapaan. Dengan kata lain, mereka harus bisa mengerti apa itu kata sapaan dan mengenal karakteristik kata sapaan.

Sementara, dalam pelajaran PPKn ada juga dua Indikator yang harus diperhatikan. Indikator pertama adalah "Mengenal kewajiban sebagai anggota keluarga". Artinya, siswa harus tahu apa saja kewajiban mereka sebagai anggota keluarga. Indikator kedua adalah "Mengenal hak sebagai anggota keluarga". Di sini, siswa harus mengerti apa hak-hak mereka sebagai anggota keluarga.

Tujuan dari pembelajaran PPKn adalah agar siswa dapat mengenal kewajiban dan hak mereka sebagai anggota keluarga. Mereka harus tahu apa saja kewajiban yang harus mereka penuhi dan apa hak-hak yang mereka miliki sebagai anggota keluarga.

Dengan rancangan pembelajaran Pak Roni, kita dapat merancang pengalaman belajar yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Selain itu, kita juga harus memanfaatkan potensi lingkungan dengan baik. Waktu yang dialokasikan untuk pembelajaran ini adalah 2 jam atau sekitar 70 menit.

Dalam kegiatan pendahuluan, Pak Roni dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang kata sapaan dalam dongeng. Dia juga bisa menggunakan contoh-contoh dongeng yang mengandung kata sapaan untuk memberikan pemahaman awal kepada siswa.

Setelah itu, dalam kegiatan inti, Pak Roni dapat memberikan penjelasan lebih mendalam tentang kata sapaan dan ciri-cirinya. Dia bisa menggunakan contoh-contoh nyata dan mengajak siswa untuk mengidentifikasi kata sapaan dalam teks atau cerita yang diberikan. Selain itu, dia juga dapat memanfaatkan buku teks atau materi pembelajaran interaktif untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.

Dalam kegiatan penutup, Pak Roni dapat mengadakan diskusi kelompok atau tanya jawab singkat untuk menguji pemahaman siswa tentang kata sapaan dan ciri-cirinya. Dia juga dapat memberikan tugas individu kepada siswa untuk mengidentifikasi kata sapaan dalam dongeng atau membuat daftar kewajiban dan hak mereka sebagai anggota keluarga.

Pak Roni juga dapat memanfaatkan potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Misalnya, dia bisa mengajak siswa untuk mengamati dan mengidentifikasi kata sapaan dalam lingkungan sekitar seperti di sekolah atau di rumah. Dia juga bisa memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan wawancara dengan anggota keluarga tentang kewajiban dan hak mereka.