Rangkuman Tema 02 Sosiologi: Individu dan Masyarakat – IPS Kelas 10 Kurikulum Merdeka


Sosiologi: Individu dan Masyarakat adalah Tema 02 buku Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas X SMA/SMK Kurikulum Merdeka.

Adapun materi Tema 02 Sosiologi: Individu dan Masyarakat ini adalah:
  1. Paradigma Fakta Sosial
  2. Paradigma Definisi sosial
  3. Paradigma Perilaku sosial
  4. Penelitian Sosial
  5. Metode Penelitian
  6. Sumber penelitian
  7. Etika Penelitian
  8. Interaksi Sosial
  9. Identitas Sosial
  10. Proses Lembaga Sosial: dari Norma menjadi Lembaga Sosial
  11. Jenis dan Fungsi Lembaga Sosial
  12. Tertib Sosial dan Penyimpangan Sosial
  13. Heterogenitas Sosial: Pelapisan Sosial dan Diferensiasi Sosial

Setelah mempelajari Tema 02 ini, peserta didik diharapkan mampu:
  • Menyebutkan beberapa konsep sosiologi dan manfaat belajar sosiologi
  • Menjelaskan beberapa paradigma dalam sosiologi dan cara belajar sosiologi.
  • Menggunakan teori yang dipelajari guna melakukan pengamatan berbagai gejala sosial sehari-hari.
  • Mengidentifikasi berbagai gejala sosial dalam kehidupan sehari-hari dari konsep/teori yang telah dipelajari.
  • Menyimpulkan beberapa materi yang telah dipelajari.
  • Membuat dan mempresentasikan laporan penelitian sosial secara sederhana dalam berbagai bentuk laporan tugas.
  • Berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila dalam menyikapi keberagaman masyarakat Indonesia.

Berikut adalah rangkuman Tema 02 Sosiologi: Individu dan Masyarakat dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka:

Menurut Auguste Comte, istilah sosiologi berasal dari gabungan bahasa Romawi (socious) berarti kawan dan bahasa Yunani (logos) berarti bicara. Berdasarkan dua kata tersebut, sosiologi dapat diartikan “berbicara mengenai masyarakat”.

Sebagai ilmu yang berusaha menjelaskan berbagai fenomena sosial, sosiologi memiliki beberapa sifat yaitu:
  1. Empiris. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menghasilkan teori dan temuan melalui penelitian ilmiah baik dengan pengamatan, wawancara, dan analisa secara ilmiah atas fakta-fakta sosial, bukan berdasarkan asumsi ataupun dugaan. Hasil penelitian sosiologi berdasarkan data.
  2. Teoritis. Sosiologi berusaha menyusun temuan dan kesimpulan, menjelaskan tentang hubungan sebab-akibat, korelasi antar berbagai variabel atau faktor melalui penelitian ilmiah.
  3. Kumulatif. Teori dalam sosiologi senantiasa berkembang dan dinamis sesuai dengan dinamika masyarakat. Bahkan teori yang sudah ada dikaji ulang untuk mengetahui apakah masih relevan.
  4. Non Etis. Sosiologi bukan ilmu yang mempersoalkan tentang benar dan salah, atau baik dan buruk, tetapi berusaha menjelaskan dan mengungkapkan berbagai gejala ataupun masalah sosial.

Definisi sosiologi menurut para ahli, adalah sebagai berikut:
  • Sosiologi menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
  • Sosiologi menurut Roucek dan Warren adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.
  • Sosiologi menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt  adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Bagi Horton dan Hunt (1987), masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam jangka waktu yang cukup lama, mendiami suatu wilayah yang sama, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut.

Berbagai cabang dalam sosiologi yang mempelajari suatu fenomena sosial secara lebih khusus yaitu sosiologi agama, sosiologi politik, sosiologi pendidikan, sosiologi hukum, sosiologi konflik, sosiologi pedesaan, sosiologi keluarga, sosiologi kedokteran, sosiologi industry, sosiologi budaya dan masih banyak lagi.

Beberapa fokus kajian sosiologi dalam mempelajari berbagai fenomena sosial adalah sebagai berikut:
  1. Interaksi sosial dan tindakan sosial
  2. Sosialisasi
  3. Kelompok sosial
  4. Hubungan antarkelompok
  5. Penduduk
  6. Komformitas dan penyimpangan
  7. Perilaku kolektif dan gerakan sosial
  8. Perubahan sosial
  9. Kajian perempuan dan gender
  10. Norma dan lembaga sosial
  11. Kebudayaan
  12. Struktur sosial
  13. Kesejahteraan dan kemiskinan

Hubungan antar kelompok dalam sosiologi berupaya menjelaskan hubungan antara dua kelompok atau lebih yang memiliki ciri khusus. Pengelompokan masyarakat menurut Kinloch (1979) mengacu dari beberapa kriteria, seperti:
  • Kriteria fisik yaitu berdasarkan jenis kelamin, usia (tua-muda), dan ras.
  • Pengelompokan sosial berdasarkan kriteria kebudayaan yaitu suku dan agama.
  • Kriteria ekonomi yaitu mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi dan tidak memiliki kekuasaan atas ekonomi. Contohnya, golongan kaya (pengusaha), golongan miskin (buruh).
  • Kriteria berdasarkan perilaku, yaitu mereka yang memiliki perilaku yang mirip (minat yang sama), misalnya kelompok pecinta binatang, kelompok pesepeda dan lain-lain.

Seorang sosiolog berkebangsaan Amerika Serikat, George Ritzer, pada tahun 1975 menuliskan sebuah buku yang berjudul Sosiology: A Multiple Paradigm Science. Berdasarkan pemikiran Ritzer dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan memiliki dan menggunakan berbagai paradigma (kerangka atau cara berpikir) yang melahirkan banyak perspektif dan teori untuk menganalisis berbagai kajian sosiologi dalam rangka membantu memahami kehidupan sosial.

Ritzer (1975) membagi tiga paradigma utama yang berasal dari berbagai gagasan para sosiolog, filsuf dan ilmuwan sosial sebagai berikut:

1. Paradigma Fakta Sosial
Paradigma fakta sosial dipengaruhi oleh para sosiolog seperti Emile Durkheim, Karl Marx, Talcott Parsons dan masih banyak lagi. Menurut paradigma ini, fokus kajian sosiologi adalah fakta sosial, baik dalam bentuk bendawi (ragawi, material) maupun tidak berbenda (non-material) seperti ide ataupun gagasan. Berdasarkan paradigma ini norma, aturan, pemerintahan, peran sosial, status sosial, kelas sosial merupakan fakta sosial.

2. Paradigma Definisi sosial
Paradigma definisi sosial dipengaruhi oleh para sosiolog seperti Max Weber, George Herbert Mead, Herbert Blumer dan masih banyak lagi. Beberapa teori utama yang lahir dari paradigma ini adalah interaksionisme simbolik, tindakan sosial dan fenomenologi. Paradigma definisi sosial menurut Max Weber, berusaha memahami dan menafsirkan mengapa individu melakukan tindakan sosial dan makna dari tindakan tersebut.

3. Paradigma Perilaku sosial
Berbeda dari dua paradigma sebelumnya, paradigma perilaku sosial menekankan kajiannya pada proses individu dalam melakukan hubungan sosial di lingkungannya. Cara individu beradaptasi dalam proses interaksi sehingga memengaruhi perilaku sosial menjadi penekanan pada paradigma ini. Paradigma perilaku sosial dipengaruhi oleh sosiolog B. F Skiner, George Hoffman dan masih banyak lagi. Terdapat dua teori yang berpengaruh pada paradigma ini yaitu teori perilaku sosiologi dan teori exchange (pertukaran).

Sebagai ilmu yang empiris, temuan dan pendapat kalian harus berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang menerapkan metode ilmiah. Sebagai ilmu yang kumulatif, sosiologi harus selalu melakukan penelitian sosial. Mengapa belajar sosiologi harus melakukan penelitian sosial? Penelitian sosial yang dilakukan para sosiolog bertujuan mengumpulkan data dan menemukan fakta baru untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Pendekatan dan cara untuk melakukan penelitian sosial secara umum terbagi menjadi tiga metode yaitu:
a. Metode Penelitian Kuantitatif
John W. Creswell dalam bukunya yang berjudul Desain Riset: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran (2017:4-5), menjelaskan bahwa penelitian metode kuantitatif adalah metode penelitian yang menguji teori tertentu dan mencari data penelitian dengan cara meneliti hubungan antarvariabel. Berbagai variabel itu diukur secara matematis dan statistik sehingga data yang berbentuk angka-angka dianalisis berdasarkan prosedur statistika.

Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif
Langkah Pertama
Menentukan topik riset, misalnya topik tentang kebiasaan merokok di kalangan pelajar

Langkah Kedua
Mencari informasi dari berbagai sumber, baik buku maupun penelitian sebelumnya, tentang topik yang hendak diteliti

Langkah Ketiga
Membuat rumusan masalah dengan menyusun pertanyaan penelitian seperti contoh di bawah ini
  • Mengapa pelajar merokok?
  • Faktor apa saja yang paling memengaruhi kebiasaan merokok pelajar?
Langkah Keempat
Menentukan metode penelitian yang hendak dipakai, misalnya dengan metode kuantitatif. Ciri khas dari metode ini adalah melakukan pengukuran, pengujian hubungan antarvariabel.

Langkah Kelima
Melakukan survei dengan memberikan angket, kuesioner kepada responden. Penelitian survei dapat dilakukan secara langsung atau secara daring.

Langkah Keenam
Mengolah data dan analisis data penelitian. Setelah data terkumpul, kemudian melakukan analisis data penelitian dengan mengukur hubungan antar variabel dari angket yang telah dijawab responden.

Langkah Ketujuh
Membuat laporan penelitian, apa saja temuan dari penelitian sesuai dengan pertanyaan penelitian. Dalam proses penulisan laporan, kita dapat menggunakan berbagai teori untuk menjelaskan dan menguatkan argumen yang terkait dengan topik riset.

Langkah Kedelapan
Setelah membuat analisis dan menuliskan hasil penelitian, kemudian membuat kesimpulan dan rekomendasi.

b. Metode Penelitian Kualitatif
Metode ini mengeksplorasi dan memahami makna, simbol, motivasi, pengalaman individu yang menjadi subyek penelitian. Metode penelitian kualitatif mengutamakan kualitas data. Bentuk data dari metode kualitatif adalah pernyataan, pendapat, serta gambaran (deskripsi) dari subyek penelitian. Teknik pengumpulan data pada metode kualitatif diperoleh melalui pengamatan (observasi) dan wawancara dengan subyek penelitian.

Langkah-Langkah Penelitian Kualitatif

Langkah Pertama
Menentukan minat riset, topik apa yang menarik untuk diteliti? Contoh: Motivasi pelajar berprestasi

Langkah Kedua
Membaca dari berbagai sumber dan hasil penelitian sebelumnya
terkait dengan topik yang hendak diteliti.

Langkah Ketiga
Membuat rumusan masalah dengan menyusun pertanyaan penelitian, misalnya: Mengapa pelajar termotivasi untuk ber- prestasi?

Langkah Keempat
Menentukan metode penelitian, yaitu dengan metode kualitatif, menyusun rencana pengumpulan data dengan melakukan pengamatan (observasi) dan wawancara dengan subyek penelitian yaitu pelajar yang dianggap berprestasi.

Hal yang mesti dilakukan sebelum melakukan wawancara adalah membuat daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada subyek penelitian. Hal ini dilakukan agar wawancara yang dilakukan fokus pada data yang hendak digali.

Langkah Kelima
Melakukan pengamatan (observasi) proses belajar dan melakukan wawancara dengan subyek penelitian.

Sebelum melakukan penelitian, kita wajib membuat surat izin penelitian dan meminta kesediaan subyek penelitian untuk terlibat dalam proses pengambilan data. Ini merupakan hal penting dalam etika penelitian.

Langkah Keenam
Mengolah data dan analisis data. Khusus untuk metode kualitatif dapat menggunakan berbagai cara.  Berdasarkan Miles dan Huberman (1992), langkah-langkah untuk melakukan analisis data dimulai dengan pengumpulan data, mereduksi data (mengurangi/memilah data yang dianggap tidak relevan), penyajian data berupa pendapat, pengalaman dari subyek penelitian yang menjawab pertanyaan penelitian, dan penarikan kesimpulan.

Langkah Ketujuh
Menyusun laporan penelitian dengan menyajikan temuan penelitian dan menjelaskan temuan dengan teori yang relevan. Misalnya teori perilaku sosial atau teori tindakan sosial dari Max Weber untuk menjelaskan motivasi pelajar sehingga dapat berprestasi.

Langkah Kedelapan
Menuliskan kesimpulan dan rekomendasi. Rekomendasi da- pat berupa penelitian selanjutnya yang dapat dilakukan oleh pembaca. Hal ini dilakukan karena setiap penelitian memiliki keterbatasan.

c. Metode Penelitian Campuran
Metode penelitian campuran (mixed methods) adalah campuran antara metode kuantitatif dan metode kualitatif. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data dan temuan yang komprehensif karena masing-masing metode penelitian memiliki kelemahan dan kelebihan. Biasanya peneliti menggunakan metode penelitian campuran untuk menguatkan data- datanya, baik yang berupa angka maupun pernyataan subyek penelitian.

Teknik pengumpulan data dari metode campuran adalah dengan penelitian survei, melakukan pengamatan (observasi), dan wawancara. Analisis data dari metode ini juga menggabungkan kedua metode penelitian tersebut.

Sumber penelitian adalah rujukan yang berupa data dan informasi yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Adapun data primer adalah informasi yang didapat dari hasil wawancara, pengamatan, dan survei yang diperoleh secara langsung dari subyek penelitian. Sedangkan data sekunder, biasanya disebut sebagai data  pendukung  yang  diperoleh dari berbagai sumber, misalnya data statistik, informasi, atau data dari penelitian sebelumnya, dokumen, foto, video, laporan, dan bentuk-bentuk lainnya.

Etika Penelitian yaitu aturan yang seharusnya dilakukan selama proses kegiatan hingga pelaporan penelitian.

Etika penelitian meliputi: integritas bahwa penelitian yang kalian lakukan bukan hasil plagiasi (menjiplak) karya orang lain serta mencantumkan berbagai sumber informasi baik dari buku, internet, jurnal, laporan penelitian sebelumnya, dan lain-lain.

Tindakan sosial adalah tindakan yang mengandung makna ketika individu berhubungan dengan individu lain di mana hasil tindakan tersebut memengaruhi perilaku orang lain.

Max Weber membedakan empat tipe tindakan sosial yang dibedakan
berdasarkan konteks motif para pelakunya, yaitu:
1. Tindakan Rasionalitas Instrumental
Tindakan Rasionalitas Instrumental adalah tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan praktis yang didasarkan pada kesesuaian antara tujuan serta ketersediaan alat yang digunakan untuk mencapainya (berorientasi tujuan).

2. Tindakan Rasional Nilai
Tindakan rasional nilai adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai seperti etika, estetika, moral, dan religi. Tindakan ini tetap dipahami sebagai tindakan rasional karena dilakukan dengan kesadaran. Bedanya, dasar dari tindakan ini adalah nilai-nilai yang diyakini oleh pelaku tindakan sosial tersebut. Contoh dari tindakan jenis ini misalnya berderma. Derma dari sisi ekonomis dipandang sebagai tindakan yang tidak menguntungkan. Namun tindakan ini bukan berangkat dari perhitungan untung rugi. Tetapi tindakan ini dilakukan berdasar nilai-nilai yang diyakini pelakunya tentang kewajiban sesama manusia untuk berbagi.

3. Tindakan Afektif
Tindakan Afektif dilakukan lebih berdasarkan faktor emosi/perasaan, seperti cinta, bahagia, marah, sedih, empati, simpati, kasihan dan sebagainya. Contoh tindakan afektif adalah kebahagiaan seorang ibu atas kelahiran putranya yang sehat dan selamat meski merasakan kesakitan setelah melahirkan.

4. Tindakan Tradisional
Tindakan Tradisional dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan atau lazim dilakukan. Seseorang melakukan tindakan tertentu disebabkan oleh kebiasaan yang diwariskan dari generasi pendahulunya. Tindakan semacam ini tidak dibangun dengan refleksi sadar. Orang melakukannya tanpa mempertanyakan mengapa tindakan tersebut perlu dilakukan.

Menurut Soekanto & Sulistyowati (2017: 58-59), ada empat faktor yang membentuk interaksi sosial, yaitu:
  1. Imitasi, yakni tindakan seseorang meniru orang lain. Imitasi mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai tertentu yang berlaku yang berupa nilai positif dan negatif.
  2. Sugesti, yakni berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau bersikap dan kemudian pandangan tersebut diterima pihak lain.
  3. Identifikasi, yakni kecenderungan-kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi lebih mendalam ketimbang imitasi, dan kepribadian sesorang dapat terbentuk karena faktor ini.
  4. Simpati, yakni suatu proses di mana seseorang merasa tertarik dengan pihak lain. Dalam simpati,  faktor  perasaan  memegang peran penting, meskipun dorongan utama simpati adalah keinginan memahami pihak lain dan bekerja sama dengan orang lain.

Menurut Gillin dan Gillin (1954), ada dua bentuk interaksi sosial, yaitu:
a. Interaksi Sosial Asosiatif
Proses asosiatif yang dimengerti sebagai bentuk proses sosial yang mengarah kepada kerja sama antar pihak. Proses asosiatif terdiri dari kerja sama, akomodasi, dan asimilasi.

b. Interaksi Sosial Disosiatif
Bentuk lain yang berbalik dengan proses asosiatif adalah proses disosiatif. Interaksi ini mengarah kepada pertentangan antara pihak yang terlibat. Bentuk-bentuk proses disosiatif adalah kompetisi, kontravensi, dan konflik.

Definisi lembaga sosial menurut para sosiolog yang dirangkum oleh Soekanto (2009):
  • Horton dan Hunt menjelaskan, lembaga sosial adalah sistem norma un- tuk mencapai tujuan atau kegiatan yang menurut masyarakat penting.
  • Robert Mac Iver dan C.H. Page menyatakan lembaga sosial adalah prosedur atau tata cara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antarmanusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.
  • Koentjaraningrat menjelaskan bahwa pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas- aktivitas untuk memenuhi kebutuhan yang kompleks dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan tingkatan dan daya ikatnya, secara sosiologis terdapat empat norma yaitu:
  1. Cara (usage)
  2. Kebiasaan (folkways)
  3. Tata kelakuan (mores)
  4. Adat istiadat (custom)

Ada dua alasan mengapa terdapat sistem pengendalian sosial, yaitu:
  1. Pengendalian sosial sebagai bentuk preventif (pencegahan) agar tidak dilanggar, tidak diulang dan tidak ditiru oleh individu lainnya.
  2. Pengendalian sosial dapat dianggap sebagai represif (tekanan) yang dirasakan oleh individu karena mendorong individu untuk mematuhi aturan.

Berbagai jenis dari lembaga sosial yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat yaitu lembaga keluarga, lembaga agama, lembaga politik, lembaga Pendidikan dan lembaga ekonomi. Beberapa penjelasan seperti yang dirangkum oleh Macionis (2008) sebagai berikut: 

1. Lembaga Keluarga
Konsep dasar tentang keluarga dipahami sebagai institusi sosial yang hampir terdapat di berbagai masyarakat, di mana dalam keluarga terdapat individu-individu yang saling bekerja sama, merawat dan melindungi. Keterikatan dalam keluarga biasanya disebut sebagai kekerabatan. Konsep kekerabatan adalah ikatan sosial berdasarkan nenek moyang, perkawinan ataupun adopsi. Contoh norma dalam lembaga keluarga, adalah UU Pernikahan, aturan mengenai warisan, dan lain-lain.

2. Lembaga Politik
Lembaga politik menurut Macionis (2008) dipahami sebagai institusi sosial yang mendistribusikan kekuasaan, mengatur tujuan masyarakat dan membuat keputusan atau kebijakan. Bentuk dari lembaga politik adalah negara, partai politik dan lain-lain. Contoh norma dalam lembaga politik adalah UU Dasar suatu negara, UU Partai Politik, UU Pemilihan Umum dan lain-lain.

3. Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan menurut Macionis (2008) adalah institusi sosial yang disediakan oleh masyarakat untuk meyiapkan, mendidik anggotanya agar memiliki pengetahuan, ketrampilan akan norma dan nilai sosial budaya suatu masyarakat. Contoh dari lembaga pendidikan adalah sekolah, pondok pesantren, lembaga kursus, lembaga pelatihan dan lain sebagainya.

4. Lembaga Agama
Lembaga agama dalam konsep institusi sosal dipahami sebagai institusi penting yang mengatur kehidupan masyarakat dan bermasyarakat. Agama berkaitan dengan sesuatu yang sakral dan suci, ajaran, dan kepercayaan yang membimbing manusia. Contoh dari lembaga agama yang terdapat di Indonesia adalah lembaga agama Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Agama Konghucu dan lain sebagainya.

5. Lembaga Ekonomi
Lembaga ekonomi menurut Macionis (2008) adalah institusi sosial yang mengatur kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi barang dan jasa. Contoh lembaga ekonomi adalah perusahaan, toko, lembaga keuangan dan lain-lain.

Fungsi lembaga sosial dalam kehidupan masyarakat, yaitu:
  • Fungsi Laten secara sederhana dipahami sebagai fungsi yang tersembunyi yang tidak disadari oleh anggota suatu lembaga sosial. Sebagai contoh, fungsi laten lembaga Pendidikan adalah mengurangi fungsi pengawasan orang tua dikarenakan orang tua telah mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah.
  • Fungsi manifes dapat dipahami sebagai fungsi yang dikehendaki, disadari dan diakui oleh anggota suatu masyarakat. Sebagai contoh, fungsi manifest dari lembaga Pendidikan adalah mencetak dan menyiapkan generasi muda agar terampil dan siap kerja.

Fungsi umum lembaga sosial seperti yang dirangkum oleh
Soekanto (2009:171) adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana mereka berperilaku, menghadapi tantangan atau masalah dan memenuhi kebutuhan.
  2. Menjaga keutuhan masyarakat.
  3. Memberikan pegangan dengan cara melakuan pengendalian sosial.

Terkait dengan sistem pelapisan sosial, berdasarkan Soekanto (2009), terdapat tiga sistem lapisan sosial di suatu masyarakat, yaitu:
  1. Pelapisan sosial terbuka adalah sistem pelapisan masyakarakat yang memberikan kesempatan bagi individu untuk naik atau turun antar lapisan. Sebagai contoh, sistem ini terdapat pada masyarakat yang demokratis, yang membuka kesempatan bagi individu yang memiliki kemampuan untuk dapat memperbaiki posisi sosialnya.
  2. Pelapisan sosial tertutup adalah sistem pelapisan yang tertutup untuk pergerakan naik atau turunnya status sosial individu. Sebagai contoh, pada sistem ini terjadi di masyarakat yang masih menganut sistem kasta dan feodal.
  3. Pelapisan sosial campuran adalah sistem pelapisan yang terbatas untuk pergerakan naik atau turunnya status sosial individu. Sebagai contoh, sistem ini berlaku pada masyarakat yang masih memberikan keterbatasan bagi individu untuk memperbaiki posisi sosial.

Itulah rangkuman atau ringkasan materi Tema 02 Sosiologi: Individu dan Masyarakat. Semoga bermanfaat.