Strategi dan Metode Dakwah Wali Songo Dalam Penyebaran Islam di Nusantara


Dalam mengembangkan peradaban Islam di Nusantara, khususnya di pulau Jawa Wali Songo melakukan upaya-upaya dakwah dengan penuh kedamaian. Pendekatan kepada masyarakat pribumi, dilakukan dengan menggunakan akulturasi dan asimilasi budaya Islam dengan budaya lokal.

Metode ini merupakan metode yang dikembangkan oleh para sufi golongan Sunni yaitu menerapkan ajaran Islam dengan keteladanan yang baik.

Wali Songo berkontribusi besar dalam membentuk masyarakat Islam di Pulau Jawa sangat besar bagi peradaban Islam di Nusantara, yang akhirnya beberapa abad kemudian agama Islam dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa, baik di desa maupun di kota, dari pesisir pantai hingga pegunungan, dan ajaran Islam benar-benar melekat dalam setiap sendi kehidupan masyarakat.

Selain Wali Songo masih banyak tokoh lain yang berperan, namun peranan mereka sangat dominan dan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Sebagai penyebar Islam kepada masyarakat awam yang masih menganut ajaran animisme dan dinamisme, para wali tersebut berusaha dengan berbagai upaya agar masyarakat mengenal Islam.

Beberapa media dan metode yang digunakan oleh Wali Songo dalam berdakwah tentu tidak semuanya bisa relevan dengan konteks perjuangan dan dakwah Islam pada masa kontemporer saat ini.

Namun tentu saja berpijak dari pendekatan dan juga strategi dakwah yang dilakukan oleh para Wali Songo tersebut, dapat diambil pelajaran, bagaimana berdakwah dengan tetap menjunjung nilai-nilai adat, tradisi, kebiasaan dan local wisdom masyarakat setempat, agar dakwah yang dilakukan di era modern seperti saat ini, tetap dapat diterima oleh masyarakat sebagaimana diterimanya cara-cara dakwah Wali Songo pada zamannya.

Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas X SMA/SMK yang diterbitkan Kementerian Agama RI (Kemenag) tahun 2021, berikut beberapa strategi dan metode dakwah yang dilakukan Wali Songo, yaitu:

1. Ceramah
Merupakan strategi dakwah yang dilakukan dengan jumlah jamaah yang cukup banyak. Sampai dengan saat ini, metode ini masih sering dipergunakan oleh para mubaligh, ustadz atau penceramah dalam rangka syiar Islam kepada masyarakat luas.

2. Tanya Jawab - Diskusi
Metode ini tidak saja dilakukan dalam konteks dakwah, namun dalam penyampaian materi di dunia pendidikan pun, masih menggunakan metode ini, karena dirasa masih efektif untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pemikiran orang lain, serta efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai pada seseorang yang terlibat dalam forum diskusi dan tanya jawab tersebut.

Terhadap tokoh-tokoh masyarakat garis keras pun, para wali menerapkan metode diskusi atau musyawarah untuk mencapai sebuah kesepakatan tentang sikap saling toleran dan menghormati satu sama lain dengan baik.

3. Keteladanan
Wali Songo memberikan teladan yang nyata kepada masyarakat. Seorang tokoh agama dan seorang mubaligh harus mampu memberikan teladan, karena masyarakat akan benar-benar secara suka rela mengikuti ajaran yang dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa mulia lahir dan batin, dan layak dijadikan figur panutan oleh mereka

4. Pendidikan
Pesantren-pesantren, pengajian dan juga pengajaran yang dilakukan oleh para Wali Songo merupakan lembaga yang produktif untuk melakukan transfer of knowledge dan transfer of value kepada para santri (murid) yang belajar di dalamnya.

5. Bi’tsah dan Ekspansi
Beberapa Wali Songo menempuh strategi mengirimkan utusan kepada beberapa daerah tertentu untuk melakukan ekspansi dan perluasan syiar Islam. Contoh yang dilakukan oleh Sunan Giri yang mengirimkan utusan sekaligus bertindak sebagai juru dakwah keluar Pulau Jawa yaitu Madura, Bawean, Kangean, Ternate dan Tidore. Hal ini semakin menjadikan akselerasi ketersebaran ajaran Islam di Nusantara terjadi dengan lebih cepat.

6. Kesenian
Kekayaan budaya, bahasa, adat dan kesenian daerah menjadi salah satu metode yang mengalami akulturasi dan asimilasi dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang populer sebagai media dakwah pada masa Wali Songo.

Bagaimana para wali menyisipkan ajaran-ajaran Islam pada kesenian wayang yang semula berisi kisah-kisah Maha Bharata dari India, disisipkan kisah-kisah bernuansa Islami, kesenian gamelan dengan gending-gending Jawa yang syairnya digubah sedemikian rupa dengan syair yang berisi syiar Islam, nilai-nilai tauhid, kerelaan menyembah Allah Swt., tidak menyekutukannya dengan menyembah sesuatu selain dari Allah Swt. dan sebagainya.

Hal tersebut menjadi sarana dakwah yang efektif karena para wali bisa menyisipkan tuntunan Islam melalui tontonan budaya yang sangat ampuh untuk menarik minat dan perhatian masyarakat untuk lebih memperdalam ajaran Islam.

7. Silaturrahim
Para Wali Songo tidak jarang melakukan kunjungan dan silaturahim kepada masyarakat. Menyisipkan pesan damai, ajaran Islam yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, disampaikan dengan akhlak yang baik dan penuh dengan adab dan sopan santun, sehingga membuat masyarakat menjadi tertarik dan terpesona dengan keindahan ajaran Islam yang dibawa oleh para wali tersebut.