Strategi Dakwah Sunan Drajat dalam Penyebaran Islam di Nusantara


Sunan Drajat lahir pada abad ke-15 M, sekitar tahun 1470 M dengan nama asli Raden Qosim atau juga dikenal dengan nama Syarifuddin. Beliu salah satu putra dari Sunan Ampel, dan merupakan saudara dari Sunan Bonang. Sunan Drajat wafat pada tahun 1522 M dan dimakamkan di Desa Drajat, wilayah Lamongan Jawa Timur.

Adapun strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Drajat yaitu dengan cara yang bijak dan halus. Beliau selalu mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak saling menyakiti, hidup rukun dan damai dan jangan sampai terpecah belah.

Selain itu, dalam mengajarkan agama Islam beliau menghindari cara-cara paksaan.

Sunan Drajat berdakwah melalui masjid atau musala, yang dilakukan sekaligus dengan praktik ibadahnya.

Dalam menyampaikan ajarannya Sunan Drajat menggunakan empat cara, yaitu:
  1. Pengajian secara langsung di langar atau musala
  2. Penyelenggaraan pendidikan di pesantren
  3. Memberikan nasihat dan fatwa untuk penyelesaian sebuah masalah
  4. Melalui kesenian tradisional yaitu melalui tembang pangkur (pangudi isine Qur’an/mendalami makna Al-Qur’an) dengan iringan gending gamelan.

Inti dari ajaran Sunan Drajat adalah Catur Piwulang (Empat Pengajaran), yaitu:
  1. Paring teken marang wong kang kalunyon lan wuto (memberikan tongkat kepada orang yang buta)
  2. Paring pangan marang wong kang kaliren (memberi makan kepada orang yang kelaparan)
  3. Paring sandhang marang wong kang kawudan (memberi pakaian kepada orang yang telanjang)
  4. Paring payung marang wong kang kodanan (memberikan payung kepada orang yang kehujanan)

Adapun pesan welas asih dari catur piwulang tersebut kepada umat Islam adalah untuk selalu memberikan pertolongan kepada orang yang mengalami kesulitan, tanpa melihat suku, agama, ras atau golongannya.