Rangkuman BAB 4 Nilai-Nilai Yājña dalam Kitab Ramayana - Kelas 10 Kurikulum Merdeka


Nilai-Nilai Yājña dalam Kitab Ramayana adalah IV buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas X SMA/SMK Kurikulum Merdeka.

Adapun materi BAB 4 Nilai-Nilai Yājña dalam Kitab Ramayana ini adalah:
  1. Nilai-Nilai Yajŭa dalam Kitab Ramayana
  2. Sumber Ajaran Nilai-Nilai Yajŭa dalam Kitab Ramayana
  3. Menerapkan Nilai-Nilai Yajŭa dalam Kitab Ramayana
  4. Implikasi Penerapan Nilai-Nilai Yajŭa dalam Kitab Ramayana

Setelah mempelajari BAB 4 ini, peserta didik diharapkan mampu menganalisis, mengidentifikasi, dan berkreativitas yajña dalam kitab Rāmāyana dalam bentuk kearifan lokal kaitannya dengan nilai-nilai budaya bangsa dan kebangsaan. Hal ini dilakukan untuk melestarikan budaya daerah dan penerapan nilai keagamaan Hindu di Nusantara. Selain itu, juga untuk mewujudkan Tri Kerukunan Masyarakat Hindu Beragama agar tercipta kehidupan harmonis.

Berikut adalah rangkuman BAB 4 Nilai-Nilai Yājña dalam Kitab Ramayana dalam buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka:

Semua bentuk persembahan dan pengorbanan (secara spiritual), ketulusan yang dipersembahkan kepada Hyang Widhi Wasa untuk keselamatan manusia maerupakan yajña. Demikian juga semua bentuk komitmen sosial: berbagi, saling menghargai, santun, berperilaku baik, berkata yang baik, dan perpikir positif terhadap orang lain hal tersebut juga yajña.

Perbuatan yang berdasarkan dharma dan dilakukan dengan tulus ikhlas dapat disebut yajña. Menjaga dan memelihara alam, lingkungan juga disebut yajña. Semua bentuk pengendalian diri terhadap panca indria adalah yajña, saling memelihara, mengasihi sesama makhluk hidup juga disebut yajña. Manawa Dharmaśastra VI.35 menjelaskan bahwa ada tiga macam jenis utang yang menimbulkan akibat atau timbal balik dalam kehidupan manusia, yaitu tri rna, yang menyebabkan pelaksanaan panca yajña, yaitu sebagai berikut:
  1. Dewa rna adalah utang manusia kepada Hyang Widhi Wasa, yang telah menciptakan dan memelihara alam beserta isinya yang dianugerahkan kepada kita. Hidup manusia sangat bergantung kepada alam ciptaan- Nya. Oleh karena itu, sebagai ucapan terima kasih/timbal balik kepada Beliau maka utang tersebut kita bayar dengan melaksanakan dewa yajña dan catur asrama.
  2. Rsi rna adalah utang jasa kepada para rsi atau maha rsi yang telah memberikan   pengetahuan   suci   untuk   membebaskan    hidup    ini dari awidya menuju widya, yang berguna untuk mendapatkan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Utang ini dibayar dengan melaksanakan rsi yajña.
  3. Pitra rna adalah utang jasa kepada para leluhur yang telah melahirkan, memelihara/mengasuh, dan membesarkan diri kita. Utang-utang ini dibayar dengan melaksanakan manusa yajña dan pitra yajña.

Implikasi penerapan nilai-nilai yajña dalam kitab Rāmāyana pada kehidupan individu secara nyata dilakukan melalui implementasi keagamaan seperti:
  1. Srawanam, memiliki arti mendengarkan hal-hal yang baik. Seseorang dalam mendekatkan diri dengan Hyang Widhi Wasa dengan cara mendengarkan pencerahan-pencerahan dari orangtua, orang suci, guru, dan orang baik.
  2. Wedanam, memiliki arti membaca kitab suci. Seseorang menekuni kitab suci dengan cara rajin membaca dan sangat diyakini kegiatan tersebut sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Hyang Widhi Wasa. Misalnya rajin membaca kitab-kitab mantra dan sloka.
  3. Kirthanam, memiliki arti melantunkan kidung-kidung suci. Seseorang selalu melantunkan kidung-kidung suci dalam setiap kegiatan keagamaan.
  4. Smaranam, memiliki arti mengucapkan nama-nama Tuhan secara berulang-ulang. Memuja Hyang Widhi dengan cara secara berulang- ulang menyebutkan nama kemahakuasaan Tuhan melalui japa.
  5. Padasewanam, memiliki arti sujud di kaki Tuhan. Dalam kehidupan nyata dilaksanakan dengan cara selalu bhakti kepada Hyang Widhi Wasa, dan sujud bhakti kepada orang tua dengan cara mencuci kaki orang tua dan menciumnya dengan harapan utang dan  kesalahan yang diperbuat dapat dimaakan oleh orang tua dan orang tua selalu mendoakan putra-putrinya agar selamat dan sejahtera. Hal demikian juga bisa dilaksanakan kepada guru spiritual sebagai bentuk bhakti seorang sisya kepada nabenya.
  6. Dhasyam, memiliki arti berpasrah diri. Secara tulus berpasrah diri dalam melaksanakan setiap kewajiban dan persembahan ke hadapan kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa.
  7. Arcanam, memiliki arti memuja dengan simbol-simbol. Keyakinan sebagai dasar dalam kehidupan beragama, sehingga sebagai wujud bhakti dalam proses pemujaan menggunakan berbagai simbol-simbol keagamaan.

Implikasi penerapan nilai-nilai yajña dalam kitab Rāmāyana pada kehidupan sosial secara nyata, adalah
  1. Sukhyanam, yang memiliki makna menjalin persahabatan, perilaku komitmen sosial yang dibangun adalah selalu saling menghargai sehingga menjadi harmoni dengan sesama untuk menjalin persehabatan. Karena manusia selalu ketergantungan dengan orang lain dalam kehidupan sosial. Melalui perilaku ini maka kehidupan sosial menjadi damai.
  2. Sevanam, memiliki makna memberikan pelayanan yang baik dan tulus. pelayanan yang baik dan tulus dimaksud diberikan kepada orangtua, guru, dan sesama.
  3. Asih, memiliki arti mengasihi. Asih dijadikan dasar pada kehidupan sebagai wujud perilaku yang saling mengasihi dan menghargai.
  4. Punia, memiliki arti memberi. Punia selalu identik dengan upacara dewa yajña “dana punia”. Konsep punia tidak berhenti pada upacara dewa yajña, melainkan terus bergerak pada kehidupan sosial yang mendidik setiap manusia untuk saling memberi sebagai wujud perilaku sosial yang saling memberi dan membantu (gotong-royong).
  5. Bhakti, memiliki penghormatan. Pada kehidupan sosial bhakti sebagai wujud perilaku saling menghormati.

Itulah rangkuman atau ringkasan materi BAB 4 Nilai-Nilai Yājña dalam Kitab Ramayana. Semoga bermanfaat.