Nilai-Nilai Dharmaśastra di Setiap Yuga Lengkap Dengan Contoh Penerapannya


Berikut nilai-nilai Dharmaśastra di setiap Yuga lengkap dengan contoh penerapannya:

1. Nilai-Nilai Dharmaśastra pada Satyayuga
Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kebajikan pada masa Satyayuga/Krtayuga. Penerapan nilai ajaran Weda pada masa itu manusia hidup di dalam kesetiaan dan ketaatan penuh dengan ajaran Weda. Dengan demikian keteraturan hidup dalam penebusan dosanya melalui tapa, yoda, dan meditasi, sehingga kesucian spiritual pada masa itu sangat terjaga.

Dengan demikian, sebagai manusia nilai-nilai yang dapat kalian terapkan saat ini untuk membentuk sikap mental yang positif melalui pengendalian diri yang ketat dan selalu setia terhadap ajaran dharma (nilai-nilai kebajikan). Contoh penerapan nilai Dharmaśastra pada Satyayuga ini antara lain:
  • disiplin untuk selalu berpikir yang bersih dan suci (manacika parisudha);
  • disiplin untuk selalu berkata yang baik, sopan dan benar (wacika parisudha); dan
  • disiplin untuk selalu berbuat yang jujur, baik dan benar (Kayika Parisudha), baik sebagai individu maupun sosial.

2. Nilai-Nilai Dharmaśastra pada Tretayuga
Zaman tretayuga fokus terhadap nilai-nilai dharma yang diajarkan melalui pengetahuan tentang sang diri. Kehidupan manusia fokus pada pengetahuan tentang sang diri menjadi budaya kehidupan pada zaman Tretayuga. Melalui pengetahuan tentang sang diri tersebut seseorang akan mampu mendapatkan kebahagiaan dan pelepasan dirinya dari penderitaan.

Nilai-nilai kebajikan pada zaman Tretayuga yang dapat diterapkan dalam kehidupan saat ini sebagai berikut.
  • Brahmacari adalah masa belajar dan pengendalian murni sesuai dengan kewajiban-kewajiban brahmacari. Contoh penerapanya, antara lain disiplin mengikuti arahan guru dan orang tua.
  • Aguron-guron merupakan ajaran tentang kualitas proses hubungan guru dan murid. Contoh penerapanya jika sebagai peserta didik, maka wajib menghormati, bakti, dan disiplin menjaga hubungan baik dengan guru. Guru yang dimaksud adalah guru rupaka (orang tua), guru pengajian (guru di sekolah), guru wisesa (pemerintah), dan guru swadyaya (Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa).

3. Nilai-Nilai Dharmaśastra pada Dwaparayuga
Kehidupan manusia masa Dwaparayuga fokus pada kurban keagamaan (yajña) menjadi budaya kehidupan, melalui kurban suci keagamaan tersebut seseorang akan mampu mendapatkan kebahagiaan dan pelepasan dirinya dari penderitaan.

Yajña yang dapat kita terapkan saat ini, yaitu melalui ajaran panca yajña, yaitu
  • dewa yajña;
  • pitra yajña;
  • rsi yajña;
  • manusa yajña; dan
  • bhuta yajña.

Nilai-nilai Dharmaśastra pada Dwaparayuga berdasarkan uraian tersebut yang dapat diterapkan pada kehidupan kalian sehari-hari, adalah tulus dan ikhlas (lascarya). Tujuannya agar tercapai kehidupan yang harmoni dan sejahtera kepada:
  • Hyang Widhi Wasa (Parahyangan) melalui dewa yajña dan pitra yajña;
  • sesama manusia (Pawongan) melalui ssi yajña dan manusa yajña; dan
  • kepada alam semesta (Palemahan) melalui bhuta yajña.

4. Nilai-Nilai Dharmaśastra pada Kaliyuga
Melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga adalah cara manusia untuk mencapai pembebasan. Pelaksanaan sedekah tersebut menjadi persembahan yang mulia di zaman Kaliyuga seperti yang dimuat pada kitab Dharmaśastra Parasara.

“Kutumbine daridraya srautriyaya visesatah,
Yaddanam diyate tasmai tadayurvrddhi karakam’’

Terjemahannya:

Sedekah yang diberikan kepada sebuah keluarga yang miskin, teristimewa kepada seorang Brahmana yang mahir dalam veda, cenderung menambah umur panjang bagi si pemberi sedekah. (Parasara Dharmaśastra, XII.45).

Uraian sloka tersebut, makna etika (moralitas) yang dapat diketahui adalah bahwa setelah memperoleh harta benda, seseorang harus menggunakan penghasilan atau kekayaan material yang dimiliki pertama untuk pelaksanaan aktivitas dharma atau kebajikan seperti memberikan sedekah atau jamuan kepada para atiti (tamu atau orang lain) atau menolong seseorang yang pantas untuk ditolong.

Contoh penerapan nilai-nilai Dharmaśastra pada Kaliyuga yang wajib untuk diaplikasikan dalam kehidupan ini adalah:
  • sedekah/berdanapunia. Berdanapunia melalui dewa yajña, pitra yajña, rsi yajña, manusa yajña, bhuta yanja (alam semesta);
  • berbagi kepada sesama yang membutuhkan sebagai implementasi dari manusa yajña;
  • berbagi untuk saling melayani sebagai wujud gotong-royong sehingga moderasi beragama tercapai.