Dasar Teologis untuk Keajaiban dan Keindahan Ciptaan Tuhan untuk Alam Semesta


Dasar teologis untuk keajaiban dan keindahan ciptaan Tuhan untuk alam semesta adalah kisah Kejadian yang urutan ceritanya demikian:
  • Hari pertama: Allah menciptakan terang, lalu memisahkannya dari gelap. Itulah siang dan malam.
  • Hari kedua: Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air yang ada di bawahnya dengan yang di atasnya.
  • Hari ketiga: Allah menciptakan kumpulan air, yaitu laut dan daratan. Tunas-tunas muda dan semua tumbuhan berbiji dan pohon yang berbiji tumbuh pada hari ini.
  • Hari keempat: Allah menciptakan benda-benda penerang: matahari bulan, dan bintang-bintang. Matahari menguasai siang, bulan dan bintang-bintang di malam hari.
  • Hari kelima: Allah menciptakan semua binatang laut yang besar, dan binatang air, burung-burung yang beterbangan di udara. Juga binatang-binatang laut yang besar, binatang yang berkeriapan di dalam air.
  • Hari keenam: Allah membuat bumi mengeluarkan segala jenis makhluk hidup, ternak, binatang melata, dan binatang liar. Lalu Allah menciptakan manusia.

Berikut uraian tentang dasar teologis untuk keajaiban dan keindahan ciptaan Tuhan untuk alam semesta.

Kitab Kejadian 1:1-31 tidak menjelaskan bagaimana dunia terjadi, seperti yang mungkin diduga sebagian orang. Tidak! Ini bukanlah sebuah buku geologi. Kisah ini bertujuan untuk menceritakan kepada kita Siapa yang ada di balik semua ciptaan itu.

Kitab ini ditulis dengan maksud membantah pendapat sebagian masyarakat di masa itu bahwa matahari, bulan dan bintang adalah dewa-dewa yang harus ditakuti. Dari Kejadian 1:1-31, catatlah berapa kali muncul kata “baik” sebagai penjelasan terhadap hasil ciptaan Tuhan. Perhatikan juga bahwa penilaian “baik” diberikan setiap kali Allah selesai menciptakan, secara bertahap, hari demi hari. Sangatlah tepat bila kita sebut Tuhan sebagai Maha Pencipta. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang dianggap sebagai kegagalan.

Selain itu, kisah Kejadian ini juga ingin menunjukkan bahwa Allah bekerja secara teratur dan sistematis (Theology of Work Project, 2007). Jadi, kisah ini tidak boleh dibaca dengan cara berpikir manusia masa kini yang memiliki pemahaman yang sudah lebih maju.

Gambaran tentang penciptaan ini tidak masuk akal untuk manusia modern. Bagaimana mungkin terang sudah ada, sementara matahari, bulan dan bintang baru diciptakan belakangan di hari keempat? Padahal, bukankah matahari itu sumber terang? Bulan hanya ada karena adanya matahari. Bulan hanyalah memantulkan sinar matahari.

Bagaimana dengan pohon dan tanaman yang tidak berbiji? Siapakah penciptanya? Jamur, pakis, paku ekor kuda, kantong semar, tebu, ketela pohon — semuanya tidak berbiji.

Bagaimana dengan manusia? Kita tahu ada manusia yang beraneka warna. Ada yang kulitnya hitam, cokelat, kuning, putih. Kita tahu bahwa mereka yang berkulit putih menurunkan anak-anak yang berkulit putih. Begitu pula dengan yang berkulit hitam. Lalu, apakah warna kulit Adam dan Hawa? Hitam atau putih?

Jelas bahwa semua pertanyaan di atas tidak dapat kita temukan jawabannya di dalam Alkitab. Mengapa demikian? Karena Alkitab tidak bertujuan untuk menjelaskan semua itu. Akan tetapi, coba kita lihat dari urut-urutan penciptaan yang diterangkan di dalam Kitab Kejadian. Pada hari pertama hingga hari ketiga, Allah menciptakan TEMPAT untuk segala sesuatu yang akan diciptakan-Nya. Ada ruang untuk semuanya. Ada terang, ada langit, air, dan daratan.

Pada hari keempat hingga keenam, Allah menciptakan ISI dari semuanya itu. Di hari keempat ada terang dan gelap, lalu matahari, bulan dan bintang. Di hari kelima, Allah menciptakan segala binatang di udara dan di lautan dan di dalam air tawar. Akhirnya, pada hari keenam, Allah menciptakan berbagai makhluk hidup, binatang melata dan liar, lalu akhirnya manusia.

Nah, tampak betapa sistematisnya Allah bekerja seperti yang digambarkan oleh manusia kuno sekitar 2.500 tahun yang lalu. Inti ceritanya ingin menyampaikan Allah bekerja dengan keteraturan. Ini berbeda dengan keadaan bumi yang masih kosong dan kacau-balau seperti yang digambarkan pada Kejadian 1:2, “Bumi belum berbentuk dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Gambaran “belum berbentuk dan kosong gelap gulita” itu dilukiskan sebagai keadaan “tohu wa-bohu (ֹת  וה ֹבוָ  וה)” yang diterjemahkan sebagai keadaan chaos, kacau-balau.

Perhatikan bahwa apa yang Allah ciptakan adalah baik adanya. Ilmu pengetahuan berhasil menemukan bukti bahwa proses terjadinya gurun pasir, gunung berapi, ngarai yang istimewa seperti Grand Canyon di Amerika Serikat, mencakup periode sebanyak jutaan, bahkan miliaran tahun. Perhitungan tahun di sini adalah 365 atau 366 hari, dan satu hari terdiri atas 24 jam, satu jam terdiri atas 60 menit, dan satu menit terdiri atas 60 detik. Selain alam indah ciptaan Tuhan, minyak bumi dan berbagai mineral lainnya seperti emas dan perak juga mengalami proses pembentukan selama ratusan juta tahun sehingga kini menghasilkan benda yang dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Dari Perjanjian Lama, dapat kita baca bahwa pembangunan Bait Allah di masa pemerintahan Raja Salomo ternyata banyak menggunakan emas dan batu permata lainnya. Sedikitnya, ada 23 jenis batu permata yang disebutkan di Alkitab, tetapi memang agak sulit menemukan jenis permata dimaksud pada saat sekarang ini (alkitab.sabda.org, 2020).

Pada bagian pembukaan Kitab Kejadian ini juga kita menemukan penugasan yang diberikan Allah kepada manusia di bumi. Manusia diberikan tugas “penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28b). Perintah ini seringkali dipahami seolah-olah manusia boleh melakukan apa saja. Manusia diberikan kuasa penuh untuk “menaklukkan bumi”. Akibatnya, banyak orang yang bertindak sewenangwenang atas seluruh alam ini.

Penebangan hutan terjadi di mana-mana sehingga terjadilah pemanasan bumi yang mengacaukan iklim dunia. Tambang-tambang emas, perak, tembaga, batu bara, minyak bumi, gas, semuanya dieksploitasi habis-habisan sehingga mungkin sekali dalam beberapa generasi manusia di masa yang akan datang, semua sumber bumi itu sudah semakin menipis dan bahkan musnah. Lalu, bagaimana kelanjutan hidup anak cucu kita nanti? Mungkin hanya segelintir orang saja yang masih ingat kepada mereka. Terserah mereka saja!

Makna “kuasailah dan taklukkanlah” tidaklah seperti yang sering ditafsirkan orang yang suka berbuat sewenang-wenang atas seluruh isi bumi ciptaan Allah. Tidak demikian! Penguasa yang baik tidak sekadar “menaklukkan”, melainkan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya. Dengan memberikan tugas dan kepercayaan ini kepada manusia, sesungguhnya Allah telah mengajak manusia untuk bekerja bersama-sama Dia untuk memelihara dan melindungi seluruh isi alam ini, sementara pada saat yang sama kita diberikan hak untuk menikmatinya secukupnya. Kita juga dapat mengatakan bahwa Kejadian 1:28 ini adalah mandat Allah kepada manusia, mandat yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Tugas pemeliharaan ini kelak akan berkali-kali kita temukan di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus.

Misalnya, dalam perumpamaan tentang talenta yang dititipkan seorang saudagar kepada hamba-hambanya. Ada yang menerima 5 talenta, ada yang menerima 2, dan ada yang 1. Kepercayaan yang diberikan kepada para hamba itu tidak berarti talenta itu bisa dipakai berfoya-foya, melainkan harus diusahakan supaya berkembang dan menghasilkan lebih banyak.

Nah, bagaimana kita memahami perumpamaan dalam konteks hutan yang ditebangi dan diambil kayunya? Bukankah mestinya hutan itu dikembalikan, dipulihkan, dan ditanami kembali? Dengan demikian, hutan yang kemudian dihasilkan menjadi lebih luas dan menghasilkan oksigen untuk berbagai jenis tanaman lainnya yang bermanfaat bagi manusia dan binatang hutan. Bagaimana dengan minyak bumi dan berbagai mineral lainnya? Bagaimana kita menggunakan semua itu dengan bertanggung jawab? Bagaimana dengan kemungkinan untuk menggunakan sumber-sumber energi alternatif, misalnya sinar matahari, angin, air, gelombang laut, dan lain-lain?