Hidup Baru di Dalam Kristus di Masa Kini


Hidup baru di dalam Kristus di masa kini adalah hidup dengan penguasaan diri agar terhindar dari banyak masalah lainnya yang dapat muncul ketika kita berhadapan dengan orang lain. Contohnya tidak mudah marah, tidak bolos sekolah, tidak menerima ajakan teman untuk berkelahi atau tawuran.

Berikut adalah uraian tentang Hidup Baru di Dalam Kristus di Masa Kini.

Coba kita perhatikan suasana di sekitar kita! Mungkin kamu pernah melihat hal-hal ini terjadi. Seseorang yang terburu-buru masuk ke dalam kereta, sementara penumpang belum semuanya turun. (Untuk anda yang tidak memiliki fasilitas kereta api di wilayah tempat tinggal kalian, bayangkanlah situasi dimana banyak orang berebut ingin naik ke kendaraan umum). Di pintu kereta, saat lonceng berbunyi tanda kereta akan segera lewat, selalu ada mobil, motor, bajaj, dan lain-lain yang masih mencoba menerobos sehingga sesekali terjadi tabrakan dengan kereta api.

Di salah satu toko swalayan, sejumlah orang berdiri antre menunggu giliran untuk membayar. Tiba-tiba seseorang menerobos dengan mengatakan, “Maaf ya, saya cuma beli satu barang ini saja kok.” Kemudian, di jalan raya, sekelompok orang dari satu kompleks terlibat tawuran dengan sebuah kelompok dari kompleks yang lain. Sebuah motor yang diparkir dan si pemilik lupa mencabut kuncinya, tiba-tiba hilang dicuri orang. Saat menonton televisi, tiba-tiba ada “breaking news” tentang seorang pejabat yang tertangkap tangan karena melakukan korupsi jutaan dolar.

Dari peristiwa di atas, kesimpulan yang bisa kita tarik adalah apa penyebab semua itu? Ya, semuanya disebabkan oleh kurangnya disiplin di kalangan masyarakat kita. Apakah disiplin itu? Disiplin tidak lain daripada penguasaan diri, seperti yang disebutkan oleh Paulus dalam kumpulan buah Roh yang diuraikannya dalam Galatia 5: 22-23.

Mengapa kita harus buru-buru masuk ke kereta walaupun penumpang lain belum turun? Takut tidak mendapatkan tempat duduk? Mengapa kita harus menerobos pintu kereta? Apakah keterlambatan 10 menit karena kereta yang lewat membuat kita gagal masuk sekolah pada jamnya? Mungkin kita harus bangun lebih awal. Mengapa orang menerobos antrean di sebuah toko swalayan hanya karena ia cuma membeli sebuah barang? Mengapa orang harus tawuran di jalanan? Merasa tersinggung? Kalau ya, apakah itu tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik, tanpa harus mengancam rasa aman dan nyaman orang lain? Mengapa harus mencuri motor yang kuncinya secara tidak disengaja tertinggal oleh pemiliknya? Tidak punya uang? Bekerjalah lebih keras dan cari kesempatan kerja lain yang bisa menambah penghasilan. Mengapa pejabat harus korupsi? Apakah gajinya terlalu kecil?

Untuk semua pertanyaan di atas, ada satu jawaban yang tepat, yaitu kurang disiplin! Di banyak negara lain, disiplin adalah pelajaran pertama yang harus ditempuh oleh seorang anak sejak di Taman Kanak-kanak bahkan sampai kelas III atau IV SD. Disiplin adalah bagian dari pembentukan watak suatu bangsa. Tanpa disiplin, kita akan selamanya menemukan kasuskasus di atas dan masih banyak lagi yang lainnya. Bangsa kita akan terusmenerus hidup di dalam kekacauan.

Paulus berbicara tentang sembilan buah Roh. Semua itu dapat kita temukan pada pribadi-pribadi yang matang. Kematangan seseorang akan menolongnya untuk menjadi orang yang penuh dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Penguasaan diri tidak bisa dilepaskan dari penyerahan diri yang penuh kepada Allah, seperti yang diteladankan oleh Yesus sendiri di dalam kehidupan dan mati-Nya (Filipi 2:5-11).

Namun juga perlu dicatat bahwa, meskipun masih muda, kalian juga bisa memperlihatkan semua buah Roh ini dalam kehidupan kalian. Kuncinya adalah penguasaan diri seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan menguasai diri sendiri, kalian akan terhindar dari banyak masalah lainnya yang dapat muncul ketika kita berhadapan dengan orang lain. Coba perhatikan diri masing-masing! Apakah kalian orang yang cepat marah? Apakah anda mudah diajak atau ditantang berkelahi oleh teman-temanmu? Jika jawaban kalian ya, itu salah satu bukti bahwa kalian belum memiliki penguasaan diri.

Tanpa penguasaan diri, kita tidak mempunyai kasih. Hidup kita akan gelisah karena kita menyimpan kemarahan yang berkobar-kobar di dalam hati. Tidak ada kesabaran dan kemurahan. Apakah ada kesetiaan di hati? Tidak! Kemungkinan kita akan mengajak teman-teman kita untuk ikut membela saat kita berkelahi dengan alasan, “Kalian harus solider, dong! Kalian harus setia kepada saya!”

Akan tetapi, apakah demikian cara hidup yang diharapkan Yesus terhadap kita? Saat Yesus mati, Ia ditinggalkan sendirian di kayu salib. Semua murid-Nya lari ketakutan meninggalkan-Nya. Hanya ada beberapa orang perempuan yang menunggui-Nya, sampai Ia menghembuskan napas-Nya yang terakhir. Nah, sekarang kalian tentunya sudah melihat betapa pentingnya masalah penguasaan diri itu bagi keseluruhan hidupnya. Orang yang mampu menguasai dirinya tidak akan merasa takut kalau ia harus menghadapi konsekuensi dari keputusannya.

Maka jelas sekarang apa artinya memiliki hidup yang baru. Hidup yang baru hanya bisa terjadi apabila kita membiarkan diri kita dikuasai oleh Roh Tuhan, bukan oleh diri kita sendiri. Roh Tuhan yang memimpin hidup kita untuk tidak menjadi egois, suka meledak-ledak, mudah emosional, tidak peduli dengan orang lain, dan sebagainya. Roh Tuhan akan memberikan kepada kita rasa damai, sukacita dan keinginan untuk mengasihi sesama, bermurah hati, berbicara dengan lemah lembut dan sopan.

Agar kita dapat hidup baru di dalam Kristus di masa kini dan agar dapat terus bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus, ada empat hal yang perlu kita lakukan, yaitu.
  1. Memelihara hubungan pribadi dengan Yesus Kristus melalui pembacaan Alkitab secara teratur. Baca dengan sungguh-sungguh, catat apa kesan, pesan dan janji yang kalian peroleh dari ayat-ayat yang dibaca. Bisa juga dilakukan dengan menggunakan pedoman renungan harian.
  2. Menaikkan pujian dan doa untuk menyampaikan rasa syukur, permohonan untuk apa yang kalian butuhkan, dan kerinduan untuk menjadi anak-Nya yang setia.
  3. Memelihara persekutuan dengan sesama orang percaya lainnya. Dengan demikian, kalian dapat saling berbagi dan saling menguatkan.
  4. Menjadi saksi-Nya, sehingga orang lain yang melihat kehadiran Kristus melalui apa yang kalian katakan dan lakukan.