Soal dan Jawaban materi Rahmat Islam bagi Nusantara - PAI & Budi Pekerti Kelas 12 SMA/SMK


Berikut adalah soal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK materi Rahmat Islam bagi Nusantara lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Sebutkan dan jelaskan 3 teori masuknya islam ke nusantara menurut Ahmad Mansur Suryanegara
  2. Jelaskan beberapa bukti yang mendukung teori Mekah yang menyatakan islam masuk ke nusantara lebih awal
  3. Sebutkan dan jelaskan strategi dakwah islam di nusantara
  4. Uraikan secara singkat perkembangan dakwah islam di nusantara
  5. Sebutkan dan uraian singkat keajaan Islam yang terkenal di Nusantara
  6. Tuliskan nama-nama kerajaan Islam di Nusantara yang pernah ada, berdasarkan buku Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, karya Mundzirin Yusuf, yang dimuat dalam Wikipedia Bahasa Indonesia
  7. Sebutkan dan jelaskan 2 bentuk gerakan pembaharuan Islam di Indonesia
  8. Jelaskan siapakah tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia? 
  9. Sebutkan tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai-nilai budaya masyarakat menurut buku Atlas Wali Songo
  10. Tuliskan hikmah dari mempelajari sejarah perkembangan Islam di Indonesia
  11. Tuliskan contoh sikap dan perilaku mulia yang harus kita kembangkan sebagai implementasi dari pelajaran tentang dakwah Islam di Nusantara

Kunci Jawaban:

1. 3 teori masuknya islam ke nusantara menurut Ahmad Mansur Suryanegara, yakni:
  • Teori Gujarat, yaitu Islam datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke- 13 M.
  • Teori Mekah, yaitu Islam tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M.
  • Teori Persia, yaitu Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke Nusantara sekitar abad ke-13 M.
2. Beberapa bukti yang mendukung teori Mekah yang menyatakan islam masuk ke nusantara lebih awal, yakni:
  • Menurut sejumlah pakar sejarah dan arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad saw. menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
  • Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara, dan menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi (yang berarti Nabi Muhammad saw. belum lahir) diantaranya temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur
  • Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara-terutama Sumatera dan Jawa- dengan Cina juga diakui oleh sejarawan G.R. Tibbetts. Ia menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi
  • Ditemukannya perkampungan Arab muslim di Barus pada abad ke-1 H./7 M.
  • Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7M.
  • Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 M.
  • HAMKA menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera.
  • Sejarawan T. W. Arnold dalam karyanya The Preaching of Islam (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.
  • Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Prancis yang bekerja sama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
  • Pada tahun 674 M semasa pemerintahan Khilafah Utsman bin Affan, mengirimkan utusannya (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah Raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga masuk Islam.
  • Dalam Seminar Nasional tentang masuknya Islam ke Indonesia di Medan tahun 1963, para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-1 H. (abad ke-7 M) dan langsung dari tanah Arab. Daerah yang disinggahi adalah pesisir Sumatra. Islam disebarkan oleh para saudagar muslim dengan cara damai.
  • Ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, abad ke- 11 M. yang berarti jauh sebelum itu sudah terjadi penyebaran agama Islam, terutama di daerah pesisir Sumatera, karena yang menyebarkan Islam di Jawa adalah para mubalih dari Arab dan dari Pasai.
3. Strategi dakwah islam di nusantara yang dipergunakan sebagai kendaraan (sarana) dalam penyebaran Islam di Indonesia, diantaranya:
  • Perdagangan = penduduk Nusantara banyak yang berinteraksi dengan para pedagang muslim, dan keterlibatan mereka semakin jauh dalam aktivitas perdagangan, banyak di antara mereka yang memeluk Islam.
  • Perkawinan = banyak penduduk pribumi, terutama para wanita, yang tertarik untuk menjadi isteri-isteri para saudagar muslim, tentu saja bahwa para wanita yang akan dinikahi harus diislamkan terlebih dahulu.
  • Pendidikan = banyak lembaga pendidikan islam didirikan, seperti pesantren
  • Kesenian = yaitu menyebarkan islam melalui kesenian budaya nusantara, seperti wayang, seni bangunan, seni pahat atau seni ukir, seni tari, seni musik dan seni sastra.
  • Tasawuf = mengajarkan Islam dengan budaya lokal, sehingga menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang tertarik menerima ajaran tersebut.
  • Politik = banyak rakyat masuk Islam setelah rajanya masuk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam. Jalur politik juga ditempuh ketika kerajaan Islam menaklukkan kerajaan non Islam, baik di Sumatera, Jawa, maupun Indonesia bagian Timur.
4. Uraian singkat perkembangan dakwah islam di nusantara, adalah sebagai berikut:
a. Perkembangan Islam di Sumatera
Pada umumnya, buku-buku sejarah menyebutkan perkembangan agama Islam bermula dari Pasai, Aceh Utara.

Setelah agama Islam berkembang di Pasai, dengan cepat tersebar pula ke daerah-daerah lain yaitu ke Pariaman, Sumatera Barat. Islam datang ke Pariaman dari Pasai melalui laut Pantai Barat Pulau Sumatera.

Sebagai bukti bahwa Islam diterima oleh masyarakat Sumatera Barat dengan kerelaan dan kesadaran adalah dengan istilah yang mengatakan: Adat bersendi syura’, syara’ bersendi Kitabullah. Jadi, adat istiadat yang dipegang teguh oleh masyarakat Sumatera Barat itu adalah adat yang bersendikan Islam, artinya Islam menjadi dasar adat.

Raden Rahmat (Sunan Ampel) memberi saran kepada Abdillah agar bersedia menyebarkan agama Islam di Sumatera Selatan. Atas rahmat dan petunjuk Allah Swt., saran Raden Rahmat tersebut dilaksanakan oleh Aryadillah, sehingga agama Islam di Sumatera Selatan berkembang dengan baik.

b. Perkembangan Islam di Kalimantan, Maluku, dan Papua
Di pulau Kalimantan, agama Islam mula-mula masuk di Kalimantan Selatan, dengan ibu kotanya Banjarmasin. Perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan itu sangat pesat dan mencapai puncaknya setelah Majapahit runtuh tahun 1478.

Daerah lainnya di Kalimantan yang dimasuki agama Islam adalah Kalimantan Barat. Islam masuk ke Kalimantan Barat mula-mula di daerah Muara Sambas dan Sukadana. Dari dua daerah inilah baru tersebar ke seluruh Kalimantan Barat.

Penyebaran Islam di Kalimantan Timur terutama di Kutai, dilakukan oleh Dato’ Ri Bandang dan Tuang Tunggang melalui jalur perdagangan.

Kemudian sejak abad ke-15, antara tahun 1400 sampai 1500 Islam telah masuk dan berkembang di Maluku. Pedagang yang beragama Islam dan para ulama/mubaligh banyak yang datang ke Maluku sambil menyiarkan agama Islam. Daerah-daerah yang mula-mula dimasuki Islam di Maluku adalah Ternate, Tidore, Bacau, dan Jailolo.

Perkembangan agama Islam di papua berjalan agak lambat. Islam masuk ke Irian terutama karena pengaruh raja-raja Maluku, para pedagang yang beragama Islam dan ulama atau mubaligh dari Maluku.

Daerah-daerah  yang  mula-mula  dimasuki  Islam  di  papua  adalah  Misol, Salawati, Pulau Waigeo, dan Pulau Gebi.

c. Perkembangan Islam di Sulawesi
Pada abad ke-16 Islam telah masuk ke Sulawesi, yang dibawa oleh Dato’ Ri Bandang dari Sumatera Barat. Daerah-daerah yang mula-mula dimasuki Islam di Sulawesi adalah Goa, sebuah kerajaan di Sulawesi Selatan.

Sebelum Islam datang ke daerah ini penduduknya menganut kepercayaan nenek moyang. Setelah Dato’ Ri Bandang berkunjung ke Sulawesi Selatan, Raja Goa yang bernama Karaeng Tonigallo masuk Islam. Kemudian atas usul Dato’ Ri Bandang, Raja Goa berganti nama dengan Sultan Alauddin. Jauh sebelum Raja Goa ini masuk Islam, para pedagang telah menyiarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat Sulawesi Selatan dan banyak penduduk yang telah menganut agama Islam.

Setelah Sultan Alauddin wafat, beliau diganti oleh putranya yang bernama Sultan Hasanuddin. Dari Goa Islam terus berkembang ke daerah-daerah lainnya seperti daerah Tallo dan Bone.

d. Perkembangan Islam di Nusa Tenggara
Sebagaimana daerah-daerah lain, pada tahun 1540 agama Islam masuk pula ke Nusa Tenggara. Masuknya agama Islam Ke Nusa Tenggara dibawa oleh para mubaligh dari Bugis (Sulawesi Selatan) dan dari Jawa.

Agama Islam berkembang di Nusa Tenggara mula-mula di daerah Lombok yang penduduknya disebut Suku Sasak. Dari daerah Lombok, secara pelan- pelan selanjutnya tersebar pula ke daerah-daerah Sumbawa dan Flores.

e. Perkembangan Islam di Pulau Jawa
Agama Islam masuk ke Pulau Jawa kira-kira pada abad ke-11 M., yang dibawa oleh para pedagang Arab dan para mubaligh dari Pasai. Tempat yang mula-mula dimasuki Islam di pulau Jawa yaitu daerah-daerah pesisir utara Jawa Timur.

Tokoh terkenal yang berdakwah di Jawa Timur adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau menetap di Gresik, kemudian mendirikan pusat penyiaran agama Islam dan pusat pengajaran. Dalam majlisnya itu beliau mengkader beberapa orang murid. selanjutnya mereka menyiarkan agama Islam ke daerah-daerah lain di pulau Jawa.

Di Jawa Tengah, penyiaran Agama Islam berpusat di Demak. Penyiaran agama Islam di Pulau Jawa dilakukan oleh para wali yang berjumlah 9 yang dikenal dengan Wali Songo (Wali Sembilan). Kemudian murid-murid Wali Songo turut pula menyiarkan agama Islam ke daerah pedalaman pulau Jawa, sehingga agama Islam berkembang dengan pesatnya.

5. Kerajaan Islam yang terkenal di Nusantara, antara lain:
a. Samudera Pasai
Samudera Pasai adalah keajaan Islam yang dipandang sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Akan tetapi jika dikaitkan dengan dua kerajaan sebelumnya (Jeumpa dan Peurelak), maka kerajaan Samudera Pasai adalah kelanjutan dari kerajaan Islam Peurelak (Perlak).
 
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik al- Saleh pada tahun 1285 (abad 13 M) sekaligus sebagai raja pertama. Setelah meninggal, ia digantikan putranya Sultan Muhammad atau yang dikenal dengan nama Malik Al Tahir I. Ia memerintah sampai tahun 1326 M, kemudian digantikan oleh Sultan Ahmad Malik Al Tahir II.
 
b. Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Sultan Ali Mughayat Syah atau disebut juga Sultan Ibrahim. Kerajaan Aceh mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Selanjutnya Sultan Iskandar Muda digantikan oleh menantunya yaitu Iskandar Tani.

c. Demak
Kesultanan Demak didirikan oleh seorang adipati yang bernama Raden Patah. Untuk menghadapi Portugis Armada Demak yang dipimpin Pati Unus (Putra Raden Patah) melancarkan serangan terhadap Portugis di Malaka. Oleh karena itu, Pati Unus diberi Gelar Pangeran Sabrang Lor yang artinya pangeran yang pernah menyeberangi lautan di sebelah Utara kesultanan Demak.

Setelah Raden Patah meninggal, ia digantikan oleh Pati Unus, selanjutnya Pati Unus diganti oleh Trenggana. Setelah Sultan Trenggana meninggal, terjadi pertikaian antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen (adik Trenggana)dengan Pangeran Prawoto (anak Trenggana). Pangeran Prawoto berhasil membunuh pangeran Sekar Seda Ing Lepen. Tetapi kemudian Pangeran Prawoto dibunuh oleh Arya Penangsang (anak Pangeran Sekar Seda ing Lepen).

Arya Penangsang kemudian tampil menjadi Sultan Demak ke-4. Pemerintahan Arya Penangsang dipenuhi dengan kekacauan karena banyak orang yang tidak suka dengannya. Hingga pada akhirnya seorang adipati Pajang bernama Adiwijaya atau Jaka Tingkir atau Mas Karebet berhasil membunuhnya. Setelah kematian Arya Penangsang, kerajaan Demak berpindah ke tangan Jaka Tingkir.

d. Pajang
Pendiri Kesultanan Pajang adalah Adiwijaya. Setelah Sultan Adiwijaya meninggal, seharusnya Pangeran Benawa yang menduduki tahta Pajang, akan tetapi ia disingkirkan oleh Arya Pangiri (putra Pangeran Prawata). Tindakan Arya Pangiri menimbulkan upaya-upaya perlawanan, hal ini kemudian dimanfaatkan oleh Pangeran Benawa untuk merebut kembali tahta Pajang.

Karena itu, ia menjalin kerja sama dengan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya. Setelah Arya Pangiri dapat dikalahkan, Pangeran Benawa justru menyerahkan kekuasaan pada Sutawijaya. Selanjutnya Sutawijaya memindahkan Pajang ke Mataram sehingga berakhirlah kekuasaan Pajang.
 
e. Mataram Islam
Mataram merupakan hadiah dari Adiwijaya kepada Ki Ageng Pamanahan karena ia telah berjasa membantu Adiwijaya menaklukkan Arya Penangsang. Ketika Ki Ageng Pamanahan meninggal, Mataram dipegang oleh putranya, Sutawijaya. Sutawijaya diangkat menjadi Adipati Mataram dan diberi gelar Senopati ing Alogo Sayidin Panatagama yang berarti panglima perang dan pembela agama.

Sepeninggal Senopati, Tampuk kekuasaan dipegang oleh putranya (Mas Jolang), tetapi Mas Jolang meninggal sebelum berhasil memadamkan banyak pemberontakan. Penggantinya adalah Raden Rangsang atau lebih dikenal dengan Sultan Agung.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai masa kejayaan. Akan tetapi Mataram mulai mengalami kemunduran ketika masa pemerintahan pengganti-pengganti Sultan Agung.

Kemunduran Mataram yang lebih utama karena aneksasi yang dilakukan Belanda. Setelah terjadinya Perjanjian Gianti, kerajaan Mataram dipecah menjadi dua bagian, Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta. Lebih dari itu, dengan adanya Perjanjian Salatiga, Kerajaan Surakarta terpecah lagi menjadi dua yaitu Mangkunegaran dan Pakualaman/Kasunanan.

f. Cirebon
Kasultanan Cirebon didirikan oleh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dengan bantuan Fatahillah, kesultanan Cirebon dapat meluaskan kekuasaannya meliputi Jayakarta dan Pajajaran. Kemenangan-kemenangan Fatahillah membuat Sunan Gunung Jati tertarik dan menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu.

Sepeninggal Pangeran Pasarean, kedudukan Sultan diserahkan kepada Pangeran Sabakingking atau yang bergelar Sultan Maulana Hasanuddin.

Pada abad ke-17 terjadi perselisihan dalam keluarga, sehingga kesultanan Cirebon pecah menjadi dua yaitu Kasepuhan dan Kanoman.

g. Banten
Daerah Banten di-Islamkan oleh Sunan Gunung Jati. Pemerintahan dipegang oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Setelah Sultan Hasanuddin meninggal, ia digantikan oleh putranya Maulana Yusuf.

Kesultanan Banten mencapai masa keemasan pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Akhir pemerintahan Sultan Ageng ditandai dengan persengketaan dengan putranya Sultan Haji yang bersekongkol dengan Belanda.

h. Makassar
Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan terdapat dua kerajaan yaitu Goa dan Tallo. Kedua kerajaan itu bersatu dengan nama Goa-Tallo. Makassar dengan ibu kota di Somba Opu, dan dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Sulawesi.

Bertindak sebagai rajanya adalah Raja Goa, Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Alauddin dan sebagai mangkubumi (Perdana Menteri) adalah Raja Tallo, Karaeng Matoaya yang bergelar Sultan Abdullah, yang pada masa pemerintahannya adalah puncak kejayaan Makassar.

i. Ternate dan Tidore
Kerajaan Ternate berdiri kira-kira abad ke-13. Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Sedangkan raja yang terkenal dari Tidore adalah Sultan Nuku. Muncullah Sultan Khaerun yang sekarang menjadi nama universitas di Ternate.

6. Nama-nama kerajaan Islam di Nusantara yang pernah ada, berdasarkan buku Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, karya Mundzirin Yusuf, yang dimuat dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, yaitu:
a. Kerajaan Islam di Sumatera
  • Kerajaan Jeumpa (abad 8 M)
  • Kesultanan Peureulak (abad 9 M)
  • Kesultanan Samudera Pasai (1200-1600)
  • Kesultanan Lamuri
  • Kerajaan Pedir
  • Kerajaan Daya
  • Kerajaan Linge
  • Kesultanan Aceh (1496-1903)
  • Kerajaan Malayu Tambayung (abad 6 akhir)
  • Kesultanan Indrapura (1500-1792)
  • Kerajaan Pasaman
  • Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
  • Kerajaan Siguntur
  • Kerajaan Sungai Pagu
  • Kerajaan Pulau Punjung
  • Kerajaan Jambu Lippo
  • Kerajaan Koto Anau
  • Kerajaan Bungo Setangkai
b. Kerajaan Islam di Jawa
  • Kesultanan Cirebon (1552-1677)
  • Kesultanan Demak (1475-1550)
  • Kesultanan Banten (1524-1813)
  • Kesultanan Pajang (1568-1618)
  • Kesultanan Mataram (1586-1755)
  • Kasultanan Ngayogyakarta (1755-sekarang)
  • Kasunanan Surakarta (1755-sekarang)
c. Kerajaan Islam di Maluku
  • Kerajaan Nunusaku
  • Kesultanan Ternate (1257 )
  • Kesultanan Tidore (1110-1947)
  • Kesultanan Jailolo
  • Kesultanan Bacan
  • Kerajaan Loloda
  • Kerajaan Sahulau
  • Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682)
  • Kerajaan Iha
  • Kerajaan Honimoa/ Siri Sori
  • Kerajaan Huamual
d. Kerajaan Islam di Sulawesi
  • Kesultanan Gowa (awal 16 )
  • Kesultanan Buton (1332-1911)
  • Kesultanan Bone (abad 17)
  • Kerajaan Banggai ([abad 16)
e. Kerajaan Islam di Kalimantan
  • Kesultanan Pasir (1516)
  • Kesultanan Banjar (1526-1905)
  • Kesultanan Kotawaringin
  • Kerajaan Pagatan (1750)
  • Kesultanan Sambas (1671)
  • Kesultanan Kutai Kartanegara
  • Kesultanan Berau (1400)
  • Kesultanan Sambaliung (1810)
  • Kesultanan Gunung Tabur (1820)
  • Kesultanan Pontianak (1771)
  • Kerajaan Tidung (1076-1916)
  • Kerajaan Tidung Kuno (1076-1551)
  • Dinasti Tengara (1551-1916)
  • Kesultanan Bulungan (1731)
f. Kerajaan Islam di Papua
  • Kerajaan Waigeo
  • Kerajaan Misool/Lilinta (marga Dekamboe)
  • Kerajaan Salawati (marga Arfan)
  • Kerajaan Sailolof/Waigama (marga Tafalas)
  • Kerajaan Fatagar (marga Uswanas)
  • Kerajaan Rumbati (marga Bauw)
  • Kerajaan Atiati (marga Kerewaindżai)
  • Kerajaan Sekar (marga Rumgesan)
  • Kerajaan Patipi
  • Kerajaan Arguni
  • Kerajaan Wertuar (marga Heremba)
  • Kerajaan Kowiai/kerajaan Namatota
  • Kerajaan Aiduma
  • Kerajaan Kaimana
7. 2 bentuk gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, yakni:
  • Gerakan Pendidikan dan Sosial, yaitu memperkenalkan sistem pendidikan sekolah dengan kurikulum modern untuk mengganti sistem pendidikan Islam tradisional seperti pesantren dan surau serta mendirikan lembaga pendidikan dan mengembangkan organisasi sosial kemasyarakatan, seperti Sekolah Thawalib, organisasi Jamiat Khair, organisasi Al-Irsyad, organisasi Persyarikatan Ulama, Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Persatuan Islam (Persis).
  • Gerakan Politik, yaitu mendirikan organisasi modern yang bersifat nasional, baik ormas (organisasi sosial kemasyarakatan), maupun orsospol (organisasi sosial politik).
8. Tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia, yaitu:
  • Maulana Malik Ibrahim, nama lainnya adalah Maulana Maghribi (Barat). Disebut Maghribi karena asalnya dari Persia, pusat kegiatannya di Gresik, Jawa Timur.
  • Sunan Ampel atau Ngampel, nama kecilnya Raden Rahmat yang berkedudukan di Ngampel Surabaya. Melalui peran beliau lahirlah generasi Islam yang tangguh, salah satunya Raden Fatah sultan pertama Demak.
  • Sunan Giri, nama aslinya Raden Paku. Beliau adalah murid Sunan Ampel. Pusat kegiatannya di Bukit Giri, Gresik.
  • Sunan Bonang, nama kecilnya adalah Makdum Ibrahim putra Raden Rahmat yang berkedudukan di Bonang dekat Tuban.
  • Sunan Drajat, nama kecilnya adalah Malik Munih juga putra Raden Rahmat dengan pusat kegiatan di daerah Drajat, dekat Sedayu suatu wilayah antara Gresik dan Tuban.
  • Sunan Kalijaga, nama aslinya Joko Said. Pusat kegiatannya di Kadilangu, Demak (Jawa Tengah).
  • Sunan Gunung Jati disebut pula Syarif Hidayatullah, berkedudukan di Gunung Jati, Cirebon (Jawa Barat).
  • Sunan Kudus, berkedudukan di Kudus.
  • Sunan Muria, yang berkedudukan di gunung Muria dekat Kudus.
9. Tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai-nilai budaya masyarakat menurut buku Atlas Wali Songo, yaitu:
  • Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang islami untuk masyarakat Jawa.
  • Raja Pandhita di Gresik merancang pola kain batik, tenun lurik dan perlengkapan kuda.
  • Susuhunan Majagung, mengajarkan mengolah berbagai jenis masakan, lauk pauk, memperbaharui alat-alat pertanian, membuat gerabah.
  • Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra, tata cara pengobatan, serta tata cara membuka hutan.
  • Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa, mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari, bulan, tahun, windu, menyesuaikan siklus pawukon, juga merintis pembukaan jalan.
  • Sunan Bonang mengajar ilmu suluk, membuat gamelan, menggubah irama gamelan.
  • Sunan Drajat, mengajarkan tata cara membangun rumah, alat yang digunakan orang untuk memikul orang seperti tandu dan joli.
  • Sunan Kudus, merancang pekerjaan peleburan, membuat keris, melengkapi peralatan pande besi, kerajinan emas juga membuat peraturan undang- undang hingga sistem peradilan yang diperuntukkan orang Jawa.
10. Hikmah dari mempelajari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, diantaranya:
  • Menghargai jasa para pahlawan muslim yang telah mengorbankan segalanya demi tersebarnya syiar Islam.
  • Berusaha memahami dan menganalisis sumber-sumber sejarah untuk mendapatkan informasi terkini dan valid mengenai sejarah Islam,mengingat terbatasnya sumber data dan perdebatan para pakar tentang validitas data sejarah.
  • Meneladani sikap dan perilaku para tokoh teladan pada masa permualaan masuknya Islam yang mengedepankan cara damai.
  • Menjadikan semua aktivitas dalam hidup (pernikahan, perdagangan, kesenian, dan lain-lain) sebagai sarana syiar Islam dan dakwah.
  • Belajar dari para tokoh penyebar Islam di Indonesia yang memperkenalkan dan mengajarkan Islam kepada penduduk setempat tentang Islam
11. Contoh sikap dan perilaku mulia yang harus kita kembangkan sebagai implementasi dari pelajaran tentang dakwah Islam di Nusantara, antara lain:
  • Menghargai jasa para pahlawan muslim yang telah mengorbankan segalanya demi tersebarnya syiar Islam.
  • Berusaha memahami dan menganalisis sumber-sumber sejarah untuk mendapatkan informasi terkini dan valid mengenai sejarah Islam, mengingat terbatasnya sumber data dan perdebatan para pakar tentang validitas data-data sejarah.
  • Meneladani sikap dan perilaku para dai pada masa permulaan masuknya Islam yang mengedepankan cara damai.
  • Menjadikan semua aktivitas dalam hidup (pernikahan, perdagangan, kesenian, dan lain-lain) sebagai sarana dakwah.
  • Berusaha menjadi dai yang mukhlis (ikhlas), tanpa mengukur jerih payah dalam berdakwah dengan penghasilan.
  • Berusaha menjadi dai yang pantas diteladani oleh umat, khususnya generasi muda.
  • Tetap membangun optimisme dengan kerja keras untuk meraih kembali kejayaan Islam.
  • Bersikap moderat dan santun dalam berdakwah dan menyebarluaskan ajaran Islam.