Soal dan Jawaban materi Manusia Makhluk Pribadi - Agama Katolik 10 SMA/SMK


Berikut adalah soal mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X SMA/SMK materi Manusia Makhluk Pribadi lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Apa arti manusia itu unik?
  2. Jelaskan kekhasan/keunikan menurut Kitab Suci?
  3. Sikap apa saja yang perlu dikembangkan dalam menghadapi kemampuan dan keterbatasan yang kamu miliki?
  4. Berilah contoh kasus pelanggaran terhadap martabat perempuan yang sering terjadi dalam masyarakat kita? Jelaskan pula faktor penyebabnya!
  5. Bagaimana pandangan masyarakat secara umum tentang kedudukan laki-laki dan perempuan?
  6. Jelaskan maksud dari kesetaraan gender?
  7. Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk untuk mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam sehari-hari?
  8. Bagaimana pandangan Kitab Suci dan ajaran Gereja tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan?
  9. Kegiatan apa saja yang perlu dilakukan dalam upaya mengembangkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki?
  10. Apa saja yang mencirikan bahwa manusia bermartabat sebagai pribadi berdasarkan KGK 357?
  11. Manusia adalah ciptaan Allah yang bermartabat. Apa maksudnya?
  12. Manusia disebut sebagai citra Allah. Apa maksudnya?
Kunci Jawaban:
1. Manusia itu unik, artinya adalah Manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya, lengkap dengan kekuatan dan keterbatasannya. Manusia itu unik (unique atau unus = satu), tak ada satu orang pun yang sama persis dengan orang lain, bahkan saudara kembar sekalipun.

2. Kekhasan/keunikan menurut Kitab Suci yaitu:
  • Waktu menciptakan manusia, Tuhan merencanakan dan menciptakan- nya menurut gambar dan rupa-Nya, menurut citra-Nya (Kej. 1:26).
  • Waktu menciptakan manusia, Tuhan “bekerja” secara istimewa. “Tuhan membentuk manusia dari debu dan tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya” (Kej. 2:7).
  • Segala sesuatu, termasuk taman Firdaus itu diserahkan untuk manusia (Kej. 1:26), Bukankah manusia itu istimewa? Tuhan memperlakukan manausia secara khusus. Manusia sudah dipikirkan dan direncanakan oleh Tuhan sejak keabadian. Kehadiran manusia di bumi dipersiapkan dan diatur secara teliti dan mengagumkan. Manusia sungguh diperlakukan sebagai “orang” sebagai pribadi “seperti” Tuhan sendiri.
3. Sikap yang perlu dikembangkan dalam menghadapi kemampuan dan keterbatasan yang kita miliki adalah menerima diri apa adanya dan mensyukurinya sebagai anugerah Tuhan yang terindah dalam hidupnya.

4. Contoh kasus pelanggaran terhadap martabat perempuan yang sering terjadi dalam masyarakat kita adalah pelecehan seksual.

Faktor penyebabnya yaitu cara berpakaian korban yang dapat memancing pelaku untuk melakukan tindakan kekerasan seksual.

5. Pandangan masyarakat secara umum tentang kedudukan laki-laki dan perempuan adalah:
Dalam kebudayaan tertentu di masyarakat kita masih banyak ditemukan pandangan yang menganggap laki-laki lebih berharga dibandingkan dengan perempuan. Anak laki-laki sering dianggap andalan masa depan karena ia akan menjadi tulang punggung keluarga. Hal itu disebabkan karena laki-laki dianggap pribadi yang kuat dan dapat menguasai banyak hal. Laki-laki adalah kebanggaan keluarga. Sebaliknya, anak perempuan dipandang sebagai pribadi yang lemah dan kurang mampu menjadi pemimpin dalam keluarga. Maka sering kita jumpai ada orang tua yang merasa kecewa ketika mengetahui bahwa anak yang lahir ternyata adalah anak perempuan. Dalam banyak hal, anak laki-laki sering lebih banyak mendapat kesempatan untuk mendapat pendidikan yang tinggi, dan perempuan kurang memperoleh kesempatan yang sama. Inilah yang disebut budaya patriarki, yakni budaya yang memandang kedudukan kaum laki-laki lebih penting daripada kedudukan kaum perempuan.

6. Maksud kesetaraan gender adalah suatu kondisi dimana semua manusia (baik laki-laki maupun perempuan) bebas mengembangkan kemampuan personal mereka dan membuat pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotype, peran gender yang kaku. Hal ini bukan berarti bahwa perempuan dan laki- laki harus selalu sama, tetapi hak, tanggung jawab dan kesempatannya tidak dipengaruhi oleh apakah mereka dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan.

7. Upaya yang dapat dilakukan untuk untuk mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam sehari-hari adalah memberikan penghargaan dan kesempatan yang sama pada perempuan dan laki-laki dalam menentukan keinginannya dan menggunakan kemampuannya secara maksimal di berbagai bidang.

8. Pandangan Kitab Suci dan ajaran Gereja tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan yaitu:
  • Pria dan wanita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, untuk menjadi teman hidup. Pria saja tidaklah lengkap. Allah sendiri berkata: “Tidaklah baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Untuk menyatakan bahwa wanita sungguh-sungguh merupakan kesatuan dengan pria, maka Tuhan menciptakan wanita itu bukan dari bahan lain, tetapi dari tulang rusuk pria itu.
  • Dalam Katekismus Gereja Katolik Artikel 371⎯373 disebutkan bahwa pria dan wanita diciptakan “satu untuk yang lain”, bukan seakan-akan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan Ia menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi “penolong” satu untuk yang lain, karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi (“tulang dari tulangku”), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya.
9. Kegiatan yang perlu dilakukan dalam upaya mengembangkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki adalah:
  • Mengakhiri diskriminasi terhadap semua wanita dan anak perempuan.
  • Meningkatkan pemberdayaan perempuan dalam berbagai kegiatan.
  • Menghilangkan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak baik di ranah publik maupun pribadi. Hal ini termasuk perdagangan manusia dan eksploitasi seksual pada perempuan dan anak.
  • Meningkatkan pelayanan umum dan kebijakan publik yang lebih pro terhadap perempuan.
10. Yang mencirikan bahwa manusia bermartabat sebagai pribadi berdasarkan KGK 357 yaitu:
  • Ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang.
  • Ia mengenal diri sendiri.
  • Ia dapat menjadi tuan atas diri sendiri.
  • Selalu mengabdikan diri dalam kebebasan.
  • Hidup dalam kebersamaan dengan orang lain.
  • Dipanggil membangun relasi dengan Allah, Penciptanya.
11. Manusia adalah ciptaan Allah yang bermartabat. Maksudnya adalah sebagai makhluk yang bermartabat, manusia memiliki di dalam dirinya akal budi, rasa, hati dan kehendak. Manusia menggunakan akal budi untuk mencari kebenaran. Manusia menggunakan perasaan untuk menilai kebaikan. Manusia menggunakan hatinya untuk memutuskan apa yang baik. Dan manusia menggunakan kehendak untuk memilih kebaikan. Antara akal budi, rasa, hati dan kehendak ada penyatuan mutlak bagi manusia dalam mencapai kebaikan umum, yaitu nilai-nilai keutamaan hidup yang berlaku bagi semua orang.

12. Manusia disebut sebagai citra Allah. Maksudnya adalah kata citra mungkin lebih tepat diartikan sebagai gambaran, sehingga manusia itu dapat dikatakan gambaran atau citra Sang Penciptanya, yaitu Allah sendiri.