Soal dan Jawaban materi Manusia Makhluk Otonom - Agama Katolik 10 SMA/SMK


Berikut adalah soal mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas X SMA/SMK materi Manusia Makhluk Otonom lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Jelaskan pengertian suara hati!
  2. Bagaimana suara hati bekerja dalam diri manusia?
  3. Mengapa suara hati dapat keliru?
  4. Bagaimana pandangan kitab suci dan ajaran Gereja tentang suara hati?
  5. Usaha apa yang dapat kita lakukan untuk membina suara hati?
  6. Apa itu media massa?
  7. Apa dampak positif dan negatif dari media massa?
  8. Kita harus bersikap kritis terhadap media massa. Apa maksudnya?
  9. Bagaimana sikap Yesus terhadap hukum Taurat, khususnya pelaksanaan Sabat?
  10. Bagaimana ajaran Gereja terkait dengan media?
  11. Apa itu gaya ideologi?
  12. Apa itu gaya hidup?
  13. Bagaimana sikap kita berhadapan dengan ideologi dan gaya hidup?
  14. Bagaimana sikap Yesus berhadapan dengan tawaran keduniaan pada waktu itu?
  15. Bagaimana sikap Yesus berhadapan dengan aliran-aliran yang ada pada jaman- Nya?
Kunci Jawaban:

1. Suara hati adalah kesadaran moral yang timbul dan tumbuh dalam hati manusia, sedangkan hati nurani secara sempit dapat diartikan sebagai penerapan kesadaran moral dalam situasi konkret, yang menilai suatu tindakan manusia atas buruk baiknya. Kesadaran moral itulah bentuk tanggung jawab dari otonomi manusia.

2. Suara hati bekerja dalam diri manusia melalui 3 Proses, yaitu: 
  • Sebelum bertindak, ia berfungsi sebagai petunjuk (indeks), yang mengingatkan pengetahuan kita bahwa ada yang baik dan ada yang buruk.
  • Pada saat-saat menjelang bertindak, ia bertindak sebagai hakim (iudeks), yang menyuruh kita melakukan yang baik dan melarang/ menghindari yang jahat.
  • Sesudah tindakan selesai dilakukan, ia berfungsi memberikan vonis (vindeks), yang akan menyatakan apakah perbuatan kita itu tepat atau tidak tepat.
3. Suara hati dapat keliru karena:
  • Suara hati tidak biasa didengarkan. Suara hati itu telah menunjukkan bahwa perbuatan itu buruk, tapi karena alas an tertentu perbuatan itu tetap dilakukan.
  • Pengaruh emosi seperti malu, takut, marah dsb, maka seseorang tidak lagi melakukan pertimbangan baik buruk dalam bertindak.
  • Kurangnya pendidikan nilai dalam keluarga, misalnya: kejujuran, pengampunan, peduli, dan lain-lain.
  • Pengaruh lingkungan dan pandangan dalam masyarakat
4. Pandangan kitab suci dan ajaran Gereja tentang suara hati adalah
  • Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua hukum, yaitu hukum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan. Hukum Allah menuju kepada kebaikan, sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan. Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang jahat dalam hati manusia (lihat Roma 7:13–26).
  • Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1778 ditekankan bahwa hati nurani adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah laksanakan, baik atau buruk secara moral.” Dalam segala sesuatu yang ia katakan atau lakukan, manusia berkewajiban mengikuti dengan seksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan hukum ilahi. Suara hati merupakan hukum yang diberikan oleh Allah dalam hati manusia.
5. Usaha yang dapat kita lakukan untuk membina suara hati yaitu:
  • Mengikuti suara hati dalam segala hal
  • Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani akan semakin terang dan berwibawa.
  • Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat dan kuat. Dipercayai orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan Allah. “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah.” (Matius 5: 8).
  • Mencari keterangan pada sumber yang baik. Misalnya dengan membaca: Kitab Suci, Dokumen-Dokumen Gereja, dan buku-buku lain yang bermutu.
  • Dengan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan/ pengalaman dan dapat dipercaya
  • Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret, dan sebagainya.
  • Koreksi diri atau introspeksi
  • Menjaga kemurnian hati terwujud dengan melepaskan emosi dan nafsu, serta tanpa pamrih, yang nampak dalam tiga hal, yaitu: 1. Maksud yang lurus (recta intentio): ia konsisten dengan apa yang direncanakan, tanpa dibelokkan ke kiri atau ke kanan. 2. Pengaturan emosi (ordinario affectum): ia tidak menentukan keputusan secara emosional. 3. Pemurnian hati (purification cordis): tidak ada kepentingan pribadi atau maksud-maksud tertentu di balik keputusan yang diambil.
Hal ini dapat dilatih dengan penelitian batin, seperti merefleksikan rangkaian kata dan tindakan sepanjang hari itu, berdoa sebelum melakukan aktivitas, dan lain-lain.

6. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti media massa adalah sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas.
Media Massa terdiri dari dua kata, yaitu Media dan Massa
Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan.

Jadi, Media Massa adalah sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.

7. Dampak positif dari media massa
  • Dapat memberikan informasi dengan cepat, sekaligus dipakai untuk menyimpan informasi.
  • Dapat dipakai untuk membangun sikap peduli antara satu dengan yang lain.
  • Dapat membangun relasi dengan lebih mudah.
  • Memberikan kemudahan dalam bidang pendidikan, belanja, dan lain- lain.
Dampak negatif dari media massa, antara lain:
  • Berawal dari media sosial sering terjadi tindak kejahatan seperti penipuan, pembunuhan, penculikan, dan lain-lain.
  • Membuat orang menjadi susah bersosialisasi dengan dunia sekitarnya.
  • Situs media sosial akan membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri, mereka menjadi tidak sadar akan lingkungan di sekitar meraka karena terlalu banyak menghabiskan waktu mereka dengan menggunakan internet.
  • Media sosial dapat membuat anak-anak dan remaja menjadi lalai dan juga tidak bisa membagi waktu karena terlalu asyik dengan dunia maya.
8. Kita harus bersikap kritis terhadap media massa. Maksudnya adalah: Bersikap   kritis   tidak   berarti menolak mentah-mentah tentang media, melainkan kita mencoba menyaringnya dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang kita pilih dan kita percaya. Sikap kritis berarti mampu mempertimbangkan baik-buruk sesuatu hal, selektif dan mampu membuat skala prioritas sebelum kita mengambil suatu sikap. Dengan demikian, kita akan dapat menempatkan media massa pada tempat yang semestinya bagi perkembangan diri kita.

9. Sikap Yesus terhadap hukum Taurat, khususnya pelaksanaan Sabat adalah memerdekakan sesuai dengan maksud asli hukum Taurat itu sendiri. Yesus memaklumkan bahwa Allah itu pembebas. Allah ingin memungkinkan manusia mengembangkan diri secara lebih utuh dan penuh. Segala hukum, peraturan, dan perintah harus diabdikan kepada tujuan pemerdekaan manusia. Maksud terdalam setiap hukum ialah membebaskan atau menghindarkan) manusia dari segala sesuatu yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula tujuan hukum Taurat. Sikap Yesus terhadap hukum Taurat dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih.

10. Ajaran Gereja terkait dengan media adalah Konsili Vatikan II melalui Inter Mirifica, Gereja ingin mengajak umat manusia untuk menyadari peran positif berbagai sarana komunikasi sosial untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi, agar harkat kemanusiaannya semakin hari semakin tampak dan semakin berkembang. Selain itu, aneka sarana komunikasi sosial juga dapat dimanfaatkan untuk mewartakan kabar sukacita yang menjadi warisan teragung Kristus, demi keselamatan umat beriman kristiani, bahkan juga demi kemajuan hidup manusia pada umumnya. Dengan demikian media komunikasi sosial dapat dipakai sebagai sarana untuk mewartakan Kerajaan Allah.

11. Gaya ideologi adalah seperangkat ide yang membentuk keyakinan dan paham untuk mewujudkan cita-cita manusia.

12. Gaya hidup (Bahasa Inggris: lifestyle) adalah bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya. Gaya hidup bisa dilihat dari cara berpakaian, kebiasaan, dan lain-lain. Gaya hidup bisa dinilai relatif tergantung penilaian dari orang lain. Gaya hidup juga bisa dijadikan contoh dan juga bisa dijadikan hal tabu. Contoh gaya hidup baik: makan dan istirahat secara teratur, makan makanan 4 sehat 5 sempurna, dan lain-lain. Contoh gaya hidup tidak baik: berbicara tidak sepatutnya, makan sembarangan, dan lain-lain.

13. Sikap kita berhadapan dengan ideologi dan gaya hidup adalah Bersikap kritis pada media dan berbagai ideologi menunjukkan bahwa kita mempunyai sikap iman. Sikap iman merupakan bentuk sikap bagaimana kita menerima Allah dan kasih Allah yang diwahyukan kepada kita dalam pribadi Yesus melalui komitmen-komitmen kita. Sikap kritis terhadap ideologi yang ada, semestinya membuat kita mampu bertahan dan berkembang sebagai seorang Kristen sejati di tengah-tengah dunia ini.

14. Sesudah Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, secara fisik Yesus lemah. Kondisi “lemah” tersebut dimanfaatkan oleh iblis untuk mencobai Yesus. Ia mencobai Yesus dengan menawarkan hal-hal yang menggiurkan (lihat Lukas 4:1⎯13).

Godaan-godaan iblis bertujuan agar Yesus menggagalkan pilihan (opsi) mewartakan Kerajaan Allah, dan supaya Yesus menyibukkan diri dengan jaminan sosial, ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan.

Sikap Yesus berhadapan dengan tawaran keduniaan pada waktu itu adalah Yesus menolaknya, bukan karena hal-hal itu jelek, tetapi karena ada hal yang lebih pokok, yaitu Kerajaan Allah.

15. Sikap Yesus berhadapan dengan aliran-aliran yang ada pada jaman- Nya adalah Yesus ternyata tidak memilih salah satu dari kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut di atas. Yesus memilih aliran dan gerakan-Nya sendiri, yaitu mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Dalam rangka mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah, Yesus menyapa orang-orang miskin dan banyak bergaul dengan mereka atas dasar kemanusiaan.