Soal dan Jawaban materi Dampak dalam Bidang Sosial-Budaya dan Pendidikan - Sejarah Indonesia XI SMA/SMK


Berikut adalah soal mata pelajaran Sejarah Indonesia XI SMA/SMK materi Dampak dalam Bidang Sosial-Budaya dan Pendidikan lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Coba jelaskan dan bagaimana pendapatmu tentang kebijakan itu?
  2. Dalam mengendalikan dan memaksa rakyat, para penguasa Belanda memanfaatkan kultur feodal yang telah ada. Coba jelaskan, dan mengapa Belanda menggunakan kultur itu?
  3. Buktikan bahwa Raffles sangat memperhatikan bidang ilmu pengetahuan, sejarah, dan budaya di Indonesia
  4. Benarkan R.A. Kartini berpandangan maju dan modern, jelaskan!
  5. Dengan dilaksanakannya Politik Etis di Indonesia telah membuat perubahan yang signifikan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, coba jelaskan!

Kunci Jawaban

1. Dalam konteks sosial Pemerintah Belanda telah menjalankan kebijakan yang diskriminatif. Diskriminasi ini dilakukan dengan stratifikasi penduduk di indonesia. Misalnya tidak boleh sekolah di sekolah khusus Eropa atau menduduki jabatan tertentu. Hanya orang pribumi dari kalangan bangsawan atau ningrat yang derajatnya dianggap tinggi oleh orang Eropa, dan bisa sekolah hingga tinggi.

Pendapatmu saya tentang kebijakan itu adalah upaya Belanda untuk mempertahankan kekuasaan Belanda dengan memecah belah bangsa Indonesia melalui politik adu domba.

2. Dalam mengendalikan dan memaksa rakyat, para penguasa Belanda memanfaatkan kultur feodal yang telah ada. 

Feodalisme merupakan sebuah sistem sosial atau sistem politik yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan. Sistem ini mengkotak-kotakkan status sosial yang ada pada masa Hindia Belanda. 

Feodalisme sangat mengagung-agungkan kekuasaan sang raja atau penguasa di dalam suatu kerajaan. Dengan mengontrol dan membujuk penguasa, Belanda dapat melakukan kepentingannya di daerah kolonial dengan mudah, sehingga mampu menjadikan daerah tersebut sebagai wilayah kekuasaannya.

Belanda menggunakan kultur itu agar:
  • Belanda lebih mudah mengontrol masyarakat dengan mempertahankan penguasa-penguasa lokal setempat yang bisa diajak kerjasama sebagai penguasa boneka, dan membuang penguasa yg tidak mau bekerjasama.
  • Belanda lebih mudah di dalam menguasai kerajaan dengan memanfaatkan sistem feodal baik itu membujuk, merayu, menyuap atau mengancam penguasa kerajaan dan kesultanan tradisional di Indonesia. Sama dengan sistem yang pertama, bagi yang mau bekerja sama dengan belanda, akan diberikan kekuasaan dan kekayaan, namun yang menentang akan digulingkan.
3. Raffles sangat memperhatikan bidang ilmu pengetahuan, sejarah, dan budaya di Indonesia yaitu:
  • Menulis buku sejarah berjudul 'History of Java' pada tahun 1817 di London, terbagi menjadi dua jilid.
  • Menulis buku sejarah berjudul 'History of the East Indian Archipelago' di Edinburg pada tahun 1820, terbagi menjadi tiga jilid.
  • Aktif mendukung sebuah perkumpulan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yaitu Bataviaach Genootschap.
  • Merintis Kebur Raya Bogor
  • Mendukung penelitian arkeologi dan peninggalan-peninggalan kuno seperti Candi Borobudur yang ditemukan pada masa pemerintahannya di tahun 1814 dan candi Prambanan.
4. Iya benar, R.A. Kartini berpandangan maju dan modern. Pada itu R.A. Kartini sangat membenci budaya feodalisme yang ada di lingkungannya. Ia membenci sembah sujud yang berlebihan dari rakyat kepada pejabat pribumi, juga membenci sopan santun yang terlalu berlebihan dari anak kecil terhadap orang yang lebih tua. Hingga akhirnya ia menulis surat kepada teman-temannya di Belanda yang kemudian dikumpulkan menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Isi buku tersebut membahas kesedihan R.A. Kartini yang hidup dalam belenggu feodalisme. Ia ingin hidup setara dengan kaum pria dan membela derajat wanita sehingga wanita bisa memiliki derajat dan haknya.

5. Dengan dilaksanakannya Politik Etis di Indonesia telah membuat perubahan yang signifikan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Politik etis adalah politik balas budi dilakukan oleh belanda sebagai upaya me'makmur'kan negara jajahannya melalui berbagai program seperti pendidikan, irigasi, dan emigrasi.

Setelah adanya politik etis, perjuangan untuk kemerdekaan berubah menjadi bersifat nasional dan dipimpin oleh para cendekiawan. Hal ini terjadi karena kolonial belanda memberikan kesempatan kepada para bumiputera untuk meraih pendidikan yang setinggi-tingginya hingga ke luar nusantara, sehingga para tokoh atau pribumi yang belajar ke luar negeri memiliki pemikiran yang lebih maju dan melakukan pergerakan nasional untuk kemerdekaan Indonesia.

Perlahan-lahan bangsa Indonesia belajar di sekolah kemudian menyadari bahwa mereka benar-benar tertindas dan harus melawan. Tidak heran, tokoh seperti Sukarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka dan lain-lain mulai bergerak berjuang menggunakan cara yang lebih baik dalam mengusir penjajah, yakni cara diplomasi. Setelah itu, perjuangan bangsa Indonesia bukan hanya perjuangan fisik, namun perjuangan diplomasi.