Soal dan Jawaban materi Antara Kolonialisme dan Imperialisme - Sejarah Indonesia XI SMA/SMK


Berikut adalah soal mata pelajaran Sejarah Indonesia XI SMA/SMK materi Antara Kolonialisme dan Imperialisme lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Jelaskan bagaimana kondisi Eropa Barat sekitar abad ke-14 sampai abad ke-15, sehingga akhirnya orang-orang Eropa itu mencari dunia baru ke timur?
  2. Jelaskan bahwa VOC adalah negara dalam negara!
  3. Benarkah J.P. Coen merupakan peletak dasar bagi penerapan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia?
  4. Apa yang dimaksud dengan kolonialisme dan imperialisme? Dalam praktik keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan bahkan dikatakan kolonialisme merupakan penguatan dari imperialisme, apa maksudnya?
  5. Apakah politik devide et impera? Tunjukkan bukti-bukti bahwa VOC telah menerapkan politik devide et impera!
  6. Jelaskan kaitan antara korupsi dan bubarnya VOC!
  7. Jelaskan dengan konsep dan prinsip perubahan dan keberlanjutan terkait dengan pemerintahan dan kebijakan Raffles di Indonesia.
  8. Cari benang merah kaitan antara VOC, Tanam Paksa, dan Usaha Swasta, yang pada akhirnya membuat kemiskinan dan penderitaan rakyat!
  9. Ceritakan kembali proses masuknya agama Kristen ke Indonesia!
  10. Tahun 1563, dapat dikatakan sebagai tahun pertumbuhan agama Katolik di tanah Minahasa Sulawesi Utara. Coba jelaskan!

Kunci Jawaban

1. Kondisi Eropa Barat sekitar abad ke-14 sampai abad ke-15 adalah mengalami perubahan yang drastis, setelah terputusnya jalur perdagangan akibat takluknya kota Konstantinopel oleh Kesultanan Turki Usmani. Hal ini menyebabkan meningkatnya harga rempah-rempah yang sangat berharga di Eropa, sehingga akhirnya orang-orang Eropa itu mencari dunia baru ke timur.

2. VOC adalah negara dalam negara sebab meski statusnya sebagai perusahaan, VOC memiliki hak-hak khusus atau hak oktroi, sehingga dapat bertindak seperti sebuah negara dengan menyatakan perang, membuat perdamaian, monopoli terhadap perdagangan rempah-rempah dan memiliki pasukan militer sendiri.  

3. J.P. Coen merupakan peletak dasar bagi penerapan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia, hal tersebut adalah Benar, Jan Pieterszoon Coen merupakan peletak dasar bagi penerapan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia karena merupakan tokoh yang mendorong monopoli rempah-rempah oleh VOC, penggunaan tentara untuk mempertahankan monopoli ini dan menaklukkan wilayah untuk VOC, serta merupakan tokoh yang mendirikan Batavia sebagai pusat kekuasaan VOC.

4. Kolonialisme adalah suatu sistem di mana suatu negara menjajah wilayah atau negara lain, dengan mendirikan koloni.

Imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan, seperti sumber daya alam berharga atau bahan baku untuk industri.

Dalam praktik keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan karena jika muncul perlakuan kolonialisme maka kedepannya pasti akan muncul kelakuan imperialisme, dan jika ada kelakuan imperialisme, maka sebelumnya pasti dilakukan kolonialisme terlebih dahulu.

5. Politik devide et impera adalah politik memecah belah dan menaklukkan yang diterapkan penjajah Belanda.  

Politik ini dilakukan VOC dengan mendukung salah satu dari pihak yang bertikai diantara kerajaan di Indonesia. VOC akan membantu pihak ini dan sebagai gantinya VOC akan mendapatkan wilayah kekuasaan dan monopoli perdagangan.

Adapun bukti-bukti bahwa VOC telah menerapkan politik devide et impera yaitu  Perang Makassar. Belanda berhasil menaklukkan Kesultanan Gowa dan kota Makassar pada tahun 1669, setelah mendapat bantuan dari raja Bone, Arung Palakka, yang saat itu berseteru dengan Sultan Hasanudin. 

6. Kaitan antara korupsi dan bubarnya VOC adalah korupsi terjadi dimana para pegawai VOC yang gajinya rendah menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri, sehingga menyebabkan berkurangnya pendapatan VOC, sehingga kerugian VOC meningkat dan akhirnya bangkrut.

7. Konsep dan prinsip perubahan terkait dengan pemerintahan dan kebijakan Raffles di Indonesia antara lain:
  • terjadi perubahan pemerintahan dari pemerintahan kolonial dibawah kerajaan Belanda menjadi pemerintahan di bawah Inggris melalui EIC (Perusahaan Dagang Inggris di Hindia Timur)
  • Raffles melakukan perubahan berupa menghapuskan perbudakan dan menerapkan sistem pajak tanah
Konsep dan prinsip keberlanjutan  terkait dengan pemerintahan dan kebijakan Raffles di Indonesia yaitu:
  • Raffles masih tetap menjalankan politik penjajahan
  • Raffles masih menggunakan birokrat Belanda dalam pemerintahannya
8. Benang merah kaitan antara VOC, Tanam Paksa, dan Usaha Swasta, yang pada akhirnya membuat kemiskinan dan penderitaan rakyat adalah VOC yang merupakan kongsi dagang yang memonopoli perdagangan daerah jajahannya dengan menggunakan sistem tanam paksa. Mereka tidak memberi upah melainkan dengan cara memaksa. Serta usaha swasta yang menerapkan sistem kapitalis. Tentu ketiganya menimbulkan kesenjangan sosial sehingga mengakibatkan kemiskinan & penderitaan rakyat.

9. Proses masuknya agama Kristen ke Indonesia adalah sebagai berikut:
Mula-mula penyebaran itu di arahkan kepada orang yang berada di sekitar tempat perdagangan rempah-rempah, umumnya di Maluku dan kemudian meluas ke segala pelosok di tanah air.

Pendeta-pendeta Protestan yang datang yang datang dari Negeri Belanda pada umumnya bekerja untuk bangsa Belanda, tetapi kemudian mereka juga mengajarkannya kepada penduduk asli. Dalam penyiaran ini pemerintah penjajahan sangat membatasi pekerjaan pengabaran agama kepada penduduk asli, karena takut mengganggu perdagangan yang mereka laksanakan. Namun, penyebaran agama tidak dapat dan tidak boleh disamakan dengan kepentingan dagang. Oleh karena itu, meskipun terdapat hambatan dari pemerintah penjajah, agama Kristen Protestan berkembang terus.

10. Tahun 1563, dapat dikatakan sebagai tahun pertumbuhan agama Katolik di tanah Minahasa Sulawesi Utara. Agama Kristen pertama kali masuk dalam bentuk ajaran Kristen Katolik pada tahun 1563 ketika para misionaris Portugis pertama datang. Para misionaris ini kemudian menyebarkan ajaran Katolik dan membabtis beberapa raja dari Minahasa.

Namun persebaran agama Katolik terhambat dan tidak bisa berkembang, hingga sekarang ajaran Kristen yang mayoritas dipeluk oleh orang Minahasa adalah Kristen Protestan bukan Kristen Katolik.
Penyebab hambatan persebaran Katolik adalah kekalahan peperangan antara Portugis dengan kesultanan Ternate dan Tidore yang beragama Islam serta dengan VOC Belanda yang kebanyakan beragama Protestan.

Pada 12 Juni 1831, dua misionaris Jerman yang dididik di Belanda, yaitu Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz tiba di daerah Minahasa untuk memberitakan Injil. Kedatangan mereka memulai babak baru persebaran agama Kristen di tanah Minahasa, kali ini dalam bentuk ajaran Kristen Protestan sebagaimana yang dianut oleh orang Belanda, bukan lagi ajaran Kristen Katolik sebagaimana yang dianut oleh orang Portugis.

Para misionaris Protestan ini berhasil dalam mengajak orang Minahasa dalam beragama Kristen, seperti terlihat dari agama mayoritas orang Minahasa saat ini.

Persebaran agama Kristen di tanah Minahasa dikelola oleh organisasi yang disebut The Protestantsche Kerk In Nedherlandsch-Indie (Gereja Potestan Hindia Belanda) atau yang sekarang bernama GPI (Gereja Protestan Indonesia ).