Misteri Terowongan Bawah Tanah Siantar Hotel: Jalur Pelarian Belanda yang Kini Disebut Jadi Gudang Minuman
Misteri terowongan bawah tanah peninggalan era kolonial di Siantar Hotel, Pematangsiantar, belakangan ini kembali menjadi perbincangan hangat netizen setelah akun Facebook isiantar.com mengunggah sebuah video terkait keberadaan situs bersejarah tersebut.
Terowongan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1913 hingga 1915 ini terletak di Jalan W.R. Supratman, tepat di seberang Taman Bunga.
Menurut berbagai kesaksian, infrastruktur bawah tanah ini dahulu berfungsi sebagai markas pertahanan sekaligus tempat perlindungan bagi tentara Belanda.
Keberadaan terowongan ini menyimpan nilai sejarah yang sangat tinggi, terutama karena keterkaitannya dengan peristiwa bentrokan berdarah dalam mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945.
Mengenai jaringan jalurnya, terdapat beberapa versi cerita yang berkembang di tengah masyarakat dan dikuatkan oleh kesaksian para netizen.
Sebuah akun bernama Firman Yanto Mend memberikan rincian mendalam mengenai estimasi kedalaman serta fungsi historis dari bunker tersembunyi tersebut.
Terowongan Siantar Hotel adalah bunker bawah tanah peninggalan Belanda yang terletak di Siantar Hotel, Jalan W.R. Supratman, Pematangsiantar, dibangun sekitar tahun 1913–1915."Terowongan ini diyakini terhubung dari hotel menuju Balai Kota dan pabrik es (Pematang), dengan kedalaman sekitar 20 meter.Detail Terowongan Siantar Hotel:Fungsi Historis: Digunakan sebagai markas Belanda dan tempat perlindungan.Lokasi: Berada di area Siantar Hotel, tepat di seberang Taman Bunga.Kondisi Saat Ini: Tidak dibuka untuk umum dan sebagian digunakan sebagai gudang minuman hotel, namun pernah ditunjukkan kepada akademisi.Nilai Sejarah: Terkait dengan peristiwa sejarah penting, termasuk bentrokan tahun 1945.Pihak DHC BPK 45 (Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan) telah berkoordinasi mengenai keberadaan terowongan ini.
Informasi ini selaras dengan komentar netizen lainnya, Pujiono Hadi, yang menyebutkan bahwa rumor mengenai jalur bawah tanah tersebut sebenarnya sudah bukan hal baru lagi bagi warga lokal.
Menuju pabrik es katanya.Cerita ini sudah ada sejak tahun 70-an.
Namun, netizen bernama Ervin memberikan sudut pandang teknis yang sedikit berbeda terkait fungsi utama dari jaringan bawah tanah yang berhubungan dengan sejarah kelistrikan kota.
Lebih tepatnya dari PT Pabrik Es Siantar ke Siantar Hotel dan Kantor BKD Kota Pematangsiantar.Kita pertama kali yang memiliki PLTA untuk membantu arus listriknya, dan terowongan ini khusus untuk saluran kabel.
Terlepas dari perdebatan fungsinya, kondisi fisik bagian dalam terowongan saat ini diketahui sudah mengalami banyak perubahan akibat penutupan jalur.
Rinto Pasaribu membeberkan bahwa akses terowongan tersebut kini sudah dipersempit dan beralih fungsi.
Itu terowongannya di dalam sudah ditutup tembok.Di bawah panjangnya tinggal kurang lebih 20 meter dan sekarang dijadikan gudang minuman hotel.
Fakta penutupan ini turut dibenarkan oleh Agrina Rizky U, yang mengaku sempat menyaksikan langsung kondisi di dalam bunker tersebut saat melakukan praktik kerja lapangan.
Sudah pernah masuk ke dalam itu juga, pas PKL di Siantar Hotel.Tetapi aslinya di dalamnya sudah ditutup tembok dan jadi gudang tempat simpan minuman-minuman gitu.
Di sisi lain, kisah-kisah lisan mengenai kemegahan labirin ini di masa lalu terdengar jauh lebih luas, bahkan disebut-sebut bisa menembus hingga ke luar kota.
Erdy Stanley Siahaan, mantan tenaga honorer di Dinas Pariwisata Kota Siantar tahun 1995, membagikan informasi mencengangkan yang sempat dikumpulkan oleh timnya kala itu.
Dulu ketika saya pernah jadi tenaga honorer di Dinas Pariwisata Kota Siantar sekitar tahun 1995, pernah dapat info tentang terowongan itu yang konon pernah dilakukan penelitian sejarah, bahwa terowongan itu sangat panjang dan memiliki banyak lorong-lorong kecil.Tetapi lorong besarnya cukup panjang hingga ke Pantai Bedagai yang diperkirakan dapat dilalui kendaraan seperti mobil pada zaman penjajahan Belanda.Pada saat peristiwa Siantar Hotel dalam sejarah perjuangan, diduga pimpinan Belanda melarikan diri melalui terowongan ini ke pantai Laut Bedagai.Menurut info, terowongan ini menghubungkan beberapa titik pusat markas Belanda seperti Gedung Juang 45, di mana ada lantai papan yang cukup luas yang konon dijadikan oleh orang-orang Belanda sebagai ruang ballroom pada saat itu, dan sekarang bisa juga dibuktikan di bawah lantai papan itu memang terasa kosong saat kita hentakkan kaki di atasnya.Titik lainnya diduga ada di Kantor Walikota, pabrik es Siantar melalui bioskop Simalungun zaman dulu yang sekarang menjadi Suzuya Mall Jalan Sutomo.Peneliti sebelumnya juga berpendapat bahwa mereka pernah melepaskan dua ekor anjing ke dalam terowongan itu, tetapi tidak kembali.Kami juga sebagai tim pengembangan pariwisata pada waktu itu ingin mengangkat hal ini untuk dijadikan tempat pariwisata.Akan tetapi, Pejabat Walikota saat itu masih mempertimbangkan risiko sejarah yang akan muncul, karena pada saat peperangan merebut kekuasaan dari tangan Belanda (peristiwa Siantar Hotel) saat itu diduga banyak sekali korban-korban perang yang membusuk di dalam terowongan tersebut.Hal inilah yang menghambat rencana besar itu tidak dapat diwujudkan.Kisah ini kami dapat dari seorang mantan pejuang Belanda yang saat itu bertugas menjaga gedung Capital Belanda di bekas gedung bioskop Simalungun.Beliau datang bersama keluarga untuk mengenang aktivitasnya selama menjadi pejuang Belanda di Siantar.
Melihat pentingnya aset ini, pihak Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan (DHC BPK 45) dikabarkan telah berkoordinasi secara khusus mengenai keberadaan situs tersebut.
Walau kini tidak dibuka untuk umum dan menyisakan banyak misteri yang belum terpecahkan, Terowongan Siantar Hotel tetap berdiri sebagai saksi bisu rekam jejak kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan di tanah Pematangsiantar.
Sumber: https://web.facebook.com/reel/1304390711869096

Posting Komentar untuk "Misteri Terowongan Bawah Tanah Siantar Hotel: Jalur Pelarian Belanda yang Kini Disebut Jadi Gudang Minuman"