Terbayang-bayang dengan Seseorang Terkena Guna-Guna
Dunia rasanya seperti runtuh setiap kali lampu kamar dimatikan. Di sampingku, suamiku—lelaki sabar yang banting tulang demi keluarga—sudah tertidur pulas. Namun aku? Mataku terjaga, menatap langit-langit kamar dengan hati yang remuk.
Bukan karena aku tak sayang pada suamiku. Tapi ada satu nama, satu bayangan laki-laki lain yang tiba-tiba datang dan mengunci pikiranku. Aku merasa seperti sedang "sakit". Tiap malam aku gelisah, dada sesak, dan bayangan dia selalu muncul tanpa permisi. Apakah aku terkena guna-guna? Ataukah ini hukuman atas hati yang kurang bersyukur?
Aku menangis di sujud malamku. Rasanya nyesak sekali. Aku merasa menjadi istri yang paling jahat di dunia. Di saat suamiku memberikan seluruh hidupnya, aku justru "berbagi" pikiranku dengan orang lain yang mungkin di sana sedang tertawa tanpa memikirkanku sedikit pun.
Untuk teman-teman yang mungkin merasakan sesak yang sama, inilah caraku mencoba bangkit melawannya:
Aku sadar, bayangan itu hanyalah debu yang merusak pemandangan. Tiap kali wajah itu muncul, aku paksa lidahku berucap Astaghfirullah. Dia tidak memikirkanku, dia cuek, sementara aku di sini membuang waktu dan mengabaikan nikmat Allah.
Aku mulai memaksakan diri untuk lebih sering mengajak suami ngobrol, mencari sisi romantis yang mungkin selama ini tertimbun rutinitas. Ternyata, obat dari kekaguman pada orang lain adalah dengan melihat kembali kebaikan pasangan sendiri.
Jika pikiran itu terasa seperti serangan gaib (pelet), aku membentengi diri dengan Ayat Kursi sebanyak-banyaknya. Meyakini bahwa ribuan malaikat menjagaku, hingga tak ada celah bagi setan untuk membisikkan nama laki-laki itu lagi.
Komentar
Posting Komentar