Suami yang Ke Kanak - kanakan

Dua bulan sudah ranjang ini terasa dingin. Tanpa kata, tanpa nafkah, dan tanpa kejelasan. Suamiku pergi begitu saja, membawa separuh jiwaku tanpa meninggalkan sepatah kata talak. Ia pulang ke pelukan ibunya, seperti anak kecil yang mengadu setelah kalah bermain, lalu menceritakan sejuta "dosa" yang tidak pernah aku lakukan hingga membuat mertuaku menatapku dengan benci.

Tadi malam, di bawah lampu masjid yang temaram saat salat Tarawih, takdir mempertemukan kami. Aku melihat ibu mertuaku di shaf depan. Jantungku berdegup kencang, tanganku gemetar.

Selesai salam, semua orang bersalaman. Tapi aku? Aku terpaku. Hatiku masih perih mengingat kata-katanya yang menyuruh putranya menceraikan aku. Aku tidak sanggup mengulurkan tangan, bukan karena sombong, tapi karena lukaku masih basah. Aku melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata.

Apakah aku berdosa? Entahlah. Yang aku tahu, menghargai diri sendiri adalah sisa kekuatan terakhir yang aku punya. Selama ini aku mengemis, aku membujuk, aku menjemputnya kembali seperti memungut pecahan kaca yang melukai tanganku sendiri. Tapi sekarang, cukup.

Statusku digantung. Aku istri yang tak dianggap, tapi juga belum dilepaskan secara sah. Kini, aku hanya sedang menghitung hari.

Bukan menghitung hari untuk kepulangannya, tapi menghitung hari menuju 3 bulan 10 hari—saat di mana kesabaranku genap, dan kakiku akan melangkah ke pengadilan untuk menjemput keadilanku sendiri.

Komentar