Masa Puber Kedua Perempuan

Tolong jawab jujur, Pak... apa benar perempuan itu ada masa puber keduanya? Karena jujur, jantung saya rasanya mau copot setiap kali melihat perubahan istri saya belakangan ini.

Kami sudah delapan tahun menikah. Dulu, kami memulai segalanya tanpa cinta. Kami menikah lewat jalan taaruf, menjalankan peran layaknya robot di dua tahun pertama. Baru di tahun ketiga, saat anak kami lahir, cinta itu tumbuh seiring dengan rasa syukur.

Tapi sekarang, saya harus bekerja di luar pulau. Jarak ribuan kilometer memisahkan kami. Istri saya selalu bilang, "Mas, tangki cintaku itu perhatian, bukan uang atau hadiah." Saya tahu dia kesepian. Saya tahu dia butuh pelukan, bukan sekadar transferan. Tapi apa daya, jarak adalah musuh terbesar saya.

Akhir-akhir ini, dia berubah total. Dia mulai gila belanja makeup, body care, bahkan minta izin ikut gym dan pilates. Sebagai suami, saya senang dia merawat diri. Uang pun semua ada di tangannya. Tapi yang membuat saya sesak adalah cara dia bicara, cara dia menatap cermin, dan cara dia memulas gincu di bibirnya... itu berbeda. Bukan untuk saya yang jauh di sini.

Ada satu ketakutan besar yang menghimpit dada saya sampai rasanya sulit bernapas.

Dulu, saya pernah mengkhianati kepercayaannya. Saya pernah mendua. Meski saya sudah bersujud minta maaf dan bertaubat nasuha, saya tahu istri saya adalah tipe pendendam. Luka itu mungkin sudah kering, tapi bekasnya tidak pernah hilang.

Sekarang, setiap kali melihat dia semakin cantik dan glowing, saya bukannya bangga, tapi malah gemetar. Saya takut ini adalah caranya membalas dendam. Saya takut dia sengaja mempercantik diri untuk orang lain, hanya agar saya merasakan perih yang sama seperti yang dia rasakan dulu.

"Mas, aku merasa kesepian," katanya lewat telepon tempo hari dengan suara dingin.

Hati saya hancur. Apakah ini hukuman bagi saya? Apakah puber keduanya ini adalah awal dari perpisahan kami? Ternyata benar, luka yang kita beri ke orang lain suatu saat akan kembali ke kita dengan bentuk yang jauh lebih menyakitkan.

Untuk para suami, hargailah istrimu selagi dia masih mengemis perhatianmu. Karena kalau dia sudah mulai "berhenti" meminta dan memilih sibuk mempercantik diri tanpa peduli lagi padamu... mungkin saat itulah kamu benar-benar kehilangannya.

Komentar