Setelah mempelajari Modul 3 BMP TPAI tentang Return dan Risiko, Anda sebagai mahasiswa mulai tertarik untuk memahami kinerja investasi saham secara lebih terukur, khususnya dalam pembentukan portofolio.
Untuk itu, Anda diminta memilih minimal 2 (dua) saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membentuk suatu portofolio saham.
Saham yang dipilih harus:
1. terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI);
2. memiliki data harga historis yang tersedia secara publik (misalnya melalui www.idx.co.id, Yahoo Finance, Investing.com, atau sumber sejenis);
3. mencantumkan sumber data yang digunakan secara jelas dalam jawaban.
Dalam diskusi ini, Anda berperan sebagai investor perorangan (investor ritel), yaitu individu yang berinvestasi menggunakan dana pribadi, yang ingin membentuk portofolio saham.
Instruksi Pengerjaan Diskusi 2
Setelah memilih minimal dua saham dan membentuk portofolio, jelaskan:
1. Jelaskan alasan dan pertimbangan Anda dalam memilih saham-saham tersebut, serta bagaimana ekspektasi return dari portofolio yang Anda bentuk.
2. Risiko apa saja yang mungkin Anda hadapi dari portofolio tersebut?
3. Jelaskan apakah terdapat risiko yang dapat dihindari (diversifiable risk) dan risiko yang tidak dapat dihindari (non-diversifiable risk), serta hubungkan dengan portofolio saham yang Anda buat.
Jawaban:
Alasan Pemilihan Saham dan Ekspektasi Return Portofolio
Saya memilih saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pertimbangan utama pemilihan dua emiten ini didasarkan pada stabilitas fundamental keuangan serta keterwakilan industri yang berbeda. BBCA mewakili sektor keuangan dengan rasio profitabilitas yang konsisten, sedangkan TLKM mewakili sektor infrastruktur telekomunikasi yang memiliki arus kas stabil. Data harga saham historis penutupan harian dan bulanan kedua emiten diakses secara publik melalui platform Yahoo Finance (finance.yahoo.com).
Sebagai investor perorangan, ekspektasi return portofolio ini dihitung menggunakan rata-rata tertimbang dari ekspektasi return individual masing-masing saham sesuai dengan porsi alokasi modal. Apabila saya mengalokasikan dana secara seimbang sebesar masing-masing lima puluh persen pada BBCA dan TLKM, tingkat pengembalian yang saya harapkan merupakan kombinasi dari potensi capital gain serta dividen berkala yang dibagikan oleh kedua perusahaan tersebut.
Risiko yang Dihadapi Portofolio
Dalam mengelola portofolio gabungan BBCA dan TLKM, terdapat beberapa risiko spesifik yang berpotensi memengaruhi kinerja investasi saya. Risiko pertama adalah fluktuasi harga saham di pasar akibat pergerakan sentimen makroekonomi, seperti perubahan suku bunga acuan dan laju inflasi. Risiko kedua adalah perubahan regulasi pada industri perbankan yang dapat menekan marjin bunga bersih BBCA, serta peningkatan persaingan tarif data yang berpotensi menggerus tingkat keuntungan TLKM. Risiko ketiga terkait dengan pergerakan arus modal asing di Bursa Efek Indonesia yang sering memicu volatilitas harga pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Diversifiable Risk dan Non-Diversifiable Risk pada Portofolio
Sesuai dengan pembahasan Modul 3 BMP Teori Portofolio dan Analisis Investasi, risiko investasi terbagi menjadi risiko yang dapat dihindari (diversifiable risk) dan risiko yang tidak dapat dihindari (non-diversifiable risk). Diversifiable risk atau risiko sistematis khusus merupakan risiko yang melekat pada satu perusahaan atau industri tertentu. Dalam portofolio yang saya buat, penganekaragaman aset ke sektor perbankan dan telekomunikasi berhasil mengurangi risiko ini. Apabila kinerja sektor telekomunikasi tertekan oleh penurunan marjin usaha, stabilitas pendapatan dari sektor perbankan meminimalkan dampak penurunan nilai investasi secara keseluruhan.
Sebaliknya, non-diversifiable risk atau risiko sistematis merupakan risiko pasar yang memengaruhi seluruh emiten di bursa tanpa terkecuali. Risiko ini disebabkan oleh faktor-faktor makroekonomi, seperti krisis finansial global, perubahan kebijakan moneter nasional, atau ketidakpastian kondisi politik dalam negeri. Pembentukan portofolio kombinasi BBCA dan TLKM tidak dapat menghilangkan risiko sistematis ini karena kedua perusahaan tetap beroperasi dalam konteks perekonomian Indonesia yang sama.