Seperti yang diketahui, saat ini Indonesia sedang bersengketa hukum perdagangan dengan Uni Eropa di WTO perihal kebijakan larangan ekspor bijih nikel ke luar negeri

Seperti yang diketahui, saat ini Indonesia sedang bersengketa hukum perdagangan dengan Uni Eropa di WTO perihal kebijakan larangan ekspor bijih nikel ke luar negeri. Namun bukan hanya itu, terdapat dua isu kontroversial lainnya yang membuat Uni Eropa jengkel dengan Indonesia.Dua isu kontroversial tersebut yakni isu deforestasi dan perkebunan kelapa sawit. Pascal Lamy mengisahkan, pemerintah Indonesia tidak suka dengan tindakan Uni Eropa yang berupaya mengurangi konsumsi minyak sawit dan menetapkan kelapa sawit sebagai tanaman berisiko tinggi terhadap deforestasi. Adapun saat ini proses dokumen gugatan yang disampaikan Indonesia kepada WTO terhadap Uni Eropa sudah berjalan. Ada dua isu kontroversial antara Indonesia dan Uni Eropa, minyak sawit dan deforestasi. Indonesia tidak suka dengan tindakan Uni Eropa mengurangi minyak sawit dan menetapkan kelapa sawit sebagai tanaman berisiko tinggi terhadap deforestasi dan Uni Eropa pun tidak suka dengan tindakan Indonesia," ungkap Pascal Lamy kepada CNBC Indonesia dalam Mining Zone, dikutip Rabu (22/2/2023).

Seperti diketahui, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia kerap menjadi perdebatan dunia internasional karena isu deforestasi. Namun, Indonesia berhasil membuat kemajuan dengan menurunkan deforestasi secara signifikan.

Dikutip dari CNBCIndonesia

Pertanyaannya:

Arus informasi internasional dalam komunikasi pemerintahan, khususnya yang menyangkut masalah pemberitaan melalui media massa internasional, termasuk di dalamnya struktur jaringan komunikasi internasional.

Berdasarkarkan informasi diatas, analisislah dampak dari isu yang muncul pada informasi diatas terhadap ekonomi dan kedaulatan Indonesia dan solusi apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah di antara Indonesia dan Uni Eropa!

Jawaban:

Sengketa dagang antara Indonesia dan Uni Eropa terkait kebijakan larangan ekspor bijih nikel, kelapa sawit, dan isu deforestasi membawa dampak kompleks bagi ekonomi dan kedaulatan Indonesia.

Di sisi ekonomi, terdapat potensi penurunan pendapatan negara, pelemahan nilai rupiah, lesunya investasi, dan kenaikan harga barang. Namun, sengketa ini juga mendorong peluang diversifikasi pasar, percepatan hilirisasi industri, dan meningkatnya kesadaran lingkungan.

Sedangkan dari sisi kedaulatan, sengketa ini menghambat hilirisasi industri, menunjukkan ketergantungan pada pasar luar negeri, dan menunjukkan kelemahan diplomasi perdagangan. Namun, di sisi lain, sengketa ini memicu penguatan negosiasi, meningkatnya kesadaran nasional, dan diversifikasi hubungan internasional.

Penyelesaian sengketa ini membutuhkan dialog dan negosiasi intensif, diplomasi yang kuat, transparansi kebijakan, penegakan hukum yang tegas, kerja sama internasional, peningkatan kapasitas negosiasi, diversifikasi pasar, percepatan hilirisasi industri, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Dengan langkah-langkah strategis dan diplomasi yang kokoh, Indonesia diharapkan dapat menyelesaikan sengketa ini secara damai dan menguntungkan kedua pihak. Penting bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitasnya dalam bernegosiasi, menegakkan hukum, dan mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah perdagangan internasional.