Kasus: The One Adventure berawal dari sekelompok pencinta alam ingin membentuk suatu bisnis bersama

Kasus: The One Adventure

The One Adventure berawal dari sekelompok pencinta alam ingin membentuk suatu bisnis bersama. Kebetulan mereka terdiri dari berbagai minat seperti arung jeram, panjat tebing serta berbagai macam aktivitas outdoor lainnya. Dengan modal awal yang mereka miliki, akhirnya mereka membentuk suatu adventure provider yang berkonsep pada one step outdoor activity. Mulai dari panjat tebing, bersepeda, arung jeram, paintball hingga outdoor training management. Dengan modal itu merekamenjadikan The Adventure One sebagai operator outdoor activity yang memiliki banyak pelanggan, baik dari segmen perorangan maupun corporate. Namun seiring dengan munculnya banyak competitor dengan modal yang jauh lebih kuat dan serta dikelola dengan professional yang kaya akan inovasi dan strategi, pelan namun pasti pamor The Adventure One mulai redup, hal ini dikarenakan The Adventure One tidak memiliki pengalaman dalam mengelola perusahaan secara professional, mengingat fungsionaris  utama dari The Adventure One berasal dari pencinta alam yang awalnmya menganggap bisnis ini sebagai wahana bagi mereka untuk mempererat persaudaraan diantara pencinta alam, dan tidak siap menghadapi lingkungan bisnis yang kompetitif. Akibatnya, dengan pengelolaan yang kurang professional dan semakin kompetitifnya persaingan di dunia outdoor activity, lama kelamaan perusahaan pun merugi. Dalam keadaan ini, timbul pemikiran dari mereka agar merekrut seorang professional sebagai pemimpin mereka. Proses perekrutan pun dilakukan, mereka merekrut seorang general manager dari kalangan professional. General manager ini mengalami kesulitan dalam pengelolaan perusahaan tersebut. Mulai dari tidak jelasnya sistem administrasi, keuangan, operasional, serta berbagai sistem penting lainnya, ada hal yang sulit dirubah yaitu, kultur perusahaan yang lebih mirip dengan organisasi pencinta alam daripada perusahaan professional. Bahkan seolah-olah, mereka menganggap kantor lebih sebagai secretariat pencinta alam dibanding kantor, tak heran jika suasana kantor tersebut itu juga seperti pencinta alam, banyak yang mendengarkan music, bermain gitar, atau tidur-tiduran saat jam kantor. Hal yang sulit disangkal adalah persaudaraan mereka yang sangat kuat dari segalanya. Masalah yang menimpa satu orang selalu dianggap menjadi permasalahan bersama. Setiap kali mau mengeluarkan orang yang dianggap tidak produktif, atau melanggar peraturan, pasti mendapat penolakan dari yang lain. Setiap kali berniat mengeluarkan kebijakan,yang berimplikasi pada perubahan tersebut, selalu mengalami hambatan dari mereka. Intinya, mereka sebenarnya tidak siap untuk meninggalkan kultur pencinta alam menjadi kultur professional.

Pertanyaannya:

1. Apabila Anda direktur sebagai General Manager The one Adventure, apa yang Anda lakukan ?

2. Andaikata General Manager menggunakan jasa konsultan manajemen untuk mengatasi hal tersebut, dan kebetulan Anda dipilih menjadi konsultan, apa yang Anda lakukan ?

Jawaban:

1. Yang akan saya lakukan jika saya direktur sebagai General Manager The one Adventure

Sebagai General Manager The One Adventure yang baru direkrut, saya memahami bahwa perusahaan ini memiliki potensi besar, namun terhambat oleh budaya perusahaan yang tidak profesional. Berikut adalah langkah-langkah yang akan saya lakukan untuk mengubah budaya perusahaan dan meningkatkan kinerja:

a. Membangun Komunikasi dan Kepercayaan yang Kuat

Langkah pertama yang krusial adalah membangun komunikasi dan kepercayaan antara manajemen dan karyawan. Saya akan mengadakan pertemuan dengan seluruh karyawan untuk menjelaskan visi, misi, dan tujuan The One Adventure sebagai perusahaan profesional. Hal ini penting untuk menciptakan pemahaman yang sama dan menyelaraskan persepsi tentang arah perusahaan di masa depan.

Lebih lanjut, saya akan membuka sesi tanya jawab dan diskusi untuk mendengarkan masukan dan keluhan karyawan terkait budaya perusahaan dan sistem kerja yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa saya menghargai pendapat mereka dan ingin menciptakan lingkungan kerja yang terbuka dan suportif.

Komunikasi yang terbuka dan transparan juga menjadi kunci. Saya akan memastikan komunikasi yang lancar antara manajemen dan karyawan melalui rapat rutin, email berkala, dan saluran komunikasi yang mudah diakses.

b. Mengembangkan Budaya Profesional yang Berkelanjutan

Budaya profesional merupakan fondasi penting bagi kesuksesan The One Adventure. Saya akan membuat standar perilaku dan kode etik yang jelas dan tegas untuk semua karyawan. Hal ini akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang profesional dan saling menghormati.

Pemberian pelatihan dan pengembangan karyawan juga menjadi fokus utama. Saya akan menyediakan program pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka di bidang yang terkait dengan pekerjaan mereka. Hal ini akan membantu meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawan.

Penghargaan dan pengakuan atas prestasi juga tidak boleh dilupakan. Saya akan memberikan penghargaan dan pengakuan kepada karyawan yang menunjukkan kinerja yang baik dan berdedikasi tinggi. Hal ini akan memotivasi karyawan untuk terus bekerja dengan baik dan berkontribusi pada kemajuan perusahaan.

c. Membenahi Sistem dan Prosedur untuk Efisiensi

Sistem dan prosedur yang efektif dan efisien merupakan kunci operasional perusahaan yang sukses. Saya akan melakukan audit terhadap sistem dan prosedur yang ada di perusahaan untuk mengidentifikasi kekurangan dan inefisiensi. Hal ini penting untuk membangun sistem dan prosedur yang lebih profesional dan efektif.

Membuat sistem administrasi dan keuangan yang terstruktur dan terorganisir dengan baik juga menjadi prioritas. Hal ini akan membantu meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan perusahaan.

Selain itu, saya akan membangun sistem operasional yang efisien dan efektif untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan perusahaan.

d. Menghadapi Tantangan Budaya dengan Ketegasan dan Keteladanan

Perubahan budaya tidak selalu mudah, dan resistensi dari beberapa karyawan yang terbiasa dengan budaya lama mungkin terjadi. Untuk itu, saya akan berusaha memahami akar permasalahan budaya di The One Adventure melalui penelitian, wawancara dengan karyawan, dan observasi langsung.

Saya akan menangani resistensi dengan bijak dan sabar, menjelaskan manfaat dari perubahan budaya dan memberikan dukungan kepada mereka yang ingin berubah.

Transisi dari budaya lama ke budaya baru harus dilakukan dengan jelas dan terarah. Saya akan menetapkan timeline, memberikan pelatihan, dan menyediakan saluran komunikasi untuk menjawab pertanyaan dan concerns karyawan.

e. Membangun Semangat Kekeluargaan yang Positif dan Seimbang

Semangat kekeluargaan yang positif akan memperkuat hubungan antar karyawan dan meningkatkan motivasi kerja. Saya akan menyelenggarakan kegiatan bersama di luar jam kerja untuk membangun semangat kekeluargaan dan memperkuat hubungan antar karyawan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan olahraga bersama, piknik, atau kegiatan sosial lainnya.

Menciptakan lingkungan kerja yang positif dan suportif juga penting. Saya akan memberikan penghargaan atas prestasi, memberikan feedback yang konstruktif, dan menyediakan kesempatan untuk pengembangan diri.

Keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi juga tidak boleh diabaikan. Saya akan memastikan bahwa karyawan memiliki keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi dengan memberikan fleksibilitas waktu kerja, menyediakan cuti yang cukup, dan mendorong karyawan untuk menggunakan waktu luang mereka dengan baik.

2. Sebagai konsultan manajemen yang ditunjuk untuk membantu The One Adventure, saya akan mengambil langkah-langkah berikut untuk mengatasi permasalahan budaya perusahaan dan meningkatkan profesionalisme:

a. Memahami Akar Permasalahan dan Menentukan Tujuan Transformasi

Langkah pertama adalah memahami budaya perusahaan The One Adventure secara menyeluruh. Saya akan melakukan observasi, wawancara, dan survei kepada karyawan di semua tingkatan untuk menggali nilai-nilai, norma, keyakinan, dan perilaku yang berlaku. Melalui analisis mendalam, saya akan mengidentifikasi akar permasalahan budaya, seperti kurangnya struktur organisasi yang jelas, sistem komunikasi yang tidak efektif, kurangnya akuntabilitas, dan gaya kepemimpinan yang belum optimal.

Bekerja sama dengan manajemen dan karyawan, saya akan menentukan tujuan transformasi budaya perusahaan yang jelas, terukur, dan dapat dicapai dalam jangka waktu tertentu. Tujuan ini akan menjadi landasan bagi seluruh proses transformasi dan menjadi pemersatu bagi seluruh pihak yang terlibat.

b. Mengembangkan Strategi Transformasi Budaya yang Terarah

Untuk mencapai tujuan transformasi, saya akan menyusun rencana aksi yang komprehensif dan terarah. Rencana ini akan memuat langkah-langkah SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, and Time-bound) yang terstruktur dan terukur.

Keterbukaan dan transparansi menjadi kunci penting dalam proses transformasi. Saya akan memastikan komunikasi yang efektif dengan semua karyawan, mendorong partisipasi dan masukan mereka untuk membangun rasa memiliki dan komitmen terhadap perubahan.

Pemberdayaan kepemimpinan dan pengembangan karyawan juga menjadi bagian penting. Saya akan memberikan pelatihan dan pengembangan kepemimpinan kepada para pemimpin di semua tingkatan untuk membantu mereka menavigasi perubahan budaya dan menjadi panutan bagi karyawan. Pelatihan bagi karyawan tentang budaya profesional, termasuk etika kerja, komunikasi, dan pemecahan masalah, juga akan diberikan untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.

c. Menerapkan Strategi dan Mengelola Resistensi

Langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi transformasi budaya yang telah disusun. Saya akan membantu The One Adventure dalam memperkenalkan sistem dan proses baru yang lebih profesional, seperti sistem administrasi dan keuangan yang terstruktur, sistem operasional yang efisien, dan sistem komunikasi yang efektif.

Pemberian penghargaan dan pengakuan atas perilaku dan kinerja yang sesuai dengan budaya profesional baru akan menjadi pendorong bagi karyawan.

Di sisi lain, resistensi terhadap perubahan adalah hal yang wajar terjadi. Saya akan membantu perusahaan dalam mengelola resistensi ini dengan memberikan pelatihan, konseling, dan dukungan lainnya kepada karyawan yang kesulitan beradaptasi dengan budaya baru.

d. Memonitor, Mengevaluasi, dan Menjaga Momentum

Kemajuan transformasi budaya akan dilacak melalui indikator kinerja utama (KPI) yang telah ditentukan. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk mengukur efektivitas program dan membuat penyesuaian yang diperlukan.

Menjaga momentum transformasi budaya adalah hal yang krusial. Saya akan membantu perusahaan dalam memastikan bahwa perubahan budaya terintegrasi ke dalam semua aspek bisnis, mulai dari pengambilan keputusan, proses kerja, hingga budaya interpersonal di antara karyawan.

Transformasi budaya merupakan proses yang berkelanjutan dan membutuhkan komitmen dari semua pihak di The One Adventure.