Materi Bab 4 Yesus Mewartakan dan Memperjuangkan Kerajaan Allah - Agama Katolik Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka

Berikut adalah materi Bab 4 Yesus Mewartakan dan Memperjuangkan Kerajaan Allah mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 10 SMA/SMK kurikulum merdeka.

A. Yesus Mewartakan Kerajaan Allah

a. Misi utama kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk mewartakan Kerajaan Allah. Hal itu dinyatakan oleh Yesus sejak awal karya-Nya di depan publik: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! (Mrk. 1:15), dan ditegaskan pula oleh-Nya pada saat berada di sinagoga, ketika Ia mengatakan: “Pada hari ini genaplah ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:18-21).

b. Pada saat Yesus mewartakan Kerajaan Allah, dalam masyarakat Yahudi sendiri sudah berkembang beberapa paham tentang Kerajaan Allah. Ada yang berciri nasionalistik, ada yang berciri apokaliptik, dan ada yang berciri legalistik. Tetapi Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus mempunyai kekhasan tersendiri dibandingkan dengan paham yang sudah ada. Bagi Yesus Kerajaan Allah itu bukan pengalaman yang baru akan terjadi kelak, melainkan sedang berlangsung saat ini di dunia; Kerajaan Allah itu sudah dekat dan sudah datang dalam diri Yesus, yakni dalam setap Sabda, Perbuatan dan Pribadi-Nya, terutama dalam wafat dan kenaikan Yesus ke surga dan kelak akan disempurnakan pada saat kedatangan-Nya kembali ke dunia.

c. Warta Kerajaan Allah tidak berhenti pada saat kenaikan Yesus ke surga, melainkan diteruskan oleh Gereja. Gereja memegang amanat perutusan Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah ke seluruh dunia.

B. Sengsara dan Wafat Yesus

1. Yesus pun ketika menjalankan misi-Nya mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah mendapat penolakan dari sesamanya, antara lain dari para pemuka agama Yahudi. Upaya Yesus memperbaharui tatanan masyarakat agar lebih adil, lebih menghargai martabat manusia, lebih mengutamakan kehendak Allah justru dimusuhi. Yesus diangggap melawan ajaran iman Yahudi yang menekankan kepercayaan kepada Allah yang Esa-karena Yesus mengatakan diri-Nya Allah dan berasal dari Allah; Yesus dituduh melanggar aturan Sabat – karena Yesus banyak memuliakan Allah melalui tindakan-Nya menyelamatkan orang yang sakit dan menderita; Yesus dianggap melanggar kesucian Bait Allah- karena Yesus membersihkan Bait Allah dari kegiatan ekonomis semata; dan Yesus dituduh hendak berbuat makar terhadap penguasa Romawi.

2. Rasa takut kehilangan wibawa, kuasa dan pengaruh dalam masyarakat menjadi akar semua kebencian dan penolakan terhadap Yesus; yang berujung pada keinginan melenyapkan Yesus dengan cara membunuh dan menyalibkan-Nya.

3. Semua kejadian sengsara dan wafat Yesus, untuk para murid dan sebagian orang Yahudi, meyakinkan mereka bahwa Yesus adalah pemenuhan janji Allah yang telah dinubuatkan para Nabi. Gambaran Mesias dalam nubuat Nabi dalam Perjanjian Lama menjadi kenyataan dalam diri Yesus. Itulah sebabnya sengsara dan wafat Yesus disebut dengan “sesuai dengan Kitab Suci”.

4. Yesus sendiri secara sadar mengetahui bahwa risiko kematian akan dialami sebagai konsekuensi atas pewartaan-Nya. Jauh sebelum mengalaminya, Yesus sudah memberitahukan hal itu kepada para murid-Nya tentang nasib yang akan dialami-Nya.

5. Peristiwa sengsara dan wafat Yesus mempunyai dua makna penting: sebagai tanda ketaatan Yesus kepada Bapa dalam mengemban tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya; dan menjadi tanda solidaritas dengan manusia yang berdosa yang merindukan keselamatan.

6. Bagi kalian, peristiwa sengsara dan wafat Yesus semakin menguatkan bahwa kalian tidak pernah boleh takut memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah sekalipun harus menanggung risiko penderitaan bahkan kematian; kalian diundang jangan sampai kedosaan kalian menjadi beban jalan salib Yesus; kalian diundang untuk mau solider terhadap sesama yang miskin, menderita, disingkirkan, diinjak-injak martabatnya dan berjuang menyelamatkan mereka.

7. Solidaritas Yesus ditunjukkan juga dalam kematian, sebagaimana dilambangkan dalam peristiwa dikuburnya Yesus. Dengan dimakamkan, Yesus menunjukkan solidaritasnya dengan kematian manusia akibat dosa yang membawa manusia pada situasi yang tanpa pengharapan, situasi menakutkan, situasi terpisah dari Allah. Tetapi dengan turun ke penantian, Yesus justri memberi harapan bahwa kematian bukan segalanya. Yesus menarik mereka yang percaya kepada-Nya untuk ikut serta dalam kemuliaan-Nya.

8. Peristiwa Yesus dimakamkan (turun ke tempat penantian) memperkokoh iman kalian bahwa Allah yang kalian imani adalah Allah yang kasih-Nya tidak terputuskan oleh dosa dan kematian manusia; mengundang kalian agar menata hidup yang selalu dalam persekutuan dengan Allah; meneladan kasih Kristus yang menguatkan harapan orang yang sudah mati, hal itu bisa dilakukan dengan bersedia mendoakan mereka yang lebih dahulu meninggalkan kalian.

C. Kebangkitan dan Kenaikan Yesus ke Surga

1. Adanya berbagai upacara atau ibadat untuk memperingati arwah, merupakan salah satu pentunjuk bahwa masyarakat mempunyai kepercayaan akan adanya kehidupan sesudah kematian. Bahwa manusia sekalipun sudah meninggal, sesungguhnya masih hidup dalam alam yang berbeda.

2. Kepercayaan adanya kehidupan kekal sesudah kematian, bagi umat beriman Kristiani mendasarkan diri pada peristiwa kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Iman Kristiani sendiri justru bersumber dari pengalaman akan kebangkitan Yesus. Berkat Yesus kebangkitan Yesus, para rasul dan pengikut Yesus semakin percaya bahwa Yesus sungguh Kristus, dan Juruselamat.

3. Kitab Suci tidak memberi laporan bagaimana persisnya Yesus bangkit. Bahwa Yesus sungguh bangkit bisa digali pengalaman para murid sendiri tentang makam kosong dan penampakkan Yesus kepada murid-Nya dalam berbagai kesempatan. Cerita makam kosong memang bukan bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa Yesus sungguh bangkit. Cerita makam kosong hendak menegaskan bahwa kalian jangan mencari Yesus yang hidup di dunia orang mati, dan bahwa Yesus hidup tetapi dalam keadaan yang mulia – tidak seperti yang dialami Lazarus.

4. Iman akan kebangkitan dialami para murid melalui pengalaman penampakan. Dalam berberapa kesempatan Yesus menampakkan diri kepada mereka. Peristiwa penampakkan hendak menengaskan bahwa tubuh Yesus yang bangkit adalah tubuh yang sudah dimuliakan, yang bisa hadir kapan saja dan dimana saja, tubuh Yesus yang bangkit tidak terikat lagi oleh ruang dan waktu.

5. Kebangkitan Yesus merupakan saat tanda pembenaran Allah atas apa yang dilakukan Yesus.

6. Bagi kalian, kebangkitan Yesus memberi makna yang besar: menjadi landasan iman kalian, menunjukkan bahwa Allah telah membuka kembali pintu surga dan memangggil manusia memasukinya dengan jalan iman kepada Yesus, dan memberi pengharapan bahwa kematian bukan segala-galanya dan bahwa semua orang yang beriman akan Kristus ia akan dibangkitkan sekalipun dia mati.

7. Para murid dalam Kitab Suci memberi kesaksian juga bahwa Yesus naik ke surga. Yesus sendiri selama hidup-Nya berkali-kali menyatakan bahwa Ia harus kembali kepada Bapa di surga, bahkan berjanji akan menyediakan tempat bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Ungkapan “duduk di sebelah kanan Bapa” hendak menegaskan bahwa saat ini Yesus memiliki kuasa atas surga dan bumi sebagaimana dimiliki Bapa. Kenaikan-Nya ke surga merupakan saat pelantikan Yesus secara definitif sebagai Mesias.

8. Bagi kalian, kenaikan Yesus ke surga memberi harapan bahwa kalian pun akan diangkat ke surga dengan seluruh jiwa dan raga kalian; berkat Yesus di surga yang hidup bersama dalam kemuliaan Allah kalian memiliki pengantara kalian kepada Allah; kalian diajak untuk menjalani hidup dengan berfokus pada hal-hal yang surgawi.