Materi BAB 3 Sumber-Sumber untuk Mengenal Yesus - Agama Katolik Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka

Berikut adalah materi BAB 3 Sumber-Sumber untuk Mengenal Yesus mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 10 SMA/SMK kurikulum merdeka.

A. Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

1. Kata Alkitab berasal dari bahasa Arab dan secara harafiah berarti buku. Kata Alkitab dalam bahasa lain adalah Bible (Inggris), Bijbel (Belanda) merupakan tiruan dari bahasa Yunani Tabiblia yang berarti Kitab-kitab. Alkitab (Arab- Indonesia), yakni al dan kitab yang berarti sang kitab atau kitab yang mulia. Dengan demikian dalam kata alkitab terkandung pengertian “buku yang suci”. Kitab Suci terdiri dari dua bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Setiap orang mengetahui bahwa Alkitab adalah buku yang paling unik di dunia yang terdiri dari 73 buah kitab yang ditulis oleh banyak orang yang hidup pada zaman, tempat, tingkat kehidupan, suasana saat penulisan yang berbeda, namun mereka secara khusus telah dipilih Tuhan untuk menuliskan kehendakNya bagi manusia di segala tempat dan abad. Jadi definisi Alkitab adalah Kitab-kitab dari segala kitab yang membicarakan tentang kebenaran.

2. Istilah Perjanjian Lama pertama kali dipakai oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada umat di Korintus (2Kor. 3:4). “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.” Rasul Paulus secara khusus memikirkan Hukum Taurat. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, istilah perjanjian lama diterapkan pada semua kitab yang diakui bangsa Israel sebagai kitab sucinya. Kitab Perjanjian Baru, menunjuk kepada seluruh isi Alkitab jilid kedua yang secara khusus menjadi Kitab Suci umat Kristen. Isinya memang mengenai “Perjanjian Baru” (bdk Luk. 22:20; 1 Kor. 11:25), yang oleh Allah diikat dengan umat manusia melalui Yesus Kristus. Perjanjian itu melanjutkan dan bahkan menyempurnakan perjanjian lama yaitu perjanjian yang diikat Allah dengan umat Israel. Oleh karena umat Israel tidak setia, maka Allah memperbaharui dan menyempurnakannya dalam Yesus Kristus, Putera-Nya. Perjanjian Baru itu tidak akan batal lagi (baik dari pihak Allah atau manusia), karena itu Perjanjian Baru itu juga disebut Perjanjian Kekal, sebab hubungan Allah dengan manusia di dalam Yesus Kristus tidak akan pernah putus atau batal.

3. Perjanjian Lama adalah perjanjian Allah dengan Umat Israel (Kel. 19) dan memberi kesaksian tentang karya Allah dalam sejarah Israel mulai dengan panggilan Abraham sampai dengan menjelang Perjanjian Baru. Tanda Perjanjian dimeteraikan dengan darah anak domba yang dikurbankan pada mezbah-mezbah perjanjian. Perjanjian Baru mengingatkan perjanjian antara Allah dengan umat manusia, yang dimeteraikan dengan Darah Kristus sebagai Anak Domba Allah yang mengurbankan Diri-Nya demi keselamatan seluruh umat manusia.

4. Hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sebagai penggenapan dari janji. Perjanjian Lama mencatat apa yang ‘Allah katakan ... pada zaman dahulu kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi’. Perjanjian Baru membicarakan firman terakhir yang difirmankan-Nya melalui Anak-Nya, dalam mana seluruh penyataan sebelumnya dimuat, dikukuhkan dan ‘dilampaui’. Perbuatan-perbuatan kekuasaan yang menyatakan Allah dalam Perjanjian Lama memuncak pada karya penyelamatan Kristus; perkataan-perkataan nabi-nabi Perjanjian Lama terpenuhi genap di dalam Dia. Tapi Ia bukan hanya puncak penyataan Allah; Ia adalah juga jawaban manusia kepada Allah -- Imam Agung dan serentak Rasul dari pengakuan kita (Ibr. 3:1). Perjanjian Lama menceritakan kesaksian mereka yang melihat hari Kristus sebelum menyingsing, Perjanjian Baru menceritakan kesaksian mereka yang telah melihat dan mendengar Dia pada waktu kemanusiaan-Nya, yang dengan kekuasaan Roh-Nya, secara utuh mengenal lalu memberitakan arti kedatangan-Nya setelah Ia bangkit dari maut.

Alkitab terbagi dalam dua bagian, yakni:

a. Kitab Suci Perjanjian Lama

1) Taurat Musa/Pentateukh (Kelima Kitab Musa) yakni Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Kelima kitab tersebut merupakan kitab hukum bangsa Yahudi.
2) Kitab-Kitab Sejarah. Kitab-kitab sejarah menceritakan tentang peristiwa- peristiwa di Israel. Kitab-kitab ini adalah Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-Raja, 1 dan 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, serta Ester. Tobit, Yudit, 1 Makabe, 2 Makabe.
3) Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Didaktis atau kitab-kitab puisi. Kitab- kitab ini mencatat sebagian kebijaksanaan dan kesusatraan para nabi. Itu adalah Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan Salomo dan Yesus bin Sirakh.
4) Kitab-kitab Kenabian. Para nabi memperingatkan Israel akan dosa- dosanya dan bersaksi tentang berkat-berkat yang datang dari kepatuhan. Mereka bernubuat tentang kedatangan Kristus, yang akan mendamaikan dosa-dosa mereka yang bertobat, menerima tata cara-tata cara, dan menjalankan Injil. Kitab-kitab para nabi adalah Yesaya, Yeremia, Barukh, Ratapan, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, serta Maleakhi.
5) Alkitab orang Katolik, khususnya Perjanjian Lama ada perbedaan dengan Alkitab Perjanjian Lama di kalangan Protestan. Alkitab, khususnya Perjanjian Lama milik orang Katolik ada yang disebut dengan istilah “Deuterokanonika”.. Kata Deuterokanonika adalah gabungan dua kata Yunani yaitu deuteros (=yang kedua) dan kanonikos (= kitab atau daftar resmi). Kitab-kitab yang diterima kedua dalam kanon sebagai Kitab Suci. Kitab-kitab yang termasuk kitab-kitab ini di kalangan Protestan disebut Apokrifa. Yang termasuk dalam kitab Deuterokanonika adalah Tobit, Yudit, Yesus bin Sirakh, Kebijaksanaan Salomo, Barukh, kedua kitab Makabe, tambahan pada Kitab Ester dan Daniel. Sebagian besar kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani.

b. Bagian kedua Kitab Suci kita adalah Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru berisi mengenai perjanjian terakhir yang diadakan Allah dengan umat manusia melalui Yesus Kristus. Sebagai kitab yang mengisahkan perjanjian Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus, maka isi Kitab Suci Perjanjian Baru mengisahkan peristiwa Yesus Kristus, sang Pengantara Perjanjian Baru melalui: Hidup, ajaran, karya, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Jemaat beriman Kristiani awal mengalami peristiwa bersama Yesus dan membagikan pengalaman yang sangat mendalam dalam bentuk lisan dan kemudian ditulis menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru. Dengan demikian maka Kitab Suci Perjanjian Baru merupakan pengalaman iman jemaat beriman Kristiani awal akan karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Isi Kitab Suci Perjanjian Baru adalah sebagai berikut:

1) Keempat Injil, yakni: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Kitab Suci Perjanjian Baru dibuka dengan keempat Injil yang sebagian besar berupa cerita. Cerita itu langsung mengenai Yesus Kristus yang hidup di dunia mulai dari kelahiran-Nya, kemudian karya-Nya di depan publik sampai dengan sengsara, wafat, kebangkitan, penampakan-Nya sesudah bangkit dari antara orang mati dan kenaikan-Nya ke surga. Di dalamnya juga berisi sabda-sabda-Nya dan karya-karya-Nya selama hidup di dunia.

2) Sesudah keempat Injil dikemukakan sebuah karangan yang diberi judul Kisah Para Rasul. Kitab ini biarpun berjudul Kisah Para Rasul tidak pertama-tama berisi tentang kisah rasul-rasul Yesus, melainkan bercerita tentang munculnya jemaat pertama/jemaat rasuli dan perkembangannya selama kurang lebih 30 tahun. Tokoh utama kitab ini adalah Petrus dan Paulus. Kisah Para Rasul berakhir dengan cerita mengenai Paulus yang ditahan di Roma.

3) Surat-surat
Sesudah Kisah Para Rasul ada 21 karangan yang disebut “surat”. Kata surat ini dipakai dalam arti yang luas, karena jika diteliti dengan benar ada beberapa karangan tidak sungguh-sungguh berupa surat, melainkan kumpulan nasihat atau petuah, misalnya Yakobus, 1 Yohanes dan Ibrani. Surat yang paling panjang adalah surat Paulus kepada jemaat di Roma (16 bab), sedangkan yang sangat pendek adalah Filemon dan 3 Yohanes (hanya beberapa ayat saja). Pada umumnya surat-surat ini berisi:
- Jawaban atas permasalahan atau pertanyaan yang dihadapi oleh jemaat atau orang tertentu.
- Ajaran-ajaran dan nasihat-nasihat yang relevan untuk kehidupan jemaat atau orang yang dituju oleh surat tersebut.

Surat-surat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu:
Kelompok Surat-surat Paulus: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon dan Ibrani.
Surat-surat Katolik: Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes dan Yudas.

4) Wahyu
Karangan terakhir dari Perjanjian Baru adalah kitab Wahyu yang ditujukan kepada Yohanes. Kitab ini berisi tentang serangkaian penglihatan mengenai hal ihwal umat kristiani dan dunia seluruhnya ke masa depan, masa terakhir. Kitab ini banyak menggunakan lambang- lambang, sehingga tidak mudah untuk dimengerti.
Isi Kitab Suci Perjanjian Baru berjumlah 27 kitab.

Sejarah Terbentuknya Kitab Suci

a. Terbentuknya Kitab Suci Pertjanjian Lama
Kitab Suci Perjanjian Lama terbentuk melalui proses yang sangat panjang. Sejarah penyelamatan Allah yang mulai dengan pilihan Allah terhadap Abraham terjadi pada abad 19/18 SM. Asal usul Perjanjian Lama, tradisi- tradisi yang terbentuk di sekitar para bapa bangsa, bermula dari Abraham, manusia yang dipanggil Allah dan yang menerima janji-janji ilahi untuknya dan keturunannya. Namun Musalah sang pemimpin dan pemberi hukum yang pada abad ke 13 SM menghimpun sekelompok suku-suku pelarian menjadi suatu bangsa, yang mengawali gerakan religius besar-besaran. Gerakan inilah yang akhirnya menghasilkan tulisan-tulisan yang ternyata merupakan anugerah Allah kepada umat manusia.
1) Pentateukh atau Taurat Musa yang mengisahkan awal mula dunia, manusia, sampai terbentuknya bangsa Israel menjadi suatu bangsa di bawah pimpinan Musa sebenarnya baru terbentuk sebagaimana yang kita miliki sekarang sekutar abad 6 atau 5 SM.
2) Tulisan-tulisan kenabian mulai dengan nabi Amos dan Hosea pada abad 8 SM dan ditutup oleh Yoel dan Zakharia (bab 9-14) pada abad ke 4 SM.
3) Kitab-kitab sejarah meliputi kurun waktu mulai dengan Yosua sampai 1 Makabe yang ditulis awal abad pertama sebelum Masehi.

4) Abad ke 5 SM merupakan masa yang sangat subur untuk sastra kebijaksanaan (misalnya Ayub), tetapi gerakan dan tulisan-tulisan kebijaksanaan sudah mulai pada zaman Salomo sampai abad pertama sebelum Masehi.
Hal-hal yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa terbentuknya tulisan-tulisan Perjanjian Lama sungguh melewati suatu proses yang sangat panjang.

Harus disadari bahwa sebagian besar tulisan-tulisan Perjanjian Lama bukanlah karya satu orang melainkan karya banyak orang yang berkembang selama berabad-abad. Semua yang ikut ambil bagian dalam proses penulisan ini memperoleh inspirasi. Namun kebanyakan dari mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka digerakkan oleh Allah. Memang dalam pengantar ini kita akan memberikan perhatian khusus dari sudut “manusia” yang memandang tulisan-tulisan Perjanjian Lama sebagai endapan kekayaan tradisi suatu bangsa yang berkembang selama berabad-abad. Perjanjian Lama sangat terikat dengan suatu bangsa, yaitu bangsa Israel.

Sebagian besar Perjanjian Lama didasarkan pada tradisi lisan: Pentateukh sampai kitab Samuel dilandaskan pada banyak tradisi lisan yang berkaitan terutama dengan para bapa bangsa, Musa, Yosua, Hakim- hakim, Samuel, dan Daud. Kemudian Kitab Raja-raja berdasarkan tradisi lisan di sekitar Elia dan Elisa. Meskipun tulisan-tulisan Perjanjian Lama baru mendapatkan bentuknya yang terakhir pada abad-abad berikutnya, ini hanya menyangkut penulisan. Tradisi-tradisinya sendiri sudah mulai jauh sebelum dituliskan. Jadi tahun penulisan Perjanjian Lama tidak menunjukkan usia bahan-bahan yang terdapat di dalamnya.

b. Terbentuknya Kitab Suci Perjanjian Baru
1) Dari Injil kita tahu bahwa Yesus bisa membaca dan menulis (lih. Luk. 4:17-19 dan Yoh. 8:6). Namun demikian Yesus tidak menulis apapun yang berkaitan dengan karya dan sabda-sabda-Nya, Yesus juga tidak menyuruh atau mendikte para murid-Nya untuk menuliskannya. Ia hanya berkeliling mengajar dan berbuat baik (menyembuhkan, mengusir setan dan sebagainya) di dalam pengajaran-Nya, Yesus kerapkali menggunakan Kitab Suci, tetapi Kitab Suci yang Ia gunakan adalah Kitab Suci Perjanjian Lama. Namun karena sabda-Nya dan hidup-Nya serta karya-Nya begitu mengesankan dan berwibawa maka banyak orang tertarik dan mengikuti Yesus. Lebih-lebih setelah kebangkitan, di mana Yesus diakui dengan berbagai macam gelar (Kristus, Tuhan, Juruselamat dsb), maka para pengikut-Nya mulai meneruskan apa yang telah dimulai oleh Yesus.

2) Mula-mula para murid mulai mewartakan Yesus secara lisan. Inti pewartaan pada mulanya adalah wafat dan kebangkitan-Nya (bdk Kisah Para Rasul: Kotbah Petrus pada hari Pentakosta, Kis 2). Kemudian pewartaan itu berkembang dengan mewartakan juga hidup, karya dan sabda-Nya dan yang terakhir adalah masa muda-Nya atau masa kanak- kanak-Nya. Semua diwartakan dalam terang kebangkitan, karena kebangkitan Kristus merupakan dasar dari iman kepada Yesus Kristus.

3) Setelah jemaat berkembang dan mulai membentuk komunitas- komunitas, maka para Rasul berhubungan dengan komunitas tersebut melalui utusan dan surat-surat (Kis. 15:2.20-23). Terutama para Rasul dan pewarta pertama yang mendirikan jemaat, dengan alasan khusus mereka mengirim surat. Itulah sebabnya karangan yang tertua adalah surat.

4) Karangan tertua dari Kitab Suci Perjanjian Baru adalah 1 Tes (ditulis sekitar tahun 40-an) sedangkan yang paling akhir adalah 2 Petrus (tahun 120-an)

5) Karena banyak komunitas yang perlu untuk terus dibina, sementara para saksi mata jumlahnya terbatas, maka mulailah juga ditulis beberapa pokok iman yang penting, terutama kisah kebangkitan dan kisah sengsara yang menjadi pokok pewartaan awal, kemudian sabda dan karya Yesus. Tulisan-tulisan itu dimaksudkan untuk membina komunitas-komunitas yang percaya kepada Yesus.

6) Setelah generasi pertama mulai menghilang, maka dibutuhkan tulisan- tulisan tentang Yesus yang dapat dipertanggungjawabkan untuk membina iman umat. Maka muncullah karangan-karangan yang masih berupa fragmen-fragmen: kisah sengsara, mukjizat-mukjizat, kumpulan sabda, kumpulan perumpamaan dsb.

7) Dari situ akhirnya disusunlah injil-injil dan kisah para rasul, sampai akhirnya seperti yang kita miliki sekarang ini. Injil itu disusun berdasar atas tradisi, baik lisan maupun tertulis dan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan penulis serta situasi jemaat.

8) Akhir abad pertama dan awal abad kedua muncul juga tulisan-tulisan lain berupa surat atau buku, baik yang membela iman, maupun yang bahkan bisa menyesatkan. Bahkan kemudian masih muncul tulisan-tulisan, baik injil, kisah, wahyu dan sebagainya yang menggunakan nama para rasul, akan tetapi ternyata tidak mengajarkan ajaran iman yang benar. Maka kitab-kitab itu dikemudian hari disebut kitab apokrif.

7. Proses Kanonisasi Kitab Suci
a. Setelah Yesus wafat, para murid-Nya tidak menjadi punah. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi berkumpul di Jamnia, Palestina (mungkin sebagai reaksi terhadap jemaat perdana). Dalam Konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon Kitab Suci mereka. Atas kriteria itu mereka mengeluarkan 7 kitab dari kanon Aleksandria (Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Baruks, 1 dan 2 Makabe). Hal ini dilakukan semata-mata atas alasan bahwa mereka tidak menemukan versi Ibrani. Gereja Katolik tidak mengakui konsili para rabbi Yahudi itu dan tetap terus menggunakan Septuaginta.
b. Pada Konsili di Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M), Gereja Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Aleksandria sebagai Kitab Suci Perjanjian Lama. Ketujuh kitab yang dibuang dalam Konsili Jamnia sekarang dikenal dengan kitab Deuterokanonika. Mungkin Gereja Protestan mengikuti keputusan Konsili Jamnia itu, sehingga mereka tidak mengakui kitab-kitab Deuterokanonika.
c. Sejarah terbentuknya Kitab Suci Perjanjian Baru sama seperti Perjanjian Lama, kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh satu orang. Setidaknya ada 8 orang yang menghasilkan 27 kitab. Jika pada Perjanjian Lama terjadi perbedaan antara Gereja Protestan dan Katolik, 27 kitab dalam Perjanjian Baru ini diterima oleh keduanya. Bagaimana proses terbentuknya? Setidaknya ada 3 uskup membuat daftar kitab-kitab yang diakui sebagai inspirasi Ilahi, yaitu Uskup Mileto (175 M), Uskup Ireneus (185 M) dan Uskup Eusebius (325 M).
d. Pada tahun 382 M, didahului Konsili Roma, Paus Damasus menulis dekrit yang memuat daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Total seluruhnya ada 73 kitab. Pada konsili Hippo di Afrika Utara (393 M) ditetapkan kembali ke-73 kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Demikian pula pada Konsili Kartago di Afrika Utara (397). Sekedar diketahui, Konsili Hippo dan Kartago dianggap oleh banyak kaum Protestan dan Evagelis Protestan sebagai otoritatif bagi kanonisasi kitab Perjanjian Baru . Pada tahun 405, Paus Innosensius I (401-417) menyetujui kanonisasi ke-73 kitab dalam Kitab Suci dan menutup kanonisasi Alkitab.

8. Kitab Suci adalah buku iman Gereja, bukan sekadar buku sejarah.
a. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak sekali jadi ditulis. Buku-buku suci itu sebenarnya merupakan hasil refleksi umat tentang pengalamannya dalam hubungan dengan Allah. Melalui proses yang lama sekali, umat merefleksikan dan memahami pengalamannya. Ternyata di belakang pengalaman dan hal-ihwal manusia tersembunyi karya Allah yang memimpin baik umat, maupun orang perorangan kepada keselamatan. Umat makin lama makin memahami Allah dan manusia dari refleksi pengalamannya itu Allah ternyata adalah Allah yang pengasih. Penyelewengan manusia dari kehendak Allah seolah-olah mau menggagalkan rencana Tuhan. Namun di pihak lain tersingkap pula kasih dan kesetiaan Allah yang kendati penyelewengan manusia, tetap dan terus mengusahakan keselamatan manusia.
b. Dalam Kitab Suci kita menemukan bagaimana manusia yang sungguh percaya dapat hidup. Ia mesti bergumul dengan segala macam masalah dan persoalan. Dalam sorotan imannya itu manusia mencari jalan dan pemecahan. Kadang-kadang usahanya gagal, lain kali berhasil baik. Ada kemajuan dan perkembangan dalam imannya dan dalam pemahamannya. Makin lama pandangan iman diperbaiki dan disempurnakan.
c. Pengalaman iman dalam berbagai keadaan dan situasi itulah yang menjadi kenyataan Alkitab. Justru karena itu Kitab Suci menjadi sumber yang tidak pernah habis ilhamnya bagi manusia yang percaya. Alkitab itu, hasil kepercayaan umat Allah, selalu dapat dipakai oleh umat Allah sekarang ini. Dewasa ini umat Allah bergumul dengan masalah dan persoalan serta pengalaman yang pada pokoknya sama. Memang Alkitab jarang sekali secara langsung dan konkrit menjawabi masalah dan soal-soal hidup seharian. Namun ia selalu menjawabi pertanyaan orang beriman ini: “bagaimana orang yang sungguh-sungguh beriman menggumuli masalah kehidupan”.
d. Kitab Suci selalu menjawabi pertanyaan “siapakah Allah” itu. Allah dilukiskan garis demi garis dari unsur yang paling sederhana dan primitif dalam halaman tertua dari Kitab Suci sampai unsur yang paling luhur dan mendalam dalam tulisan Santo Johanes. Menarik untuk disimak ialah bahwa Allah itu memperkenalkan diri kepada sekian banyak orang yang berbeda melalui sekian banyak pertemuan dan peristiwa. Allah itu begitu terlibat dengan nasib umat manusia, seperti terlihat dalam sejarah umat terpilih, berjuang demi mereka, menguatkan mereka sehingga mereka dapat bertahan terhadap musuh. Pada awal, musuh mereka ialah para penganiaya seperti bangsa Mesir atau tetangga kuat seperti bangsa Filistin. Tetapi lama kelamaan manusia Israel dihantar kepada kesadaran bahwa musuh sesungguhnya yang berbahaya tidak datang dari luar, melainkan tinggal dalam diri manusia sendiri: kesombongan, pemberontakan dan egoisme dan lain-lain.
e. Kitab Suci tidak saja menjawab pertanyaan siapakah Allah. Ia juga menyingkapkan siapa sesungguhnya manusia itu di hadapan Allah. Manusia yang coba menghayati imannya sering jatuh-bangun. Terkadang berhasil, kali lain gagal. Kisah tentang manusia berhadapan dengan Tuhan selalu ups and downs. Mulai berani percaya akan Allah lalu kemudian takut dan tak berani mengandalkan Allah. Mulai meletakkan seluruh jaminan ke dalam tangan Allah namun lewat beberapa waktu manusia yang sama tidak bersedia sabar menunggu lebih lama, mengharap secepatnya janji Allah ditepati.
f. Karena Kitab Suci merupakan kitab iman, maka dalam memahami isinya kita harus memakai kacamata iman, yakni dengan merefleksikan maksud dan tujuan penulis. Yang disampaikan penulis adalah penghayatan hidupnya berhadapan dengan Allah yang menyelamatkan hidup manusia. Sedangkan kitab sejarah hendak memberikan laporan peristiwa secara murni dan apa adanya tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau.

1. Timotius menghadapi situasi pelayanan yang tidak mudah di jemaat Efesus. Ia menghadapi banyak tantangan para pengajar sesat, pelayanan jemaat yang kompleks, dan usianya pun tergolong muda. Sebagai bapak rohani, Paulus menasihati Timotius agar dapat memimpin dengan baik di tengah jemaat di Efesus, yakni:
a. Ia perlu menerapkan keteladanan yang telah disaksikannya dalam kehidupan Paulus (1Tim. 1:12-13) dalam hal ajaran, cara hidup, pendirian, iman (2Kor. 4:6-10), kesabaran, kasih dan ketekunan. Timotius sangat mengetahui beratnya tantangan kehidupan dan pelayanan Paulus dan menyaksikan perjuangannya. Adapun Timotius sehati sepikir dengan Paulus, teruji setia, bahkan menolong Paulus dalam pelayanannya seperti anak kepada bapaknya (Fil. 2:20-22).

b. Timotius harus berhati-hati terhadap para pengajar sesat (1Tim. 1:6-7). Jemaat Efesus diperhadapkan pada pengajar-pengajar palsu. Timotius harus menjaga jemaat dari pengajaran-pengajaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.
c. Timotius harus tetap berpegang teguh pada kebenaran firman Tuhan (1Tim. 1:11). Kebenaran firman itulah yang dapat memperlengkapi dan memandunya untuk melangkah dan melayani dengan benar dan seturut kehendak Tuhan. Dengan kebenaran firman, Timotius akan dimampukan untuk mengajar, menegur, dan mendidik karakter jemaat sehingga mereka diperlengkapi untuk mengerjakan perbuatan baik demi kemuliaan Tuhan.
Ketiga resep kepemimpinan rohani itu penting bagi setiap orang yang rindu melayani Tuhan. Jadilah pemimpin yang bisa diteladani: mengawasi ajaran dan memimpin sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
2. Ada beberapa alasan mengapa kita harus membaca Kitab Suci, yakni:
a. “Karena tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Tuhan.” (Santo Hieronimus). Ungkapan ini untuk menegaskan bahwa sarana untuk dapat mengenal Kristus adalah Kitab Suci.
b. Karena iman tumbuh dan berkembang dengan membaca Kitab Suci. Santo Paulus kepada Timotius menegaskan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16-17).
c. Karena Kitab Suci adalah buku Gereja, buku iman Gereja. Kitab Suci adalah sabda Allah dalam bahasa manusia. Gereja menerimanya sebagai suci dan ilahi, karena di dalamnya mengandung sabda Allah. Oleh karena itu Kitab Suci (Alkitab) bersama tradisi merupakan tolok ukur tertinggi dari iman Gereja.
d. Karena melalui Kitab Suci, kita dapat semakin mempersatukan diri dengan saudara-saudara kita dari Gereja lain.
3. Membaca Kitab Suci dalam rangka membina sikap iman dapat dilakukan dengan 2 syarat, yakni:
a. Iman dan keyakinan bahwa Kitab Suci bukan surat kabar atau cerita pendek, melainkan kitab yang dipakai untuk berfirman. Oleh sebab itu membaca Kitab Suci harus dengan sikap iman dan dalam suasana doa.
b. Ketekunan dan membiasakan membaca Kitab Suci. Bila orang membiasakan membaca kitab suci dengan tekun, pasti muncul juga hasrat untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan tentang isi/pesan-pesan Kitab Suci bagi diri kita.

4. Manfaat Kitab Suci bagi hidup kita.
a. Untuk Mengajar
Alkitab merupakan sarana utama untuk kita belajar mengenal Allah, mempercayai tentang Allah dan mengetahui apa yang Allah kehendaki dari kehidupan umat-Nya. Tanpa suatu pemahaman mengenai firman Allah tidak mungkin seorang Kristen mengetahui bagaimana ia harus dengan suatu sikap menyenangkan Tuhan.
b. Untuk Menyatakan Kesalahan
Dalam hal ini firman Tuhan adalah cermin, apabila kita membaca firman Tuhan, kita mendapat keberadaan diri kita dan dapat melihat keadaan yang berdosa. Taurat memberikan standar kebenaran Tuhan sehingga menyingkapkan keberdosaan. Alkitab memberikan “pengetahuan” yang merupakan fondasi pertobatan (pengetahuan akan hukum Allah dan dosa kita) dan iman (pengetahuan tentang kapasitas Kristus untuk menanggung dosa).
c. Untuk Memperbaiki Kelakuan
Kitab Suci merupakan sarana yang digunakan untuk meluruskan kembali kehidupan orang kristiani. Alkitab pertama-tama menegur pembaca atas dosa-dosa mereka, lalu Alkitab menunjukkan bagaimana cara menghadapi dosa supaya ia dapat kembali berjalan dengan Allah.
d. Mendidik Dalam Kebenaran
Dalam hal ini Kitab Suci bermanfaat sebagai sarana untuk melatih kita hidup di jalan yang benar.

5. Paulus mengatakan bahwa firman Allah cukup untuk memperlengkapi anak-anak Allah dalam menghadapi setiap dan semua keadaan darurat dalam kehidupannya. Firman Allah tidak pernah meninggalkan orang kudus tanpa suatu jawaban.
(I Kor. 10:13).

6. St. Agustinus mengatakan bahwa orang Kristen harus mempunyai pikiran yang diubahkan oleh Alkitab. (Roma 12:2) bahwa manusia terus-menerus memikirkan pemikiran-pemikiran Allah dalam hidupnya. Kemudian dengan cekatan mengaplikasikan firman Allah dalam kehidupannya kepada orang lain.

7. Konsili Suci (Konsili Vatikan II) mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, supaya dengan seringkali membaca kitab-kitab Ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp. 3:8), “Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus”. .... Namun hendaknya mereka ingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab “kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi”.

B. Tradisi Suci

1. Tradisi atau berasal dari kata latin tradition yang berarti diteruskan. Ini mengarah pada sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Mulanya istilah ini dipahami sebagai penyerahan suatu barang secara sah dari pemilik lama ke pemilik baru. Dalam hal ajaran tradisi dipahami sebagai penerusan ajaran dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentu saja ada penambahan ataupun pengurangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya. Ini adalah sesuatu hal yang tidak terhindarkan.

2. Tradisi sangat berperan dalam membentuk suatu kelompok sosial karena bisa menjembatani beberapa generasi terutama dalam pengalihan atau penerusan ajaran. Tradisi di masa lalu tetap dipertahankan karena dianggap tetap bermanfaat untuk masa sekarang dan yang akan datang.

3. Kitab Suci lahir dari sebuah proses tradisi yang panjang dan Yesus pun hidup dan menjadi bagian dalam tradisi itu. Dalam pengajaran-Nya, Yesus seringkali merujuk pada hukum Taurat dan kitab para nabi yang ditafsirkan secara baru. Dalam karya dan pengajaran-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah, Yesus memulai suatu tradisi sendiri. Inilah tradisi Yesus. Ia memanggil dan mendidik para rasul-Nya untuk menjadi saksi atas hidup, karya dan pewartaan-Nya. Selanjutnya, Yesus mengutus mereka untuk menyampaikan apa yang sudah mereka terima kepada seluruh bangsa. Perutusan yang berkelanjutan ini memunculkan tradisi baru, yakni pewartaan karya penyelamatan Allah yang terwujud dalam diri, hidup dan karya Yesus.

4. Tradisi Yesus dilanjutkan dengan tradisi rasuli, di mana para rasul mewartakan dan meneruskan kabar gembira tentang Yesus Kristus. Mereka yang percaya pada gilirannya meneruskan apa yang mereka dengar dan mereka terima. Penerusan ini tentu disertai penambahan atau pengurangan isinya sesuai kreativitas mereka yang juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi jemaatnya. Karena hal itu, mungkin ada hal yang sama tetapi diceritakan secara berbeda, bahkan tidak jarang dimunculkan cerita-cerita baru yang sifatnya mendukung atau melengkapi pewartaan.

5. Injil Yohanes ditulis oleh murid Yesus yang dikasihi. Segala sesuatu yang ditulis adalah sesuatu yang benar sesuai kesaksian yang terjadi. Digunakan kata kita tahu berarti ada saksi lainnya yang mengetahui dan memang hal itu benar. Mereka yang digolongkan kata kita mungkin penatua-penatua jemaat yang mengenal Yesus dan Yohanes.

6. Bila dalam Yoh. 20:30 dikatakan bahwa masih banyak tanda yang belum dicatat, dan dalam Yoh. 21:25 disebutkan bahwa ada hal-hal lain yang diperbuat Yesus dan mungkin berupa sikap hidup, pengajaran-Nya. Yesus yang adalah Firman yang menjadi manusia yang sudah ada dalam kekekalan (Yoh. 1:1-3) maka sangat wajar bila dunia tidak dapat memuat segala sesuatu mengenai Yesus.

7. Sementara Katekismus Gereja Katolik 78 menegaskan bahwa penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan “Tradisi”, yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya dilestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya yang seutuhnya” (DV 8). “Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran Tradisi ini yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa.” (DV 8).

8. Gereja Katolik yakin bahwa Kitab Suci (Alkitab) bersama Tradisi dinyatakan oleh Gereja sebagai “tolok ukur tertinggi iman Gereja” (Dei Verbum Art. 21). Dengan kata “iman”, yang dimaksudkan adalah baik iman objektif maupun iman subjektif. Jadi, “kebenaran-kebenaran iman” yang mengacu kepada realitas yang diimani dan sikap hati serta penghayatannya merupakan tanggapan manusia terhadap pewahyuan Allah.

9. Tradisi Gereja terus ada berkat kuasa Roh Kudus dalam sejarah Gereja, dan terus menerus hingga saat ini. Contoh tradisi Gereja adalah paham Trinitas, pribadi Kristus, Bunda Allah, Maria diangkat ke Surga, dan juga Syahadat yang selalu menjadi bagian dalam Gereja Katolik.

10. Gereja mendapat tugas dari Kristus untuk mengabarkan ajaran Kristus kepada seluruh makhluk (Markus 16:15), karena itu maka Gereja merasa perlu untuk memiliki suatu rumusan singkat yang merangkum seluruh ajaran Kristus agar bisa diungkapkan dan diingat semua orang. Dengan adanya rumusan tersebut, diharapkan “supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (I Korintus 1: 10). Rumusan itu sendiri diharapkan bisa bertindak “sebagai contoh ajaran” (II Timotius 1:13).

11. Di kemudian hari dalam pergelutannya melawan ajaran-ajaran sesat, Gereja merasa perlu menyusun rumusan pengakuan iman untuk memberi garis batas tegas antara ajaran yang benar dan ajaran yang salah. Hal ini terjadi karena Gereja menghadapi ajaran sesat yang berkembang dari hal yang relatif umum menuju ke hal yang relatif khusus. Dua contoh yang sering kita gunakan adalah
a. Syahadat Nicea Konstantinopel (antara 325-381).   merupakan   hasil dari dua konsili ekumenis yang berlangsung di Nicea pada tahun 325 dan Konstantinopel pada tahun 381.
b. Syahadat Para Rasul (sebelum tahun 390). Pengakuan iman yang merupakan warisan khas iman Kristen Barat ini menurut tradisi dibuat oleh para rasul.

12. Contoh Tradisi dalam Gereja Katolik yang lain adalah sebagai berikut: Masa Adven, Perayaan Natal, Jalan salib, Masa Prapaskah, Perayaan Masa Paskah, Tri Hari Suci dan lain-lain.

C. Magisterium Gereja

1. Dalam hal menjaga kelestarian lingkungan hidup, sebenarnya sejak zaman dahulu nenek moyang kita telah melakukan pelestarian lingkungan dan diturunkan sampai sekarang dari generasi ke generasi. Sejak dahulu, nenek moyang kita telah menurunkan pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah yang biasanya diturunkan dari generasi ke ke generasi. Demikian pula dengan Dewan Adat di Raja Ampat berkaitan dengan tugas dan wewenangnya dalam menjaga lingkungan hidup. Lembaga ini mengeluarkan peraturan terkait dengan kelestarian alam yang harus ditaati oleh warga, instansi pemerintah maupun perusahaan penebangan kayu, bahkan oleh wisatawan juga.

2. Dalam beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat, nilai budaya, aktivitas, dan peralatan sebagai hasil abstraksi mengelola lingkungan. Seringkali pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat dijadikan pedoman yang akurat dalam mengembangkan kehidupan di lingkungan.

3. Berkaitan dengan wewenang dan kuasa mengajar, dalam Gereja Katolik dikenal istilah Magisterium Gereja. Magisterium berasal dari bahasa Latin yaitu magister yang artinya guru, yang juga bermakna luas yang bisa berarti presiden, kepala, direktur, dan sebagainya, dan juga dalam makna yang sempit berarti seorang pengajar atau pembimbing kaum muda. Magisterium yang merupakan kata benda merujuk pada jabatan seorang magister.

4. Dalam istilah sederhana, Magisterium adalah jabatan ajaran resmi Gereja, dalam arti peran atau otoritas, bukan sebagai pusat birokratis. Magisterium di dalamnya terdiri dari paus dan para uskup yang bersekutu dengannya. Mereka diberikan tugas untuk menafsirkan Kitab Suci dan membuat penilaian mengenai “tradisi” dalam Gereja, dan membuat pernyataan resmi mengenai otentisitas tradisi-tradisi tersebut.

5. Magisterium Gereja dalam Kitab Suci
a. Yesus sengaja mengambil waktu khusus untuk berdoa. Dia memohon bimbingan Allah untuk memilih dua belas rasul dari begitu banyak pengikut- Nya. Orang-orang inilah yang kelak akan diutus-Nya untuk sebuah tugas khusus. Dalam doa, yang menjadi pusat adalah Allah. Yesus menyerahkan diri pada kehendak Bapa (Luk. 6:12-16).
b. Tuhan Yesus sudah menetapkan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua suku bangsa di dunia dan jumlah orang yang diselamatkan harus penuh sebelum Tuhan datang kembali di Yerusalem. Karena itu, sebagai pengikut Kristus kita harus terus memberitakan Injil dengan berani dan dengan dipimpin oleh Roh Kudus (Mat. 28:18-20).
c. Yesus menyebut diri-Nya sebagai yang diutus oleh Bapa. Demikian juga sebaiknya setiap orang yang diutus oleh Yesus mempunyai dan mengetengahkan identitas bagi dirinya sebagai orang yang diutus oleh Yesus. Tujuan utama dari pengutusan Yesus, yaitu “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”, merupakan tema utama dari mereka yang diutus oleh Yesus (Yoh. 20:21-23).
d. Setiap orang yang terlibat dalam suatu pelayanan rohani, diberikan karunia oleh Tuhan Allah untuk memperlengkapi diri di saat melaksanakan tugas perutusan maupun tugas pelayanan (1Kor. 12:28-31).

6. Jemaat Perdana setia pada “ajaran para rasul” (Kis. 2:42). Karena mereka telah menjadi Kristiani (para pengikut Kristus) dengan menerima sabda Yesus Kristus, maka suatu hidup Kristiani harus senantiasa diperdalam dengan pemberitaan Injil secara berkesinambungan. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm.10:17). Dengan penuh kerendahan hati mereka menerima dan mengakui bahwa keselamatan telah terwujud melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Iman akan Kristus yang bangkit memungkinkan jemaat ini menjadi tanda yang menarik banyak orang, seperti ditulis oleh Lukas. “… mereka disukai semua orang” (Kis. 2:47).

7. Ciri khas dari jemaat perdana ini bertekun. Bertekun dalam pengajaran. Bertekun artinya rajin, giat, bersungguh-sungguh, dan disiplin bukan diselipin (artinya, kalau ada waktu baru dilakukan). Ketekunan mereka karena ada kerinduan untuk selalu belajar atau diajar oleh para Rasul. Inilah salah satu ciri jemaat perdana yang ideal yatu mereka adalah jemaat yang selalu rindu untuk belajar, tidak hanya datang beribadah.

8. Magisterium (Lat: “Tugas mengajar”) Tugas untuk mengajarkan Injil secara berwibawa atas nama Yesus Kristus. Orang Katolik percaya bahwa kuasa mengaja ini dimiliki oleh seluruh dewan uskup (sebagai pengganti dewan para rasuli) dan masing-masing uskup dalam kesatuan dengan Uskup Roma (Paus).

9. Katekismus Gereja Katolik 85 menegaskan bahwa “Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (DV 10).

10. “Adapun tugas menafsirkan secara otentik   Sabda   Allah   yang   tertulis atau diturunkan (Tradisi) itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” Hal ini berarti bahwa tugas menafsirkan telah dipercayakan kepada para uskup dalam persatuan dengan penerus Petrus, Uskup Roma (KGK 85).Tugas ini diberikan Yesus Kristus kepada para rasul dan kepada St. Petrus, dan bisa kita lihat dalam Perjanjian Baru, terutama dalam Kisah Para Rasul ketika terjadi perselisihan mengenai penerimaan mereka yang bukan orang Yahudi.

11. Dalam KGK 891 dinyatakan bahwa “Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, kepala dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif… Sifat tidak dapat sesat, yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada Badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus” (LG 25) terutama dalam konsili ekumenis bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3074. Apabila Gereja melalui Wewenang Mengajar tertingginya “menyampaikan sesuatu untuk diimani sebagai diwahyukan oleh Allah” (DV 10) dan sebagai ajaran Kristus, maka umat beriman harus “menerima ketetapan-ketetapan itu dengan ketaatan iman” (LG 25). Infallibilitas ini sama luasnya seperti warisan wahyu ilahi (bdk. LG 25).

12. Umat Katolik percaya bahwa paus dan para uskup yang bersekutu dengannya bisa dipercaya karena janji Yesus tentang mengirimkan Roh Kudus kepada mereka, yang akan membimbing mereka dalam proses menyatakan “dogma-dogma” tertentu dan menilai otentisitas dari tradisi tertentu. Seluruh konsep mengenai magisterium bergantung pada kepercayaan ini, yaitu janji Yesus, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran (Yohanes 14:16-17).

13. Jadi kesimpulannya, Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya, yang diberikan karisma “tidak dapat sesat” (infalibilitas) oleh Yesus, yaitu dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral. Maka kita ketahui bahwa sifat infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya dalam hal iman dan moral, yaitu pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik.

14. Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus] menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.