Materi Bab 2 Sifat-Sifat Gereja - Agama Katolik Kelas 11 SMA/SMK Kurikulum Merdeka

Berikut adalah materi Bab 2. Sifat-Sifat Gereja mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 11 SMA/SMK kurikulum merdeka.

A. Gereja yang Satu

World Youth Day (WYD) adalah gagasan Paus Yohanes Paulus II sejak tahun 1985. Setiap dua atau tiga tahun, WYD dirayakan secara internasional di tempat yang dipilih oleh Paus. OMK seluruh dunia berkumpul bersama Bapa Suci di sana.

Selama WYD peserta mengunjungi negara tuan rumah, melakukan pelayanan masyarakat, mengunjungi keuskupan, dan ikut serta dalam berbagai perayaan. Ada seminar, pertemuan katekese, diakhiri dengan misa kepausan yang dipimpin oleh Bapa Suci atau Sri Paus.

Pesan Paus Fransiskus kepada kaum muda Katolik di WYD Panama bahwa kita semua “sedang dalam perjalanan…. Teruslah berjalan, terus hidupkan iman dan bagikan”.

Sifat kesatuan Gereja tercermin dari persekutuan atau komunio kaum muda dan umat Katolik yang berkumpul di Panama atas nama satu iman, harapan dan kasih.

Gereja itu satu menurut asalnya. “Pola dan prinsip terluhur misteri itu ialah kesatuan Allah yang esa dalam tiga pribadi: Bapa, Putera, dan Roh Kudus”.

Gereja itu satu menurut Pendiri-nya. “Sebab Putera sendiri yang menjelma telah mendamaikan semua orang dengan Allah, dan mengembalikan kesatuan semua orang dalam satu bangsa dan satu tubuh” (GS 78, 3).

Gereja itu satu menurut jiwanya. “Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, dan memenuhi serta membimbing seluruh Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu, dan sedemikian erat menghimpun mereka sekalian dalam Kristus, sehingga menjadi prinsip kesatuan Gereja”.

Kesatuan termasuk dalam hakikat Gereja: “Sungguh keajaiban yang penuh rahasia. Satu adalah Bapa segala sesuatu, juga satu adalah Logos segala sesuatu, dan Roh Kudus adalah satu dan sama di mana-mana, dan juga ada hanya satu Bunda Perawan.

Ikatan persekutuan yang tampak dalam pengakuan iman yang satu dan sama, yang diwariskan oleh para rasul; perayaan ibadat bersama, terutama sakramen-sakramen; suksesi apostolik, yang oleh sakramen tahbisan menegakkan kesepakatan sebagai saudara-saudari dalam keluarga Allah.

Luka-luka dalam kesatuan. Sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak dihukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua pihak.

B. Gereja yang Kudus

Carlo Acutis menjadi teladan spirit kekudusaan orang muda zaman milenial untuk membangun kehidupan manusia yang bermartabat. Orang muda adalah Gereja masa kini dan masa depan, maka semangat atau spiritualitas untuk kekudusan hidup perlu ditanam dalam diri orang Katolik sejak kecil, mulai dari hal-hal yang sederhana dalam hidup di keluarga, Gereja dan masyarakat.

Peristiwa beatifikasi Carlo Acutis hendaknya menjadi pemicu bagi orang muda untuk lebih giat dan cermat menggunakan media informatika untuk kabar baik dan keselamatan banyak orang, dan itu cara lain untuk mewujudkan kekudusan Gereja di dunia pada zaman ini.

Kita dikuduskan karena terpanggil (lih. Rm 1:7). Dari pihak manusia, kekudusan (kesucian) hanya berarti tanggapan atas karya Allah, terutama dengan sikap iman dan pengharapan. Sikap iman dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa.

Kesucian bukan soal bentuk kehidupan khusus (seperti menjadi biarawan), melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari.

Kekudusan itu terungkap dengan aneka cara pada setiap orang. Kehidupan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kekudusan Gereja, yang berasal dari Kristus. Kesucian ini adalah kekudusan yang harus diperjuangkan terus- menerus.

Membaca dan merenungkan sabda Tuhan sebagai sumber pedoman hidup merupakan salah cara untuk menguduskan hidup.

Gereja itu kudus karena Kristus, Putera Allah, bersama Bapa dan Roh Kudus mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya.

Tuhan kita sendiri adalah sumber dari segala kekudusan.

Kristus menguduskan Gereja, dan pada gilirannya, melalui Dia dan bersama Dia, Gereja adalah agen pengudusan-Nya.

Kekudusan itu juga “terungkapkan dengan aneka cara pada masing-masing orang”. Kekudusan Gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, yang sama bentuknya untuk semua, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian Gereja, yang berasal dari Kristus, yang mengikutsertakan Gereja dalam gerakan-Nya kepada Bapa oleh Roh Kudus. Pada taraf misteri ilahi Gereja sudah suci: “Di dunia ini Gereja sudah ditandai oleh kesucian yang sesungguhnya, meskipun tidak sempurna” (LG, artikel 48).

C. Gereja yang Katolik

Ada hubugan dekat antara agama dan kebudayaan. Hubungan ini telah mewajibkan Gereja Katolik untuk setia mendengarkan bisikan kebudayaan. Kewajiban lain yang lebih luas adalah untuk merefleksikan dan merenungkan proses terbentuknya interaksi budaya manusia. Proses inkulturasi dapat dilihat sebagai perjalanan dari kebudayaan yang satu menuju kebudayaan lain. Agama dan kristianitas akhirnya adalah bagian dari kebudayaan manusia.

Konsili Vatikan II, menegaskan agar Gereja Katolik agar Gereja membuka diri dan menerima unsur-unsur kebudayaan setempat. Tentu sejauh unsur-unsur kebudayaan itu tidak secara prinsipiil bertolak belakang dengan ajaran Gereja.

Katolik makna aslinya berarti universal atau umum. Arti universal dapat dilihat secara kuantitatif dan kualitatif.

Gereja itu katolik karena Gereja dapat hidup di tengah segala bangsa dan memeroleh warganya dari semua bangsa. Gereja sebagai sakramen Roh Kudus mempunyai pengaruh dan daya pengudus yang tidak terbatas pada anggota Gereja saja, melainkan juga terarah kepada seluruh dunia.

Dengan sifat katolik ini dimaksudkan bahwa Gereja mampu mengatasi keterbatasannya sendiri untuk berkiprah ke seluruh penjuru dunia.

Gereja itu katolik karena ajarannya dapat diwartakan kepada segala bangsa dan segala harta kekayaan bangsa-bangsa dapat ditampungnya sejauh itu baik dan luhur.

Gereja terbuka terhadap semua kemampuan, kekayaan, dan adat-istiadat yang luhur tanpa kehilangan jati dirinya. Sebenarnya, Gereja bukan saja dapat menerima dan merangkum segala sesuatu, tetapi Gereja dapat menjiwai seluruh dunia dengan semangatnya. Oleh sebab itu, yang katolik bukan saja Gereja universal, melainkan juga setiap anggotanya, sebab dalam setiap jemaat hadirlah seluruh Gereja. Setiap jemaat adalah Gereja yang lengkap, bukan sekadar “cabang” Gereja universal. Gereja setempat merupakan seluruh Gereja yang bersifat katolik.

Gereja bersifat katolik berarti terbuka bagi dunia, tidak terbatas pada tempat tertentu, bangsa dan kebudayaan tertentu, waktu atau golongan masyarakat tertentu.

Kekatolikan Gereja tampak dalam rahmat dan keselamatan yang ditawarkannya.

Iman dan ajaran Gereja yang bersifat umum, dapat diterima dan dihayati oleh siapa pun juga.

Kekatolikan Gereja tidak berarti bahwa Gereja meleburkan diri ke dalam dunia.

Dalam keterbukaan itu, Gereja tetap memertahankan identitas dirinya.

Kekatolikan justru terbukti dengan kenyataan bahwa identitas Gereja tidak tergantung pada bentuk lahiriah tertentu, melainkan merupakan suatu identitas yang dinamis, yang selalu dan dimana-mana dapat memertahankan diri, bagaimanapun juga bentuk pelaksanaannya. Kekatolikan Gereja bersumber dari firman Tuhan sendiri.

Gereja itu bersifat dinamis. Maka Gereja dapat dikembangkan lebih nyata atau diwujudkan dengan cara: bersikap terbuka dan menghormati kebudayaan, adat istiadat, bahkan agama bangsa mana pun. Bekerja sama dengan pihak mana pun yang berkehendak baik untuk mewujudkan nilai-nilai yang luhur di dunia ini.

Berusaha untuk memrakarsai dan memerjuangkan suatu dunia yang lebih baik untuk umat manusia. Terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga kita dapat memberi kesaksian bahwa “katolik” artinya terbuka untuk apa saja yang baik dan siapa yang berhendak baik.

D. Gereja yang Apostolik

Dalam setiap acara tahbisan uskup dimanapun di seluruh dunia, Duta besar Vatikan atau yang mewakilinya membacakan surat penetapan oleh sri Paus untuk calon uskup baru yang akan ditahbiskan. Paus sebagai kepala Gereja universal, penerus tahta Santo Petrus sesuai kedudukannya menunjuk seorang imam menjadi uskup atau gembala Gereja lokal.

Dalam kisah/berita tahbisan Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF mengucapkan terima kasih kepada semua umat yang hadir dan mendoakannya pada acara tahbisannya karena rahmat Tuhan. Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF bersaksi bahwa Tuhan telah berkenan memilih dirinya, seorang hamba yang hina untuk bekerja di kebun anggur-Nya, di keuskupan Tanjung Selor.

Gereja yang apostolik merupakan warisan iman Gereja seperti yang ditulis dalam Kitab Suci dan Tradisi suci, dilestarikan, diajarkan dan diwariskan oleh para rasul. Dengan ciri apostolik ini Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef. 2:20).

Gereja Katolik mementingkan hubungan historis, turun temurun, antara para rasul dan pengganti mereka, yaitu para uskup. Dengan demikian juga menjadi jelas mengapa Gereja Katolik tidak hanya mendasarkan diri dalam hal ajaran- ajaran dan eksistensinya pada Kitab suci melainkan juga kepada Tradisi suci dan Magisterium Gereja sepanjang masa.

Di bawah bimbingan Roh Kudus, Roh Kebenaran, Magisterium (otoritas mengajar), Gereja yang dipercayakan kepada para rasul dan penerus mereka berkewajiban untuk melestarikan, mengajarkan, membela dan mewariskan warisan iman.

Roh Kudus melindungi Gereja dari kesalahan dalam otoritas mengajarnya. Yesus mengutus para rasul dan bersabda: “Pergilah, ajarilah semua bangsa, dan baptislah mereka atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka menaati segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (lih. Mat 28:19-20).

Perintah resmi Kristus untuk mewartakan kebenaran yang menyelamatkan itu oleh Gereja diterima dari para rasul dan harus dilaksanakan sampai ke ujung bumi. Gereja terus-menerus mengutus para pewarta sampai Gereja-Gereja baru terbentuk sepenuhnya untuk melanjutkan karya pewartaan Injil.

Gereja sekarang sama dengan Gereja para rasul. Bahkan identitas Gereja sekarang mempunyai kesatuan dan kesamaan fundamental dengan Gereja para rasul.