Materi BAB 2 Manusia Makhluk Otonom - Agama Katolik Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka

Berikut adalah materi BAB 2 Manusia Makhluk Otonom mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti kelas 10 SMA/SMK kurikulum merdeka.

A. Suara Hati

1. Suara hati mengacu pada istilah conscientia (=latin) atau conscience (=Inggris) yang berasal dari kata conscio. Conscientia berarti kesadaran, pengetahuan. Hati nurani merupakan kesadaran moral yang timbul dan tumbuh dalam hati manusia, sedangkan hati nurani secara sempit dapat diartikan sebagai penerapan kesadaran moral dalam situasi konkret, yang menilai suatu tindakan manusia atas buruk baiknya. Kesadaran moral itulah bentuk tanggung jawab dari otonomi manusia. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru.

2. Fungsi suara hati
a. Sebagai pegangan atau norma untuk menilai suatu perbuatan baik yang telah dilakukan atau akan dilakukan, apakah perbuatan tersebut baik atau buruk.
b. Sebagai pemberi dorongan untuk melakukan tindakan yang terbaik dan terhindar dari perbuatan jahat.
c. Sebagai penyadar manusia akan nilai dan harga dirinya.
d. Sebagai indeks (petunjuk), iudex (hakim) dan vindex (penghukum).

3. Proses suara hati
a. Sebelum bertindak, ia berfungsi sebagai petunjuk (indeks), yang mengingatkan pengetahuan kita bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Sesungguhnya kesadaran moral semacam ini sudah dimiliki setiap orang dewasa.
b. Pada saat-saat menjelang bertindak, ia bertindak sebagai hakim (iudeks), yang menyuruh kita melakukan yang baik dan melarang/menghindari yang jahat. Selama perbuatan itu belum selesai, suara hati akan bekerja terus antara menyuruh melakukan yang baik dan melarang melakukan yang jahat.
c. Sesudah tindakan selesai dilakukan, ia berfungsi memberikan vonis (vindeks), yang akan menyatakan apakah perbuatan kita itu tepat atau tidak tepat. Bila yang kita lakukan itu benar, ia akan memberikan pujian sehingga kita merasakan ketenangan, tetapi bila yang kita lakukan itu yang jahat dan salah maka ia akan memberikan hukuman, yang membuat kita merasa bersalah dan tidak tenang, merasa dikejar-kejar kesalahan, dan sebagainya.

4. Suara hati dapat keliru dikarenakan:
a. Suara hati biasa tidak dihiraukan, yakni suara hati itu telah menunjukkan bahwa perbuatan itu buruk, tapi karena alasan tertentu perbuatan itu tetap dilakukan.
b. Pengaruh emosi seperti malu, takut, marah dsb.
c. Karena pengaruh emosi tertentu, seseorang tidak lagi melakukan pertimbangan baik buruk dalam bertindak.
d. Kurangnya pendidikan nilai dalam keluarga, misalnya: kejujuran, pengampunan, peduli dll.
e. Pengaruh lingkungan dan pandangan dalam masyarakat.

5. Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua hukum, yaitu hukum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan. Hukum Allah menuju kepada kebaikan, sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan. Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang jahat dalam hati manusia (lihat Roma 7:13–26).

6. Dalam GS art. 16 ditegaskan bahwa manusia tidak boleh tunduk dan mengalah pada situasi yang membelenggu suara hati. Dengan bantuan Roh Allah kita dimampukan untuk mengalahkan kekuatan dahsyat yang menguasai suara hati kita, yang oleh Santo Paulus dinamai kuasa/keinginan daging.

7. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1778 ditekankan bahwa hati nurani adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah laksanakan, baik atau buruk secara moral. “Dalam segala sesuatu yang ia katakan atau lakukan, manusia berkewajiban mengikuti dengan saksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan hukum ilahi. Suara hati merupakan hukum yang diberikan oleh Allah dalam hati manusia.”

8. Lewat hati nuraninya yang bersih, setiap orang dipanggil untuk bekerjasama memecahkan persoalan-persoalan dalam masyarakat, sehingga persoalan- persoalan dalam masyarakat dipecahkan pertama-tama melalui dialog yang dilandasi hati nurani, karena hati nurani adalah hukum yang ditanam oleh Allah.

9. Suara hati dapat dibina dengan cara:
a. Mengikuti suara hati dalam segala hal
1) Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani akan semakin terang dan berwibawa.
2) Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat dan kuat. Dipercayai orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan Allah. “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah.” (Matius 5:8).
b. Mencari keterangan pada sumber yang baik
1) Dengan membaca: Kitab Suci, Dokumen-Dokumen Gereja, dan buku- buku lain yang bermutu.
2) Dengan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan/pengalaman dan dapat dipercaya
3) Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret, dan sebagainya.
4) Koreksi diri atau introspeksi
5) Koreksi atas diri sangat penting untuk dapat selalu mengarahkan hidup kita.
c. Menjaga kemurnian hati
1) Menjaga kemurnian hati terwujud dengan melepaskan emosi dan nafsu, serta tanpa pamrih, yang nampak dalam tiga hal:
a) Maksud yang lurus (recta intentio): ia konsisten dengan apa yang direncanakan, tanpa dibelokkan ke kiri atau ke kanan.
b) Pengaturan emosi (ordinario affectum): ia tidak menentukan keputusan secara emosional.
c) Pemurnian hati (purification cordis): tidak ada kepentingan pribadi atau maksud-maksud tertentu di balik keputusan yang diambil.
2) Hal ini dapat dilatih dengan penelitian batin, seperti merefleksikan rangkaian kata dan tindakan sepanjang hari itu, berdoa sebelum melakukan aktivitas, dan lain-lain.

B. Bersikap Kritis dan Bertanggung Jawab terhadap Pengaruh Media Massa

1. Bersikap kritis tidak berarti menolak mentah-mentah tentang media, melainkan kita mencoba menyaringnya dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang kita pilih dan kita percaya. Sikap kritis berarti mampu mempertimbangkan baik- buruk sesuatu hal, selektif dan mampu membuat skala prioritas sebelum kita mengambil suatu sikap. Dengan demikian, kita akan dapat menempatkan media massa pada tempat yang semestinya bagi perkembangan diri kita.

2. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindarkan hoax adalah sebagai berikut:
a. Hati-hati dengan judul provokatif.
Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu.
b. Cermati alamat situs apakah sudah terverifikasi oleh dewan pers atau belum.
c. Periksalah fakta langsung dari sumbernya atau carilah sumber lain yang menampilkan berita yang sama.
d. Cek keaslian foto, misalnya dengan memanfaatkan mesin pencari Google.
e. Ikut serta dalam forum diskusi anti hoax.

3. Di antara perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus terdapat tindakan tertentu yang mengungkapkan sikap dan pandangan Yesus mengenai hukum Taurat. Yesus memaklumkan bahwa Allah itu pembebas. Allah ingin manusia mengembangkan diri secara lebih utuh dan penuh. Segala hukum, peraturan, dan perintah harus diabdikan kepada tujuan pemerdekaan manusia. Maksud terdalam setiap hukum ialah membebaskan atau menghindarkan manusia dari segala sesuatu yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula tujuan hukum Taurat. Sikap Yesus terhadap hukum Taurat dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih.

4. Yang dikritik Yesus bukanlah hukum Sabat sebagai pernyataan kehendak Allah, melainkan cara hukum itu ditafsirkan dan diterapkan. Hari Sabat bukan untuk mengabaikan kesempatan berbuat baik. Pandangan Yesus tentang hukum Taurat adalah pandangan yang bersifat memerdekakan sesuai dengan maksud asli hukum Taurat itu sendiri.

5. Dalam dokumen Konsili Vatikan II, melalui Inter Mirifica, Gereja ingin mengajak umat manusia untuk menyadari peran positif berbagai sarana komunikasi sosial untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi, agar harkat kemanusiaannya semakin hari semakin tampak dan semakin berkembang. Selain itu, aneka sarana komunikasi sosial juga dapat dimanfaatkan untuk mewartakan kabar sukacita yang menjadi warisan teragung Kristus, demi keselamatan umat beriman kristiani, bahkan juga demi kemajuan hidup manusia pada umumnya.

6. Secara khusus untuk meminimalisir dampak negatif dari pemakaian media komunikasi sosial maka diatur tentang kewajiban-kewajiban para pemakai komunikasi sosial (IM 9) juga kewajiban-kewajiban kaum muda dan orang tua (IM 10). Dengan demikian media komunikasi sosial dapat dipakai sebagai sarana untuk mewartakan Kerajaan Allah.

7. Selanjutnya, dalam dokumen “Gereja dan Internet” yang dirilis Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial pada 22 Februari 2002, dijelaskan pokok berikut: “Gereja memandang sarana-sarana ini sebagai ‘anugerah-anugerah Allah’, sesuai rencana Penyelenggaraan Ilahi, dimaksudkan untuk menyatukan manusia dalam ikatan persaudaraan, agar menjadi teman sekerja dalam rencana-rencana penyelamatan-Nya’. Hal tersebut tetap menjadi pandangan kami, dan itulah pandangan yang kami pegang tentang Internet.” Dan dalam dokumen ini juga ditegaskan bahwa media komunikasi sosial memberi manfaat-manfaat penting dan keuntungan-keuntungan dari perspektif religius, karena dapat dipakai sebagai sarana evangelisasi dan katekese.

8. Media komunikasi memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian seseorang, mempengaruhi pembentukan pendapat umum yang sangat menentukan cara pikir dan cara pandang manusia. Gereja bermaksud membantu mereka yang bekerja dalam media untuk menjadikan media komunikasi sebagai jalan untuk mencapai kesejahteraan umum dan berpusat kepada pribadi manusia.

9. Ketua Komisi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia (Komsos KWI) 2006 Mgr. Hilarion Datus Lega Pr. Mengambil sikap tegas melalui pernyataannya: “Anda harus berani mengambil sikap! Jadikanlah media sebagai alat bukan tuan! Media bukan segala-galanya yang harus melampaui hati nurani, akal budi sehat dan kebutuhan konkret manusia yang menggunakannya.

C. Bersikap Kritis terhadap Ideologi dan Gaya Hidup yang Berkembang Dewasa ini

1. Pengertian ideologi sendiri dapat diartikan sebagai sebuah sistem keyakinan yang akan memandu perilaku dan tindakan sosial. Dari bahasanya, ideologi berasal dari perpaduan dua istilah Yunani yaitu idein dan logos. Idein berarti memandang, melihat, ide, dan cita-cita, sementara logos adalah logia atau ilmu. Dari perpaduan kata tersebut, ideologi dapat diartikan sebagai seperangkat ide yang membentuk keyakinan dan paham untuk mewujudkan cita-cita manusia.

2. Gaya Hidup (Bahasa Inggris: lifestyle) adalah bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya. Gaya hidup bisa dilihat dari cara berpakaian, kebiasaan, dan lain-lain. Gaya hidup bisa dinilai relatif tergantung penilaian dari orang lain. Gaya hidup juga bisa dijadikan contoh dan juga bisa dijadikan hal tabu. Contoh gaya hidup baik: makan dan istirahat secara teratur, makan makanan 4 sehat 5 sempurna, dan lain-lain. Contoh gaya hidup tidak baik: berbicara tidak sepatutnya, makan sembarangan, dan lain-lain.

3. Bagi remaja, model, tren maupun gaya hidup, misalnya; model berpakaian, film, musik, ataupun perangkat teknologi, akan sangat mempengaruhi dalam proses mengambil keputusan dalam hidupnya tergantung pada kedewasaan atau kematangan pribadinya. Diharapkan mereka bisa mengambil sikap secara kritis dan bertanggung jawab.

4. Kita dapat mengambil teladan dari sikap Yesus dalam menghadapi godaan. Setelah berpuasa selama 40 hari Yesus dicobai oleh iblis dengan tawaran yang menantang (bdk. Luk. 4:1-13).

5. Sesudah Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, secara fisik Yesus lemah. Kondisi “lemah” tersebut dimanfaatkan oleh iblis untuk mencobai Yesus. Ia mencobai Yesus dengan menawarkan hal-hal yang menggiurkan (lihat Lukas 4:1-13), yakni:
a. Yesus disuruh mengubah batu menjadi roti (jaminan sosial ekonmi).
b. Yesus disuruh menyembah iblis dan akan dijadikan penguasa atas dunia (kedudukan dan kekuasaan).
c. Yesus disuruh melompat dari bubungan dari bait Allah (popularitas dan kesenangan).
Tawaran-tawaran tersebut ingin membelokkan tujuan dalam mewartakan Kerajaan Allah.

6. Tantangan zaman dan budaya akhir-akhir ini mengharuskan setiap orang bersikap kritis terhadap segala ideologi, aliran, dan gaya hidup yang ada, khususnya yang mempengaruhinya secara langsung. Tentu sikap kritis juga harus disertai dengan rasa tanggung jawab. Sikap kritis yang baik, adalah sikap yang tidak hanya asal beda, melainkan sikap yang memang merupakan pilihan. Sikap ini perlu didasari dengan pertimbangan yang logis, tepat, sekaligus menimbang baik dan buruknya berdasarkan iman.

7. Pribadi Yesus menjadi teladan pribadi yang autentik (tidak mudah terpengaruh, dewasa, dan bertanggung jawab). Yesus dalam perjalanan karya-Nya ternyata tidak memilih salah satu pun ideologi atau paham yang dibawa dari kelompok- kelompok atau aliran yang ada, yaitu Farisi, Saduki, Zelot, dan Eseni. Yesus secara tegas dan kritis memilih gerakan-Nya sendiri, yaitu mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Yesus bahkan sering berdebat dan melawan suatu paham dari kelompok-kelompok tersebut. Begitu juga, Yesus sering kali melakukan sikap-sikap yang cenderung membalik dan melawan, bahkan bergabung dengan orang-orang yang dianggap terbuang. Pada intinya, Yesus ingin mewartakan kasih Allah kepada orang-orang terutama mereka yang terbuang, walaupun harus bertentangan dengan paham atau ideologi yang ada.

8. Bersikap kritis terhadap media dan ideologi tanpa tanggung jawab dan dasar yang kuat akan menyebabkan kita hanya ingin tampil beda saja. Sebagai murid Kristus, sikap kritis harus berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita harus mengkritisi berbagai media, ideologi dan gaya hidup yang berkembang dewasa ini dengan didasarkan pada sikap iman.

9. Sikap iman merupakan bentuk sikap bagaimana kita menerima Allah dan kasih Allah yang diwahyukan kepada kita dalam pribadi Yesus melalui komitmen- komitmen kita. Sikap kritis terhadap ideologi yang ada, semestinya membuat kita mampu bertahan dan berkembang sebagai seorang kristiani sejati di tengah- tengah dunia ini.

10. Konsekuensi dan dasar dari hidup kritis adalah berani menyatukan diri ke dalam perkembangan dunia, dan berani melepas apa yang “nikmat” dan menjadi murid Kristus. Sikap kritis mempunyai 3 proses dasar:
a. Berusaha memusatkan diri pada perkembangan nilai-nilai atau cita-cita yang kita anggap luhur.
b. Berusaha memalingkan diri dari keegoisan dan mengarahkan segala perhatian kepada kepentingan bersama.
c. Membuka perhatian kepada hidup yang lebih sempurna, yaitu ke arah hidup Allah sendiri.