Pesan yang Dipetik Dari Cerita Kisah Dua Ekor Burung dalam Muṇdaka Upaniṣad

Kisah Dua Ekor Burung dalam Muṇdaka Upaniṣad

Dikisahkan terdapat dua ekor burung sedang berada di pohon yang rindang. Seekor burung berada di atas cabang pohon yang tinggi, sedangkan yang lainnya berada di cabang pohon yang lebih rendah.

Burung yang di atas terlihat tenang, cantik, dan sempurna. Burung yang lebih rendah terlihat tidak pernah diam, selalu meloncat dari ranting ke ranting lainnya.

Ketika burung yang di bawah memakan buah manis, dia merasa sangat senang. Sebaliknya, saat buah yang dimakan tidak enak rasanya, dia merasa sedih.

Suatu ketika burung yang di bawah sedang memakan buah kesukaanya. Ia melihat burung di atas yang selalu tenang. Kemudian ia pun berpikir, “Aku ingin menjadi seperti burung di atas yang selalu tenang!” perlahan-lahan dia melompat sedikit mendekati burung di atas.

Sesaat kemudian dia kembali melakukan kebiasaannya. Sekali lagi dia melihat burung yang di atas yang masih tenang, muncul kembali keinginan untuk mendekat. Ia pun mendekat pada burung yang agung tersebut.

Berulang-ulang dilakukannya, dan akhirnya dia dapat mendekati burung di atas. Keindahan bulu burung tersebut membuatnya terpesona.

Pada akhirnya burung itu menyadari bahwa ia seorang diri.

Soal: Setelah membaca cerita di atas, simpulkanlah pesan yang dipetik dari cerita di atas. Setelah itu, ungkapkan pandangan pribadi kalian terhadap pesan tersebut. Tulis dalam buku kerja kalian masing-masing.

Soal diatas adalah soal yang terdapat pada buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK kelas XI halaman 17.

Jawab:

Pesan yang dipetik dari cerita dua ekor burung dalam Muṇdaka Upaniṣad adalah bahwa manusia harus berusaha untuk mencapai ātman yang bersifat abadi dan tidak tersentuh oleh kesengsaraan. Manusia yang masih terikat oleh raga dan indriyanya akan selalu mengalami suka dan duka. Namun, jika manusia mampu mengendalikan pikiran dan indriyanya, maka ia akan dapat melihat ātman yang ada di dalam dirinya.

Pandangan pribadi saya terhadap pesan tersebut adalah bahwa pesan tersebut sangatlah penting untuk diingat oleh setiap orang. Sebagai manusia, kita sering kali terlena oleh kesenangan dan penderitaan yang bersifat sementara. Hal ini dapat membuat kita lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu untuk mencapai ātman.

Untuk mencapai ātman, kita perlu melakukan pengendalian pikiran dan indriya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti meditasi, yoga, dan praktik spiritual lainnya. Dengan mengendalikan pikiran dan indriya, kita akan dapat melihat dunia dengan lebih jernih dan memahami hakikat hidup yang sebenarnya.