JAWABAN! Seorang Guru Hendaknya Memahami Bahwa Pembelajaran Terpadu Muncul Atas 3 Landasan Filosofis

Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran atau topik ke dalam satu tema atau kegiatan pembelajaran. Pendekatan ini bertolak belakang dengan pendekatan pembelajaran konvensional yang cenderung dipecah-pecah berdasarkan mata pelajaran.

Pembelajaran terpadu muncul atas tiga landasan filosofis, yaitu:

1. Progresivisme
Progresivisme memandang bahwa anak memiliki potensi untuk belajar dan berkembang secara alami. Oleh karena itu, pembelajaran haruslah berpusat pada anak dan sesuai dengan minat serta kebutuhan mereka.

2. Konstruktivisme
Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri melalui proses pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, pembelajaran haruslah memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif belajar dan menemukan sendiri pengetahuannya.

3. Humanisme
Humanisme memandang bahwa setiap siswa memiliki harkat dan martabat yang sama. Oleh karena itu, pembelajaran haruslah menghargai perbedaan individual siswa dan mendorong mereka untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

Benang Merah dari Ketiga Landasan Filosofis

Ketiga landasan filosofis tersebut memiliki benang merah yang saling terkait satu sama lain. Ketiganya memiliki pandangan yang sama bahwa siswa adalah subjek dalam pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran haruslah berpusat pada siswa dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keterkaitan Landasan Filosofis dengan Kegiatan Pembelajaran

Keterkaitan landasan filosofis dengan kegiatan pembelajaran dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

a. Pemilihan tema atau topik pembelajaran
Pemilihan tema atau topik pembelajaran haruslah menarik dan relevan dengan minat serta kebutuhan siswa. Hal ini sesuai dengan pandangan progresivisme yang memandang bahwa anak memiliki potensi untuk belajar dan berkembang secara alami.

b. Proses pembelajaran
Proses pembelajaran haruslah aktif dan interaktif. Siswa harus diberikan kesempatan untuk aktif belajar dan menemukan sendiri pengetahuannya. Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme yang memandang bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri melalui proses pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.

c. Penilaian
Penilaian haruslah bersifat holistik dan berkesinambungan. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil belajar, tetapi juga pada proses belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pandangan humanisme yang memandang bahwa setiap siswa memiliki harkat dan martabat yang sama.

Berdasarkan uraian diatas jawaban soal “Seorang guru hendaknya memahami bahwa pembelajaran terpadu muncul atas 3 landasan filosofis diantaranya progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme. John Dewey, Jean Piaget, Lev Vgotsky dan William James merupakan tokoh-tokoh yang berada dibelakangnya. Paparkan benang merah dari ketiga landasan tersebut sehingga mendorong lahirnya pembelajaran terpadu. Serta uraikan keterkaitan landasan tersebut terhadap kegiatan pembelajaran” adalah sebagai berikut:

Pembelajaran terpadu muncul atas tiga landasan filosofis, yaitu:
  1. Progresivisme yang memandang bahwa anak memiliki potensi untuk belajar dan berkembang secara alami.
  2. Konstruktivisme yang memandang bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri melalui proses pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.
  3. Humanisme yang memandang bahwa setiap siswa memiliki harkat dan martabat yang sama.

Ketiga landasan filosofis tersebut memiliki benang merah yang saling terkait satu sama lain, yaitu:
  • Pembelajaran berpusat pada siswa
  • Pembelajaran yang aktif dan interaktif
  • Penilaian yang holistik dan berkesinambungan

Keterkaitan landasan filosofis dengan kegiatan pembelajaran:
  • Pemilihan tema atau topik pembelajaran haruslah menarik dan relevan dengan minat serta kebutuhan siswa.
  • Proses pembelajaran haruslah aktif dan interaktif, sehingga siswa dapat aktif belajar dan menemukan sendiri pengetahuannya.
  • Penilaian haruslah bersifat holistik dan berkesinambungan, sehingga dapat menilai proses belajar siswa secara menyeluruh.

Contoh:

Seorang guru ingin mengajarkan materi tentang energi kepada siswa kelas 5 SD. Guru tersebut memilih tema energi karena tema tersebut menarik dan relevan dengan minat serta kebutuhan siswa. Proses pembelajarannya dirancang agar siswa dapat aktif belajar dan menemukan sendiri pengetahuannya, misalnya dengan melakukan eksperimen atau bermain peran. Penilaiannya dilakukan dengan cara mengamati proses belajar siswa selama pembelajaran berlangsung.