Teori Asal Usul Kehidupan Di Alam Semesta


Dalam ilmu pengetahuan terdapat beberapa teori asal usul alam semesta. Salah satu dinamakan teori nebula atau kabut gas.

Proses terbentuknya Bumi dan tata surya kita berasal dari pusaran kabut gas panas dengan energi yang berbeda-beda, selama jutaan tahun mengalami penurunan suhu membentuk planet-planet dengan pusat pusarannya membentuk bintang yang kita kenal matahari.

Bumi pun terus menerus mengalami pendinginan di bagian kulit luarnya, secara perlahan selama jutaan tahun, dari kabut gas panas berubah perlahan dalam kurun jutaan tahun, hingga memiliki lautan, daratan dan atmosfer (udara).

Evolusi jutaan tahun terus berlanjut hingga terbentuknya molekul-molekul senyawa organik dasar kehidupan, seperti asam amino, gula sederhana, DNA dan RNA.

Dua yang terakhir ini DNA dan RNA dianggap sebagai molekul yang memiliki ciri kehidupan paling awal, membentuk Virus, Mitokondria dan Kloroplast, berikutnya sel-sel bakteri dan protozoa.

Evolusi diperkirakan berlangsung terus hingga hadirnya berbagai macam tumbuhan dan hewan di bumi.

Manusia juga diketahui mengalami evolusi. Perunutan fosil-fosil manusia dan fosil peradabannya yang telah ditemukan para arkeolog mendukung adanya evolusi manusia. (Karafet, at.all.2014)

Semua makhluk hidup berasal dari evolusi bentuk kehidupan sebelumnya yang lebih sederhana. Seorang tokoh Teori Evolusi yang paling terkenal, Charles Darwin dalam bukunya “On The Origin Species By Means Of Natural Selection” menyatakan dua hal:
  • Makhluk hidup (spesies) yang ada sekarang berasal dari perubahan perlahan- lahan dari spesies yang hidup sebelumnya.
  • Alam selalu berubah, individu-individu yang mampu beradaptasi akan bertahan; sedangkan yang tidak dapat beradaptasi akan punah karena seleksi alam.

Tetapi Darwin sama sekali tidak membahas asal usul manusia. Ahli-ahli geologi dan antropolog berupaya membangun berbagai hipotesis dari berbagai penemuan ilmiah mutakhir, tetapi belum ada satu teori pun yang menyatakan asal mula manusia secara gamblang.

Dalam istilah keilmuan masalah ini dikenal dengan istilah “The Missing Link” (mata rantai yang hilang/ terputus). Sejak adanya teori evolusi Charles Darwin, pencarian bukti-bukti tentang evolusi semakin gencar dilakukan oleh ahli geologi dan ahli paleontologi (mengkaji penemuan sisa peninggalan kehidupan masa lampau, baik berupa fosil maupun bekas jejak penunjuk adanya makhluk hidup masa lampau.

Banyak ditemukan fosil-fosil manusia dan jejaknya, dan diyakini manusia sudah ada di bumi sekitar 2 – 2,5 juta tahun yang lalu dari spesies manusia purba (Homo erectus) yang sebagian ditemukan di pulau Jawa.

Jika kita perhatikan dari ulasan teoritis asal usul kehidupan di atas, Hal terpenting lagi bahwa ilmu pengetahuan dengan berbagai teori yang ada itu baru mengulas benda fisik dan alam biologis terkait asal kekuatan hidup, daya atau energi, dan belum sesuai dengan kajian asal hidup dan kehidupan rohaniah, sebagaimana ada dalam kajian keagamaan dan kepercayaan.

Kedua hal itu sangat berbeda titik pandangnya, sehingga belum dapat diperbandingkan.

Kajian spesifik tentang evolusi manusia terutama evolusi tingkat berpikir manusia akan lebih dekat dengan kajian mengapa manusia memiliki kepercayaan. Penelitian dan pengkajian hubungan evolusi kognitif dengan asal usul kepercayaan baru muncul di abad 21 sekarang ini.