Sumber Ajaran dan Nilai-Nilai Yajña dalam Kitab Rāmāyana


Masyarakat Hindu menerapkan ajaran Weda dengan berbagai cara, baik melalui praktik dalam kehidupanya sebagai bentuk pengamalan ajaran Weda melalui berbagai bentuk simbol-simbol atau niyasa. Simbol-simbol yang terdapat dalam pelaksanaan yajña merupakan realisasi dari ajaran agama Hindu (Weda).

Simbol-simbol yang terdapat dalam yajña dapat meningkatkan keheningan hati dan kemantapan keyakinan masyarakat Hindu untuk melaksanakan kegiatan agama yang dianutnya dan terus berkarma tanpa pamrih.

Nilai-nilai Yajña dimuat dalam Kitab Rāmāyana melalui tokoh Lakṣmaṇa, Satrughna, dan Śrī Rāmā dalam 7 (tujuh) kanda dengan uraian ringkasan cerita sebagai berikut:

1. Bala Kanda
Bagian awal dalam cerita Rāmāyana dimuat pada Bala Kanda. Pada bagian Bala Kanda menguraikan tentang negeri Kosala dengan ibu kotanya adalah Ayodhyā yang dipimpin oleh raja Daśaratha. Raja Daśaratha didampingi oleh tiga orang istrinya, yaitu Kausalya yang melahirkan Rāmā sebagai anak tertua, Kaikeyi Ibu dari Bharata, dan Sumitra adalah Ibu dari Lakṣmaṇa dan Satrughna. Selanjutnya dikisahkan tentang sayembara di Wideha. Pada saat itu, Śrī Rāmā memenangkan sayembara tersebut dan hadiahnya adalah seorang wanita cantik bernama Sītā putri dari Raja Janaka (Ringkasan Kanda I, Bala Kanda. Sanjaya, 2003).

2. Ayodhyā Kanda
Pada bagian Ayodhyā Kanda menceritakan tentang Raja Daśaratha yang kondisinya sudah mulai tua. Selanjutnya, ia ingin menyerahkan tahta kerajaannya kepada Śrī Rāmā. Pada saat sedang memikirkan rencana tersebut, datanglah istrinya yang bernama Kaikeyi. Keikeyi mengingatkan kembali atas janji yang pernah diucapkan Raja Daśaratha tentang dua permintaannya yang harus dikabulkan.

Kaikeyi pun menyebutkan permintaanya yang pertama, yaitu sebaiknya bukan Rāmā yang duduk menjadi raja di Ayodhyā, melainkan Bharatalah yang seharusnya menjadi raja menggantikannya sebagai raja. Demikianlah permintaannya yang pertama. Selanjutnya, Keikeyi pun menyampaikan permintaan yang kedua, yaitu agar Śrī Rāmā diasingkan ke tengah hutan selama 14 tahun lamanya.

Pada bagian cerita tersebut, Daśaratha dengan penuh kesedihan menuruti permintaan tersebut dan akhirnya meminta agar Śrī Rāmā melaksanakannya. Śrī Rāmā pun mengikuti permintaan kedua orang tuanya tersebut. Selanjutnya Śrī Rāmā dan Dewi Sītā istrinya pergi ke hutan untuk meninggalkan negeri Ayodhyā dengan ditemani oleh Lakṣmaṇa.

Beberapa waktu kemudian Raja Daśaratha mengalami kesedihan yang mendalam, kemudian menghembuskan napasnya untuk selamanya. Saat itu kerajaan harus ada yang memimpin, tetapi Bharata menolak untuk menjadi raja menggantikan ayahnya.

Bharata malah pergi ke hutan menemui Śrī Rāmā dan menceritakan seluruhnya agar kakaknya berkenan pulang untuk menjadi raja. Tetapi Śrī Rāmā tetap komitmen mengikuti apa yang diminta oleh ayahnya agar mengasingkan diri ke hutan selama 14 tahun. Selanjutnya Bharata kembali pulang dan memimpin kerajaan atas nama Śrī Rāmā (Ringkasan Kanda II, Ayodhyā Kanda. Sanjaya, 2003).

3. Aranyaka Kanda
Selama pengasinganya di hutan Śrī Rāmā selalu menolong para pertapa yang diganggu oleh raksasa. Suatu ketika Śrī Rāmā bertemu raksasa bernama Surpanaka. Oleh karena kekhawatiran dari Lakṣmaṇa kemudian telinga dan hidung raksasa itu dipotong. Kejadian ini kemudian diceritakan oleh raksasa tersebut kepada kakaknya yang bernama Rāvaṇa dan menceritakan kecantikan istri dari Śrī Rāmā.

Mendengar cerita adiknya, raksasa Rāvaṇa penasaran dan memutuskan untuk pergi hutan ke tempat Śrī Rāmā tinggal. Tiba di sana, Rāvaṇa terpesona dengan kecantikan Dewi Sita, dan begitu tertarik untuk memilikinya. Untuk menjauhkan Śrī Rāmā, Rahwana menyuruh Marica, temannya untuk berubah menjelma menjadi kijang emas, dan mencoba untuk menggoda di depan kediaman Śrī Rāmā dan Dewi Sītā.

Melihat kecantikan kijang itu, Dewi Sita memohon agar suaminya berkenan menangkapnya. Namun, ternyata kijang tersebut sangat lincah. Bahkan kijang tersebut berlari sangat jauh untuk menjauhkan Śrī Rāmā dari Dewi Sītā dan seketika kijang tersebut berubah menjadi raksasa. Karena kekhawatirannya, Dewi Sītā meminta Lakṣmaṇa untuk menyusul Śrī Rāmā. Akhirnya sendirilah Dewi Sītā di rumahnya.

Namun, kewaspadaan Lakṣmaṇa tetap ada, maka Dewi Sītā dijaga dengan ilmu gaib melalui sebuah lingkaran agar Dewi Sītā tidak keluar dari batas garis yang sudah ditetapkannya. Tiba-tiba datanglah seorang Brahmana yang datang untuk meminta bantuan kepada Dewi Sītā, Dewi Sītā pun menolongnya. Padahal dia adalah jelmaan dari raksasa yang akan menculik Dewi Sītā. Pada saat itulah Dewi Sītā berhasil diculik.

Beberapa waktu kemudian Śrī Rāmā dan Laksamana kembali, ternyata Dewi Sītā sudah tiddak ada di tempat. Selanjutnya Śrī Rāmā dan Laksamana terus berusaha mencarinya. Ketika sedang mencarinya, mereka bertemu dengan seekor burung bernama Jatayu. Jatayu adalah kawan baik ayahnya, yaitu Raja Dasaratha. Pada saat pertemuannya Jatayu menceritakan bahwa Dewi Sītā dibawa terbang oleh Rahwana. Jatayu berusaha merebutnya tetapi tidak berhasil. Setelah Jatayu menceritakan semuanya, kemudian ia meninggal karena terlalu banyak luka akibat pertempuranya melawan Rahwana (Ringkasan Kanda III, Aranyaka Kanda. Sanjaya, 2003).

4. Kiskindha Kanda
Pada bagian dari Kiskindha Kanda diceritakan tentang pertemuan Śrī Rāmā dengan Sugriwa. Sugriwa adalah seorang raja keturunan kera. Pada saat itu Sugriwa menceritakan masalah yang sedang dialaminya kepada Śrī Rāmā bahwa istrinya direbut oleh saudaranya sendiri yang bernama Walin. Śrī Rāmā berjanji akan menolongnya asalkan Sugriwa juga mau membantunya untuk mendapatkan Dewi Sītā. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Sugriwa bergabung dengan Śrī Rāmā untuk memperoleh kembali kerajaan dan istrinya.

Begitu juga sebaliknya Sugriwa akan membantu Rāmā untuk mendapatkan Sītā dari Rahwana di negeri Alengka. Pada saat itulah Sugriwa kembali menjadi raja Kiskinda dan Anggada, anak Walin dijadikan putra mahkota. Kemudian tentara kera berangkat ke Alengka untuk menjemput Dewi Sītā dan berperang melawan Rahwana.

Dalam perjalanan mereka mengalami kendala untuk menyeberangi lautan. Namun dengan kecerdasan dari pasukan kera, akhirnya mereka berhasil menyeberang dengan cara membuat jembatan menggunakan tumpukan batu (Ringkasan Kanda IV, Kiskindha Kanda. Sanjaya, 2003).

5. Sundara Kanda
Pada bagian ini diceritakan bahwa Hanuman, kera kepercayaan dari Sugriwa berhasil mendaki Gunung Mahendra dan kemudian melompat dengan segenap kekuatannya agar bisa berhasil sampai di negeri Alengka. Ia pun berhasil bertemu dengan Dewi Sītā. Pada saat itulah Hanuman menceritakan bahwa Śrī Rāmā akan segera menjemputnya.

Setelah pertemuan tersebut, kemudian kehadiran Hanuman diketahui oleh tentara Alengka dan akhirnya Hanuman ditahan. Berbagai upaya dilakukan para tentara Alengka untuk membunuh Hanuman, akan tetapi tidak berhasil. Akhirnya Hanuman berhasil bertemu kembali dengan Śrī Rāmā dan melaporkan keadaan Dewi Sītā di negeri Alengka (Ringkasan Kanda V, Sundara Kanda. Sanjaya, 2003).

6. Yudha Kanda
Pada bagian Yudha Kanda menceritakan bahwa berkat bantuan dari Dewa Baruna pasukan Kera berhasil membangun jembatan di atas laut yang menghubungkan ke Alengka. Dalam waktu yang bersamaan Rahwana pun mengetahuinya dan segera menyusun kekuatan untuk menghadapi pasukan kera. Tidak lama seluruh keluarga Rahwana mengetahui termasuk adiknya, yaitu Wibisana.

Wibisana sebagai adik ikut memberi masukan kepada kakaknya agar tidak terjadi peperangan yang akan menggugurkan rakyatnya. Wibisana mengusulkan agar Dewi Sītā dikembalikan kepada Śrī Rāmā.

Usul dari Wibisana tersebut ditanggapi dengan kemarahan oleh Rahwana dan akhirnya Wibisana diusir keluar dari keluarganya. Karena sifat baiknya Wibisana kemudian bergabung dengan Śrī Rāmā melawan kesombongan kakaknya sendiri sebagai simbol ketidakbaikan. Akhirnya pertempuran tidak bisa dihindari, dalam pertempuran tersebut Indrajit dan Kumbakarna gugur dalam perlawanannya melawan pasukan Śrī Rāmā dan Sugriwa.

Rahwana pun ikut berperang, namun akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh Śrī Rāmā dan pada saat peperangan tersebut Rahwana terbunuh. Karena Rahwana terbunuh, maka Śrī Rāmā mengangkat adiknya Rahwana, yaitu Wibisana menjadi raja di Alengka dan Dewi Sītā kembali bersama Śrī Rāmā. Akan tetapi Śrī Rāmā meragukan kesucian dari Dewi Sītā. Dewi Sītā mengalami kesedihan karena kesuciannya diragukan oleh Śrī Rāmā. Selanjutnya Dewi Sītā minta tolong kepada abdinya agar menyiapkan api unggun sebagai saksi atas kesuciannya.

Dewi Sītā rela menerjunkan dirinya ke dalam api untuk membuktikan kesuciannya pada Śrī Rāmā. Apa yang dilakukan Dewi Sītā akhirnya dijelaskan oleh Dewa Agni kepada Śrī Rāmā bahwa Dewi Sītā memang masih suci.

Akhirnya Dewi Sītā dikembalikan kepada Śrī Rāmā. Śrī Rāmā berkata bahwa keraguanya tersebut sebagai cara untuk membuktikan dan meyakinkan kepada rakyatnya bahwa kesucian dari permaisurinya yaitu Dewi Sītā masih terjaga. Selanjutnya Śrī Rāmā dan Dewi Sītā bersama-sama dengan pasukan dan seluruh keluarganya yang ikut berperang kembali ke kerajaanya Ayodhyā. Pada saat tiba, Śrī Rāmā dan Dewi Sītā disambut oleh Bharata dengan bahagia. Kemudian Bharata menyerahkan kepemimpinannya kepada kakaknya, yaitu Śrī Rāmā (Ringkasan Kanda VI, Yudha Kanda. Sanjaya, 2003).

7. Uttara Kanda
Uttara Kanda merupakan bagian akhir yang menceritakan bahwa Śrī Rāmā mendengar perbincangan rakyatnya yang terus mendiskusikan tentang kesucian Dewi Sītā. Sebagai raja Śrī Rāmā akhirnya memutuskan untuk memberi contoh yang baik kepada rakyat dan Dewi Sītā diminta untuk meninggalkan istana kerajaan untuk pergi ke hutan.

Selanjutnya Dewi Sītā pergi menuju ke pertapaan Rsi Vālmīki. Dalam perjalanan kisah tersebut Rsi Vālmīki membuat sebuah cerita Dewi Sītā menjadi wiracarita Rāmāyana. Di tempat itulah Dewi Sītā melahirkan dua putra kembar yang diberi nama Kusa dan Lava. Kedua putranya tersebut dibesarkan oleh Rsi Valmiki.

Pada acara yang diadakan oleh Śrī Rāmā, yaitu Aswamedha, masyarakat dari berbagai wilayah hadir termasuk Kusa dan Lava yang mempersembahkan nyanyian Rāmāyana yang telah dipersiapkan oleh Rsi Vālmīki. Dalam persembahan nyanyian tersebut Śrī Rāmā sangat tertarik dan sangat mengagumi persembahan tersebut, sehingga Śrī Rāmā mencari tahu dan akhirnya mengetahui bahwa kedua putra tersebut adalah putranya sendiri. Kemudian Śrī Rāmā meminta bantuan kepada Rsi Vālmīki untuk mengantarkan Dewi Sītā ke istana.

Rsi Vālmīki menerima permintaan dari Śrī Rāmā dan kemudian mengantarkan Dewi Sītā bersama putra-putranya ke istana. Selanjutnya Dewi Sītā meyakinkan kepada Śrī Rāmā dengan cara bersumpah “raganya tidak diterima oleh bumi seandainya ia memang tidak suci”. Seketika itu belahlah dan muncul Dewi Pertiwi di atas singgasana emas yang didukung oleh ular-ular naga. Sītā dipeluknya dan dibawanya lenyap ke dalam bumi. Rāmā sangat sedih dan menyesal, karena tidak dapat memperoleh istrinya kembali. Selanjutnya Ia menyerahkan mahkotanya kepada kedua anaknya, dan Śrī Rāmā kembali ke kahyangan sebagai Wisnu (Ringkasan Kanda VII, Uttara Kanda. Sanjaya, 2003)