Strategi Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Penyebaran Islam di Nusantara


Sunan Gunung Jati lahir pada tahun 1450 M, dengan nama asli Syarif Hidayatullah. Beliau adalah salah satu dari Wali Songo. Putra dari Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, dari seorang ibu bernama Nyai Rara Santang. Jamaluddin Akbar kakek buyut dari Syarif Hidayatullah adalah seorang mubaligh besar dari Gujarat, India yang dikenal dengan Syekh Maulana Akbar.

Ketika menginjak remaja, Sunan Gunung Jati memperdalam ilmu agama dengan berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri dan Syekh Ataullahi Sadzili di Mesir, kemudian ia melanjutkan belajar ilmu tasawuf ke Baghdad.

Saat berusia 27 tahun, sekitar tahun 1475 M., Sunan Gunung Jati kembali ke tanah Jawa dan tinggal di Caruban di dekat wilayah Cirebon. Beliau pun menikah dengan Nyi Ratu Pakungwati, putri dari Pangeran Cakra Buana, penguasa Cirebon. Setelah Pangeran Cakra Buana memasuki usia lanjut, maka kekuasaan atas Kasultanan Cirebon diserahkan kepada Sunan Gunung Jati selaku menantunya.

Sunan Gunung Jati  menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran, Serang, Banten dan Cirebon.

Adapun strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati dalam proses Islamisasi di tanah Jawa, yaitu:
  • Metode muidlah hasanah/nasihat-nasihat yang baik
  • Metode al-hikmah/menggunakan cara-cara yang bijaksana
  • Metode tadarruj/berjenjang, tingkatan belajar seorang murid (pesantren)
  • Metode ta’awun yaitu saling tolong menolong dan berbagi ketugasan dalam menyebarkan agama Islam di kalangan para wali
  • Metode musyawarah untuk membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas dan perjuangan dakwah para wali
  • Pembentukan kader dai.