Strategi Dakwah Sunan Giri dalam Penyebaran Islam di Nusantara


Sunan Giri lahir pada abad ke-15 M atau sekitar tahun 1442 di Blambangan (sekarang Banyuwangi). Ia memiliki nama asli Raden Paku dan memiliki nama panggilan lain yaitu Ainul Yaqin. Beliu wafat pada tahun 1506 M dan dimakamkan di Dusun Giri, Desa Giri, Gresik, Jawa Timur.

Ketika usia menginjak remaja, Sunan Giri berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Kemudian beliau bersama dengan Sunan Bonang pergi ke Pasai untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Setelah merasa cukup ilmu, Sunan Giri memutuskan untuk membuka pesantren di daerah perbukitan Sidomukti, di selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah ‘giri’ oleh karena itulah ia mendapatkan julukan Sunan Giri.

Adapun strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri, diantaranya:
  1. Dalam bidang pendidikan ia tidak hanya didatangi murid atau santri dari berbagai daerah, namun tidak segan juga beliau mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran secara langsung.
  2. Dalam bidang budaya, Sunan Giri mengembangkan dakwah Islam dengan memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beberapa karya seni yang Ia ciptakan, yaitu tembang Asmaradhana dan Pucung, Padhang Bulan, Jor, Gula Ganti dan permainan anak Cublak-cublak Suweng.