Rangkuman BAB 3 Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat - Kelas 10 Kurikulum Merdeka


Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat adalah BAB III buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas X SMA/SMK Kurikulum Merdeka.

Adapun materi BAB 3 Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat ini adalah:
  1. Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat
  2. Sumber Ajaran Catur Warna dalam Susastra Hindu
  3. Kewajiban dari Setiap Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat
  4. Menghubungkan Kewajiban dari Setiap Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat

Setelah mempelajari BAB 3 ini, peserta didik diharapkan mampu menganalisis catur warna dalam kehidupan masyarakat, serta memberikan ruang diskusi untuk menerapkan kecakapan abad 21.

Berikut adalah rangkuman BAB 3 Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat dalam buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka:

Catur warna adalah empat pilihan bagi setiap orang terhadap profesi yang cocok untuk pribadinya masing-masing. Pemahaman tentang catur warna dapat dirumuskan berdasarkan sastra drstha.

Bagian-bagian dari catur warna, antara lain
  1. Brahmana warna, adalah individu atau kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan di bidang kerohanian;
  2. Ksatrya warna, ialah individu atau kelompok masyarakat yang memiliki keahlian di bidang memimpin bangsa dan negara;
  3. Waisya warna, adalah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pertanian dan perdagangan; dan
  4. Sudra warna, ialah individu atau golongan masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pelayanan atau membantu atau mengabdi hanya dengan menggunakan pengetahuan dan tenaga saja.

Kewajiban pokok dari Brāhmaṇa Warna, yaitu mereka yang memiliki kemampuan untuk mempelajari Weda (Wedadhyayana) dan memelihara Weda-Weda itu atau disebut Wedarakshana.

Kewajiban Kṣatriya, dalam kehidupan sosial seperti memimpin pemerintahan. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut memerlukan kekuasaan. Dalam melaksanakan kekuasaannya memerlukan kekuatan. Kekuatan yang dibutuhkan dalam hal ini bukan saja kekuatan fisik tetapi yang lebih utama adalah kekuatan rohani, yaitu kekuatan pikiran (intelegensinya) dan semangat yang tinggi.

Tugas utama dari Waisya Warna di bidang pertanian, seperti bercocok tanam, beternak, dan berdagang yang berperan dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi. Penjelasan ini sangat erat hubungannya dengan penjelasan yang disampaikan oleh Chandra Prakash Bhambhri. 

Menurutnya bahwa salah satu tugas atau lapangan Dkamuniti adalah mewujudkan kemakmuran yang disebut dengan istilah Vartta. Vartta ini meliputi tiga unsur pokok, yaitu pertanian, peternakan, dan perdagangan.

Śudra Warna memiliki kewajiban untuk selalu melayani. Tugasnya menjadi pelayan, pesuruh, atau pembantu orang lain yang dilakukan dengan tulus. Tugas ini bagi mereka yang hanya memiliki kekuatan jasmaniah.

Ketaatan serta bakat berdasarkan kelahiran untuk melaksanakan kewajiban utamanya dalam tugas-tugas memakmurkan masyarakat, negara, dan masyarakat Hindu manusia atas petunjuk-petunjuk dari fungsional lainnya dalam Warna yang lain untuk saling melayani sesuai dengan fungsinya. Demikianlah seharusnya fungsi dari masing-masing warna dalam kehidupan.

Ajaran catur warna dan jenjang kehidupan masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat relevan, karena di setiap jenjang kehidupan dalam melaksanakan kewajibanya ada tatanan dan etika yang wajib dilaksanakan melalui ajaran Catur Asrama.

Catur warna dengan Catur Asrama memiliki hubungan secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal hubungan antara warna satu dengan warna yang lainnya bersifat terstruktur. Terstruktur maksudnya adalah seseorang memiliki kemampuan yang baik sesuai dengan keahlian. Misalnya, Brahmana, memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan, kepemimpinan ksatrya untuk bangsa dan negara, guna mewujudkan kemakmuran dan kesejahtraan masyarakatnya (Sudra) dan tujuan terakhir adalah mampu untuk selalu berbagi dan saling melayani (Sudra).

Itulah rangkuman atau ringkasan materi BAB 3 Catur Warna dalam Kehidupan Masyarakat. Semoga bermanfaat.