Peninggalan Sejarah Agama Hindu di Asia


Peninggalan sejarah agama Hindu di Asia yang akan dibahas disini adalah peninggalan agama Hindu di India, Cina dan Indonesia.

1. Peninggalan Agama Hindu di India
Peninggalan agama Hindu di India dibagi menjadi 3 (tiga) zaman, yaitu
a. Zaman Weda;
b. Zaman Brahmana,dan
c. Zaman Upanisad.

a. Zaman Weda
Persebaran agama Hindu berdasarkan sejarah pada zaman Weda dimulai pada masa suku bangsa Arya mulai mendatangi lembah Sungai Sindhu yang diperkirakan sekitar tahun 2.500—1.500 SM. Suku bangsa Arya terus bergerak dan menempati lembah Sungai Sindhu yang menyebabkan suku bangsa suku asli, yaitu Dravida tersingkir. Mereka meninggalkan wilayah tersebut dan terus bergeser mencari tempat yang aman dan akhirnya sampailah di Dataran Tinggi Dekkan.

Pada zaman inilah suku bangsa Arya membawa perubahan peradaban pengetahuan Hindu. Saat itu mereka berhasil mengodifikasikan Kitab Mantra menjadi Catur Weda yang terdiri dari:
  • Reg. Weda;
  • Sama Weda;
  • Yajur Weda; dan
  • Atharwa Weda.

Pada zaman Weda kehidupan masyarakat berada dalam fase pemujaan kepada Tuhan. Hal ini ditandai dengan lantunan kidung-kidung suci, karena Catur Weda sebagai sumber hukum dalam kehidupan masyarakat saat itu.

Catur Weda yang merupakan Kitab Mantra dapat diuraikan sebagai berikut.
  • Reg. Weda, isinya dibagi menjadi 10 Mandala, yang terdiri dari 10.552 mantra. Kitab ini merupakan kitab tertua.
  • Sama Weda, jumlah mantra pada Kitab Sama Weda, yaitu 1.875. Kitab ini merupakan kitab yang isinya diambil dari Reg. Weda. Namun, ada beberapa yang tidak diambil terkait dengan nyanyian suci yang dinyanyikan pada saat upacara dilakukan.
  • Yajur Weda, kitab ini terdiri dari 1.975 mantra. Kitab ini berbentuk prosa yang isinya berupa rafal, doa, dan pelaksanaan upacara.
  • Atharwa Weda, kitab ini terdiri dari 5.987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra yang kebanyakan bersifat magis, sebagai tuntunan hidup sehari-hari.

Peradaban pengetahuan pada zaman Weda meyakini bahwa masyarakat dengan kemahakuasaan para dewa sebagai perwujudan dari Hyang Widhi Wasa.

b. Zaman Brahmana
Peninggalan agama Hindu pada zaman Brahmana, dipengaruhi oleh kelompok pemimpin intelektual ahli Weda yang disebut dengan kaum Brahmana. Kelompok inilah yang memiliki peran dan andil sangat besar terhadap kehidupan masyarakat pada zaman Brahmana khususnya dalam kehidupan keagamaan.

Karena hanya kaum Brahmana saja yang berhak memimpin upacara keagamaan pada masa itu. Pada zaman Brahmana ditandai dengan upacara persembahan masyarakat kepada para dewa dan dengan disusunnya tata cara upacara pelaksanaan keagamaan yang teratur.

Kehidupan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan ditandai dengan ritual upacara dan pemimpin ritual upacara tersebut adalah kaum Brahmana.

c. Zaman Upanisad
Zaman Upanisad ini merupakan reaksi terhadap yang terjadi pada zaman Brahmana. Seiring dengan berbagai perkembangan dan perubahan, kehidupan spiritual masyarakat mulai bergeser. 

Perkembangan kondisi ekonomi dan peradaban Weda juga mendorong lahirnya banyak filsuf.

Berbagai referensi menyebutkan bahwa zaman Upanisad ditandai dengan banyaknya filsuf yang lahir pada masa itu dan masyarakat mulai mendalami hakikat hidup, yaitu karma atau perbuatanlah yang akan menyelamatkan diri manusia untuk mencapai kesempurnaan, sehingga pengetahuan tentang rahasia Brahman dan atman menjadi pokok pikiran pada masa itu.

Pemikiran kritis terus diupayakan untuk pencerahan masyarakat terkait kehidupan keagamaannya. Pada masa inilah masyarakat mulai menyampaikan pemikiran kritisnya terhadap kebiasaan ritual upacara karena tidak berhenti pada upacara dan saji saja, melainkan hakikat hidup sangat penting untuk dipahami dengan baik.

Pada zaman inilah kemudian lahir konsep ajaran filsafat, ajaran Darsana, Itihasa, dan Purana. Pokok ajaran yang berkembang adalah Brahma Tattwa (pengetahuan tentang rahasia Brahman/Tuhan) dan Atma Tattwa (pengetahuan tentang rahasia Atman) yang kemudian Atma Tattwa berkembang menjadi Karmaphala Tattwa, Punarbhawa Tattwa, dan Moksa Tattwa.

Kerajaan-Kerajaan Hindu di India
a. Kerajaan Maurya
Dinasti Maurya diperkirakan berdiri sekitar tahun 320 SM. Peninggalan agama Hindu pada masa Kerajaan Maurya kehidupanya sangat sejahtera dan harmonis. Kerajaan Maurya didirikan oleh Candragupta.

Kerajaan Maurya mengalami masa kejayaan dan mampu berkembang dengan pesat sehingga menjadi kerajaan yang besar, mampu membawa kehidupan masyarakatnya dan kehidupan keagamaan dalam kehidupan masyarakat menjadi sangat harmonis.

Sejarah Chandragupta yang dikenali juga sebagai “Sandrokottos” dalam bahasa Latin disebut sebagai seorang pegawai kerajaan yang berkhidmat kepada kerajaan Nanda.

b. Kerajaan Gupta
Kerajaan ini lahir setelah perkembangan dan kekuasaan Dinasti Maurya. Kerajaan Gupta diperkirakan berdiri sekitar pada abad ke-4 Masehi. Kerajaan tersebut mengalami perkembangan sangat pesat dan pernah mengalami masa kejayaan, yaitu puncak kejayaannya pada masa kekuasaan dari Samudragupta.

Kehidupan masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi sumber ajaran dan aturan kerajaan bersumber dari ajaran Weda (Tim Penyusun, 2017). Selanjutnya, seiring berjalan waktu kerajaan tersebut mengalami krisis dan kemunduran yang sebagai akibat konflik sosial yang sering terjadi.

c. Kerajaan Andhra
Perkembangan nilai-nilai ajaran dan tradisi Weda berkembang dan diterapkan pada masa Kerajaan Andhra. Kerajaan Andhra secara geografis berada berdekatan dengan Sungai Godawari. Perkembanganya terjadi sekitar abad pertama SM. Diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Khrishna I kerajaan ini berusaha untuk mendirikan bangunan suci agama Hindu dalam bentuk kuil.

Bukti peninggalan tersebut berupa bangunan suci yang bernama Kuil Kailasa, tempatnya di Ellora (Tim Penyusun, 2017).

2. Peninggalan Agama Hindu di Cina
Peninggalan agama Hindu tidak hanya terjadi di India saja, akan tetapi juga berkembang perjalanannya sampai ke negeri Cina.

Pada masa ini diceritakan bahwa peninggalan sejarah agama Hindu di Cina dimulai sejak Cina dikuasai oleh kekuasaan Dinasti Han sekitar (206—221 M). Pada masa kekuasaan tersebut Dinasti Han, yaitu Kaisar Cina memberikan izin kepada para kaum Brahmana datang ke Cina mengajarkan tentang ajaran Weda. 

Kedatangan para Brahmana ke negeri Cina dalam mengajarkan ajaran Weda mulai berkembang di negeri tersebut (Tim Penyusun, 2017).

3. Peninggalan Agama Hindu di Indonesia
Ada beberapa kerajaan Hindu yang sangat besar dan terkenal di Indonesia. Perkembangan agama Hindu di Indonesia seperti Kerajaan Kutai yang berlokasi di Kalimantan Timur berdasarkan bukti peninggalan sejarah terjai sekitar tahun 400 Masehi. Sejarah tersebut dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa Prasasti Yupa.

Yupa tersebut memberikan keterangan tentang kehidupan keagamaan pada masa itu. Yupa tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi peringatan dan pelaksanaan yajña oleh Raja Mulawarman. Keterangan tersebut menguraikan pemujaan kepada Deva Siva.

Lokasi yang dimaksud adalah Vaprakeswara dan pada penjelasanya juga menyampaikan bahwa ada persembahan berupa persembahan sapi kepada kaum Brahmana sebanyak 20.000 ekor sapi sebagai bentuk yajña kepada kaum Brahmana.

Selanjutnya peninggalan agama Hindu di Jawa mulai ditemukan, yaitu di Jawa Barat diperkirakan sekitar tahun 500 atau abad kelima, yaitu bernama Kerajaan Tarumanegara. Pada masa Kerajaan Tarumanegara, Rajanya yang sangat terkenal membawa perubahan dan mampu menyejahterakan rakyatnya adalah Raja Punawarman.

Bukti peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara berupa prasasti, seperti prasasti:
  • Ciaruteun;
  • Kebonkopi;
  • Jambu;
  • Pasir Awi;
  • Muara Cianten;
  • Tugu; dan
  • Lebak.

Setelah perkembangan Agama Hindu di Jawa Barat, kemudian berkembang di Jawa tengah, yaitu Mataram Kuno yang dibuktikan dengan beberapa bukti yang ditemukannya, seperti Prasasti Tukmas di lereng Gunung Merbabu.

Prasasti ini berbahasa Sanskerta memakai huruf Pallawa. Prasasti Tukmas tersebut berisi atribut kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa sebagai tri murti, seperti Trisula, Kendi, Cakra, Kapak, dan Bunga Teratai Mekar.

Setelah Dinasti Isana Wamsa, selanjutnya di Jawa Timur muncul Kerajaan Kediri, yaitu pada tahun 1042—1222. Kerajaan Kediri memiliki peninggalan berupa   karya sastra Hindu, seperti kitab Smaradahana, kitab Bharatayudha, kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Setelah masa tersebut kemudian lahirlah Kerajaan Singosari pada tahun 1222—1292.

Sebagai bukti Kerajaan Singosari adalah didirikannya Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singosari. Dengan perjalanan perkembangan Agama Hindu selalu mengalami pasang surut.seperti. Kerajaan tersebut mengalami kejayaan pada saat kerajaan diperintah oleh Raja Kertanagara sekitar tahun 1268—1292. Raja tersebut yang menghantarkan Singosari mengalami masa kejayaan dan terkenal karena kesuksesannya dalam memerintah.

Raja Kertanagara adalah raja pertama yang berhasil menata kekuasaanya hingga ke luar Jawa, yaitu sampai ke masyarakat Hindura. Sekitar pada tahun 1275 Raja Kertanagara membuat pasukan ekspedisi dan mengirimnya ke Pamalayu dengan tujuan untuk menjadikan masyarakat Hindura sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol. Selain wilayah Melayu yang dikuasai raja Kertanegara, wilayah yang dikuasai yaitu Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

Kerajaan Majapahit di Jawa Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat dan terkenal dab membawa peradaban positif, yaitu tentang toleransi yang sangat kuat. Peninggalan dari kerajaan dalam berbagai bentuk, yaitu candi dan karya sastra. Salah satunya adalah Candi Penataran yang menjadi peradaban umat Hindu tentang konsep tempat suci. Kerajaan Majapahit mengalami masa Kejayaan pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk, yang dibantu oleh Gajah Mada sebagai mahapatih pada tahun 1350— 1357.

Pada masa ini cakrawala mandala Majapahit mencakup wilayah yang sangat luas, menjangkau Tumasik, Semenanjung, hingga Nusantara Timur. Pada masa Raja Hayam Wuruk rakyat Majapahit mengalami hidup yang damai dan sejahtera, karena pada masa tersebut pertanian mulai dibangun dan dibantu oleh kerajaan dengan dimulainya perbaikan irigasi, pembukaan tanah pertanian, dan pembuatan bendungan.

Raja Hayam Wuruk terus memperhatikan rakyatnya  dan  memastikan  kehidupan  masyarakat dapat berjalan dengan baik, yaitu kebutuhan dan kesejahteraanya dapat berlangsung dengan baik.

Setelah peninggalan Hindu di Jawa, peninggalan Hindu juga ditemukan dan berkembang di Bali. Dalam catatan sejarah tentang masuknya agama Hindu ke Bali diperkirakan terjadi pada abad kedelapan, dan ada beberapa catatan sejarah juga menguraikan bahwa penduduk asli Bali telah ada dan berkembang dari abad ke-1.

Perjalanan Hindu sekitar abad ke-8 dalam sejarah yang dibuktikan dengan berbagai bukti sejarah bahwa ditemukan prasasti-prasasti, yaitu dalam bentuk Arca Siva dan Pura Putra Bhatara di Desa Bedahulu, Gianyar.