Pengertian Asuransi Syariah dan Sejarahnya


Beberapa waktu belakangan ini, kita sering mendengar dan melihat pertumbuhan serta perkembangan aktivitas ekonomi yang berlandaskan pada syariat Islam atau lebih dikenal dengan ekonomi syariah di masyarakat.

Aktivitas tersebut berhubungan dengan industri jasa keuangan sehingga muncul istilah Unit Usaha Syariah (UUS) antara lain Asuransi Syariah, Perbankan Syariah, Koperasi Syariah, Pegadaian Syariah dan lain-lain.

Hal ini tentu saja sangat normal, mengingat berubahnya tatanan sosial ekonomi dalam masyarakat yang semakin membutuhkan nilai-nilai religius pada setiap aspek kehidupan.

A. Pengertian Asuransi Syariah
Asuransi
berasal dari bahasa Inggris yaitu insurance, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia dan popular dengan istilah asuransi. Sinonim asuransi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pertanggungan.

Berdasarkan pada UU Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian, asuransi merupakan perjanjian antara dua belah pihak yaitu pemegang polis dan perusahaan asuransi, yang menjadi landasan bagi perusahaan asuransi untuk penerimaan premi yang kegunaannya adalah untuk:
  1. Memberikan kompensasi kepada pemegang polis karena kerusakan, kerugian, kehilangan keuntungan, biaya yang timbul dan tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin ditanggung oleh pemegang polis karena terjadinya sesuatu yang tidak pasti (tidak bisa diprediksi)
  2. Memberikan pembayaran karena pemegang polis meninggal dunia atau pembayaran yang didasarkan pada hidup pemegang polis dengan manfaat yang jumlahnya ditetapkan pada pengelolaan dana.

Asuransi syariah atau juga dikenal dengan asuransi takaful berasal dari bahasa Arab dari kata dasar - كافلا-يتكافل تكافل - yang artinya saling menanggung atau menanggung bersama.

Menurut istilah asuransi syariah atau takaful adalah pengaturan risiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong (symbiosis mutualisme) yang melibatkan peserta asuransi dan pengelola, serta berdasarkan pada ketentuan Al-Qur`an dan sunah.

Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2014 asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian antara pemegang polis dengan perusahaan asuransi syariah dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling tolong-menolong dan melindungi.

Ada enam unsur-unsur yang terdapat dalam asuransi, yaitu adanya:
  1. Pihak tertanggung
  2. Pihak penanggung
  3. Akad atau perjanjian asuransi
  4. Pembayaran iuran (premi)
  5. Kerugian, kerusakan atau kehilangan (yang diderita tertanggung)
  6. Peristiwa yang tidak bisa diprediksi

B. Sejarah Berdirinya Asuransi Syariah
Perusahaan asuransi yang pertama kali berdiri di Indonesia diprakarsai oleh pemerintah Hindia Belanda bergerak di bidang asuransi sektor perkebunan yang bernama Bataviasche Zee End Brand Asrantie Maatscappij pada tahun 1843. 

Asuransi tersebut mencakup segala risiko yang diakibatkan oleh kebakaran dan risiko kecelakaan pada saat pengangkutan hasil perkebunan. Berturut-turut kemudian berdirilah perusahaan-perusahaan asuransi lain, namun setelah penjajahan Jepang, perekonomian Indonesia mengalami kekacauan sehingga banyak perusahaan asuransi yang bangkrut.

Adapun perusahaan asuransi syariah pertama yang lahir di Indonesia, diawali dari kepedulian yang tulus dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). ICMI bekerja sama dengan PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, Bank Muamalat Tbk., Departemen Keuangan RI dan beberapa pengusaha muslim Indonesia, dengan bantuan teknis dari Syarikat Takaful Malaysia, Bhd. Kemudian melalui Tim Pembentuk Asuransi Takaful Indonesia (TEPATI) didirikanlah PT Syarikat Takaful Indonesia (Takaful Indonesia) pada tanggal 24 Februari 1994 yang diresmikan oleh Menristek/Kepala BPPT BJ Habibie sebagai perusahaan perintis pengembangan asuransi syariah yang pertama di Indonesia.