Nilai-Nilai Yajña dalam Kitab Rāmāyana


Suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk melakukan persembahan kepada Hyang Widhi Wasa dan semua ciptaanya secara universal disebut dengan yajña. Dengan demikian, definisi yajña sangat luas tidak terbatas pada satu konsep, karena semua bentuk pemberian, pengorbanan, dan persembahan baik spiritual maupun sosial terkait gerakan kemanusiaan merupakan yajña.
 
Unsur-unsur yang terkandung di dalam yajña, yaitu:
  1. Karya (adanya perbuatan).
  2. Sreya (ketulus ikhlasan).
  3. Budhi (kesadaran).
  4. Bhakti (persembahan).

Semua perbuatan yang berdasarkan dharma dan dilakukan dengan tulus ikhlas dapat disebut yajña. Memelihara alam lingkungan juga disebut yajña. Mengendalikan hawa nafsu dan panca indria adalah yajña.

Demikian pula membaca kitab suci Weda, sastra agama yang dilakukan dengan tekun dan ikhlas adalah yajña. Saling memelihara, mengasihi sesama makhluk hidup juga disebut yajña. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang yang sedang ditimpa kesusahan adalah yajña. Jadi, jelaslah yajña itu bukanlah terbatas pada kegiatan upacara keagamaan saja. Upacara dan upakaranya (sesajen dan alat-alat upakara) merupakan bagian dari yajña.

Latar belakang manusia melakukan yajña adalah adanya ṛṇa (utang). 

Dari tri ṛṇa kemudian menimbulkan pañca yajña, yaitu dari dewa ṛṇa menimbulkan dewa yajña dan catur asrama. Dari ṛsī ṛṇa menimbulkan ṛsī yajña, dan dari pitra ṛṇa menimbulkan pitra yajña dan manusa yajña.

Semuanya itu memiliki tujuan untuk mengamalkan ajaran agama Hindu sesuai dengan petunjuk Weda, meningkatkan kualitas kehidupan, pembersihan spiritual dan penyucian, serta merupakan suatu sarana untuk dapat menghubungkan diri dengan Tuhan.

Ajaran bhakti dalam agama Hindu dimuat pada Atharvaveda XII.1.1. 

Yajña adalah salah satu penyangga bumi seperti yang tercantum dalam mantra berikut.

Satyaṁ bṛhadṛtamugram dīkṣã tapo brahma Yajñaḥ pṛthīviṁ dhãrayanti, sã no bhutãsya bhavyasya patyuruṁ lokaṁ pṛthivī naḥ kṛṇotu

Terjemahannya:

Sesungguhnya kebenaran (satya) hukum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), diksa, tapa brata, Brahma dan juga yajña yang menegakkan dunia semoga dunia ini, memberikan tempat yang lega bagi kami dan ibu kami sepanjang masa.
(Atharvaveda XII.1.1)

Uraian dalam Kitab Atharvaveda XII.1.1, kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang yajña terus-menerus dapat dilakukan oleh manusia. Demikian pula yajña adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuwana Agung. Di samping sebagai pusat terciptanya alam semesta, Yajña juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhagavad Gītã disebut cakra yajña. Kalau cakra yajña ini tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran (Pudja, 2004).

Sahayajñaḥ prajãḥ sṣṛtvã Puro’vãca prajãpatiḥ aneṇa prasaviṣyadhvam eṣa vo ‘stv iṣṭakãmandhuk

Terjemahannya:

Pada zaman dahulu kala Prajāpati menciptakan manusia dengan yajña dan bersabda: “dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kāmandhuk dari keinginanmu”.
(Bhagavadgītā III.10)

Isi dari Bhagavadgītā III.10 secara tegas menjelaskan bahwa dengan karena yajña engkau akan mengembang dan akan menjadi kāmandhuk dari keinginanmu.

Dari uraian diatas, nilai-nilai Yajña dalam kitab Rāmāyana adalah sebagai berikut:
  • Yajña merupakan cara mengungkapkan nilai-nilai Weda
  • Yajña merupakan simbol pengejawantahan ajaran Weda dalam memahami ajarannya, yang dilukiskan dalam bentuk simbol-simbol (niyasa).
  • Yajña sebagai realisasi ajaran agama Hindu diwujudkan untuk lebih mudah dihayati dan dilaksanakan dalam menghadirkan Tuhan yang akan disembah serta mempersembahkan isi dunia yang terbaik.