Ki Hadjar Dewantara Sebagai Pelaku Sejarah, Saksi Sejarah, Serta Penggerak Sejarah


Bermula dari tahun 1912, persahabatan Ki Hadjar Dewantara dengan Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker dimulai sejak belajar di sekolah dokter STOVIA pada zaman Hindia Belanda, hingga mereka bertiga kemudian dikenal sebagai tiga serangkai.

Mereka mendirikan partai politik Indische Partij dan koran De Expres sebagai media untuk menyebarkan gagasan mereka yaitu membangkitkan nasionalisme para pribumi dan menentang kebijakan pemerintah kolonial yang diskriminatif.

Salah satu tulisan dan gagasan Ki Hadjar Dewantara yang menggugah nasionalisme dan menentang kolonialisme adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang dimuat di koran De Expres sebagai kritik atas pemerintah Hindia Belanda.

Akibat gagasannya yang tertuang lewat tulisan tersebut, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan hukuman dengan diasingkan.

Namun, hal itu tidak menciutkan nyalinya untuk berjuang demi bangsa. Ki Hadjar Dewantara terus berjuang melalui pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Salah tujuan dari pendidikan Taman Siswa adalah untuk mencerdaskan bangsa melalui akses dan kesempatan bagi rakyat mendapatkan pendidikan.

Atas segala jasa, tindakan, maupun gagasannya untuk masyarakat Indonesia, kita mengenal Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Dalam perspektif ilmu sejarah, beliau merupakan pelaku sejarah, saksi sejarah, sekaligus penggerak sejarah.