Implikasi Penerapan Nilai-Nilai Yajña dalam Kitab Rāmāyana


Berikut adalah implikasi penerapan nilai-nilai Yajña dalam Kitab Rāmāyana

1. Implikasi pada Kehidupan Individu (Spiritual)
Implikasi penerapan nilai-nilai yajña dalam kitab Rāmāyana pada kehidupan individu secara nyata dilakukan melalui implementasi keagamaan seperti:

a. Srahwanam, memiliki arti mendengarkan hal-hal yang baik. Seseorang dalam mendekatkan diri dengan Hyang Widhi Wasa dengan cara mendengarkan pencerahan-pencerahan dari orangtua, orang suci, guru, dan orang baik.

Contohnya:
  • Mendengarkan nasehat orangtua;
  • Mendengarkan pelajaran dan nasehat guru;
  • Mendengarkan pencerahan dari pandhita dan pinandhita; dan
  • Mendengarkan dharmawacana.
b. Wedanam, memiliki arti membaca kitab suci. Seseorang menekuni kitab suci dengan cara rajin membaca dan sangat diyakini kegiatan tersebut sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Hyang Widhi Wasa. Misalnya rajin membaca kitab-kitab mantra dan sloka.

Contohnya:
  • Membaca kitab mantra; dan
  • Membaca sloka dan ayat-ayat suci lainya.

c. Kirthanam, memiliki arti melantunkan kidung-kidung suci. Seseorang selalu melantunkan kidung-kidung suci dalam setiap kegiatan keagamaan.

Contohnya: melantunkan kidung-kidung suci pada upacara panca yajña (kidung suci disesuaikan dengan daerah setempat).

d. Smaranam, memiliki arti mengucapkan nama-nama Tuhan secara berulang-ulang. Memuja Hyang Widhi dengan cara secara berulang- ulang menyebutkan nama kemahakuasaan Tuhan melalui japa.

Contohnya: japa, secara berulang-ulang mengucapan aksara OM atau aksara suci yang lain dengan harapan untuk mendapatkan keselamatan rohani maupun jasmani.

e. Padasewanam, memiliki arti sujud di kaki Tuhan. Dalam kehidupan nyata dilaksanakan dengan cara selalu bhakti kepada Hyang Eidhi Wasa, dan sujud bhakti kepada orang tua dengan cara mencuci kaki orangtua dan menciumnya dengan harapan utang dan kesalahan yang diperbuat dapat dimaakan oleh orang tua dan orang tua selalu mendoakan putra-putrinya agar selamat dan sejahtera. Hal demikian juga bisa dilaksanakan kepada guru spiritual sebagai bentuk bakti seorang siswa kepada nabenya.

Contohnya:
  • Upacara padasewanam dengan orang tua di rumah;
  • Upacara padasewanam pada upacara tertentu seperti upacara potong gigi dan upacara pawiwahan.
  • Upacara padasewanam kepada guru spiritual baik upacara ekajati maupun dwijati.

f. Dhasyam, memiliki arti berpasrah diri. Secara tulus berpasrah diri dalam melaksanakan setiap kewajiban dan persembahan kehadapan kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa.

Contohnya:
  • Tulus melaksanakan setiap tugas dan kewajiban; dan
  • Menyerahkan sepenuhnya setiap karma kita kepada Hyang Widhi Wasa.

g. Arcanam, memiliki arti memuja dengan simbol-simbol. Keyakinan sebagai dasar dalam kehidupan beragama, sehingga sebagai wujud bhakti dalam proses pemujaan menggunakan berbagai simbol-simbol keagamaan. Contoh: Arca atau simbol-simbol keagamaan yang disakralkan.

2. Implikasi pada Kehidupan Sosial
Implikasi penerapan nilai-nilai yajña dalam kitab Rāmāyana pada kehidupan sosial secara nyata, seperti:

a. Sukhyanam, yang memiliki makna menjalin persahabatan, perilaku komitmen sosial yang dibangun adalah selalu saling menghargai sehingga menjadi harmoni dengan sesama untuk menjalin persehabatan. Karena manusia selalu ketergantungan dengan orang lain dalam kehidupan sosial. Melalui perilaku ini maka kehidupan sosial menjadi damai.

Contohnya:
  • persahabatan di lingkungan tempat tinggal;
  • persahabatan di sekolah; dan
  • persahabatan antarteman di masyarakat.

b. Sevanam, memiliki makna memberikan pelayanan yang baik dan tulus. pelayanan yang baik dan tulus dimaksud diberikan kepada orangtua, guru, dan sesama.

Contohnya:
  • membantu orang di rumah;
  • mengikuti nasehat guru dan memberikan pelayanan guru di sekolah; dan
  • memberikan pelayanan terbaik terhadap sesama.

c. Asih, memiliki arti mengasihi. Asih dijadikan dasar pada kehidupan sebagai wujud perilaku yang saling mengasihi dan menghargai.

Contohnya:
  • Selalu berpikir baik untuk saling mengasihi sesama; dan
  • Menghargai diri sendiri dan orang lain.

d. Punia, memiliki arti memberi. Punia selalu identik dengan upacara dewa yajña “dana punia”. Konsep Punia tidak berhenti pada upacara dewa yajña, melainkan terus bergerak pada kehidupan sosial yang mendidik setiap manusia untuk saling memberi sebagai wujud perilaku sosial yang saling memberi dan membatu (gotong royong).

Contohnya:
  • memberi atau punia pada upacara panca Yajña;
  • bergotongroyong; dan
  • membantu sesama yang membutuhkan.

e. Bhakti, memiliki penghormatan. Pada kehidupan sosial bhakti sebagai wujud perilaku saling menghormati.

Contohnya:
  • menghormati orangtua;
  • menghormati guru; dan
  • saling menghormati dengan sesama.