Hubungan Catur Warna dengan Catur Asrama


Keterkaitan ajaran catur warna dengan ajaran Catur Asrama dapat dilihat dalam bentuk skema sebagai berikut:


Berdasarkan skema di atas, hubungan Catur Warna dengan Catur Asrama memiliki hubungan secara vertikal dan horizontal.

Secara vertikal hubungan di antara warna yang satu dengan warna yang lainnya bersifat berstruktur. Artinya, bahwa setelah seseorang matang sebagai Brahmana, ahli dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, maka selanjutnya beliau menjadi pemimpin (ksatrya) bangsa dan negara ini untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya (Sudra). Selanjutnya memiliki tanggung jawab, yaitu sesuai dengan kewajibannya untuk melayani (Sudra) . Masyarakat Hindu memberikan pencerahan dengan berbagai macam ajaran (ahli Weda). Selanjutnya kemampuan memimpin dan mengolah perekonomian dan pertanian untuk mewujudkan kesejahteraan duniawi dan rohani dalam mencapai pembebasan (Jagadhita dan Moksa).

Atau sebaliknya; dijelaskan bahwa dengan penuh pengabdian (Sudra Warna) membantu untuk mewujudkan kesejahteraan (Sudra), menjaga ketertiban dan kesetabilan bangsa, dan negara (ksatrya) untuk membantu masyarakat Hindu menciptakan ketenangan hidup (Brahmana). Tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan bangsa dan negara yang benar-benar aman, tenteram, dan damai.

Demikian juga dengan Catur Asrama, seseorang hendaknya sejak dini belajar mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan secara baik dan benar (Brahmacari Asrama) setelah dipandang cukup dilanjutkan dengan belajar membangun rumah tangga (Grehastha Asrama) yang kokoh dan utuh.

Selanjutnya tatkala masa berumahtangganya dipandang cukup, dilanjutkan lagi dengan mendalami ilmu pengetahuan dengan mengasingkan diri dari keramaian duniawi (Wanaprastha Asrama). Akhirnya, setelah sempurna pengetahuan serta pengalaman hidupnya, kembali lagi mengabdi kepada masyarakat Hindu (Bhiksuka asrama) membangun bangsa dan negara guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan (Jagadhita dan Moksa).

Atau juga sebaliknya, mulai dengan mengabdikan diri mengajarkan berbagai macam keahliannya “Bhiksukha” di masyarakat, selanjutnya mengembara ke berbagai daerah untuk mendalami dan mengamalkan pengetahuan dan pengalamannya “wanaprastha”.

Hubungan catur warna dengan Catur Asrama dalam kehidupan sosial dapat adalah sebagai berikut.


a. Fase Brahmana Warna dengan Brahmacari Asrama
Kedua fase bersama-sama untuk bergerak di bidang pendidikan dan pembelajaran. Pantangan-pantangannya “Brahmacari Asrama”, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk menguasai dan ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan Weda (Brahmana Warna).

b. Grehastha Asrama
Memasuki jenjang rumah tangga, seseorang dihadapkan dengan berbagai macam kewajiban (pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara). Belajar menjadi pemimpin keluarga dan masyarakat, baik di tingkat keluarga besar, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, maupun pusat sebagai ksatrya.

c. Fase Wanaprastha Asrama
Memiliki tujuan untuk melayani dalam mewujudkan kesejahterahan dan kebahagiaan (baik jasmani maupun rohani) Sudra Warna.

d. Untuk menjadikan sang diri pribadi yang Sadhu Gunawan hendaknya bergerak menjadi pengabdi setia kepada masyarakat dan dharma (Bhiksukha). Bergerak sebagai pembantu yang tulus terhadap tiga golongan (Sudra, ksatrya, dan Brahmana), serta masyarakat luas (Sudra Warna).

Dengan demikian, bila semua hubungan ini dapat  berlangsung dengan tulus dan dipenuhi semangat pengabdian, maka kesejahteraan dan kebahagiaan tiap-tiap individu akan mudah dicapai. Sekaligus juga akan membawa pada kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh masyarakat Hindu.