Dasar Teologis untuk Memelihara Lingkungan


Dasar teologis untuk memelihara lingkungan adalah Kejadian 2:15 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”.

Yang bermakna: perintah Tuhan Allah kepada manusia untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden.

Berikut uraian tentang Dasar Teologis untuk Memelihara Lingkungan:

Dalam tafsirannya, Keil dan Delitzsch (2020) mengatakan, “...manusia ditempatkan di Taman Eden untuk menghiasinya dan menjaganya.” Kata ditempatkan dalam kalimat tersebut bermakna bahwa manusia dipanggil untuk melakukan tugasnya yang khusus. Ini sangat berbeda dengan masalah dan kegelisahan karena kerja keras yang kelak harus dilakukan setelah manusia jatuh ke dalam dosa.

Di surga, kata Keil dan Delitzsch, manusia bertugas mendandani (colere) taman. Perlu kita ketahui bahwa kata colere di sini adalah akar dari kata culture yang kita kenal sekarang sebagai upaya pembudidayaan. Ini misalnya dapat kita lihat dalam upaya manusia membudidayakan berbagai varietas tanaman yang akan merosot dan tumbuh liar karena tidak dibudidayakan. Oleh karena itu, menanam dan melestarikan (ׁש  רמ = “menjaga”) kebun ilahi, bukan hanya untuk menghindari perusakannya oleh kekuatan jahat apa pun, melainkan juga mencegahnya menjadi liar melalui kemerosotan alam. Karena alam diciptakan untuk manusia, panggilannya tidak hanya untuk memuliakannya dengan pekerjaannya, membuatnya tunduk kepada dirinya sendiri, tetapi juga mengangkatnya ke dalam lingkup roh dan memuliakannya lebih jauh.

Dari penjelasan di atas nyata bahwa tugas manusia di dunia sungguh penting dan mulia. Tugas kita bukanlah mengolah taman yang diberikan Allah dengan sewenang-wenang, melainkan menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Kita tidak bisa sembarangan menebangi hutan untuk mengambil dan menjual kayunya tanpa upaya untuk melestarikannya kembali. Dengan demikian, hutan tetap bisa menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan berbagai hewan yang hidup di dalamnya.

Begitu pula dengan laut dan segala isinya. Sayangnya, banyak orang yang mengabaikannya. Upaya pelestarian lobster dengan memelihara dan membesarkannya diabaikan dengan cara menjual bibitnya ke negara lain. Keuntungan yang dinikmati segera oleh segelintir orang akan menyebabkan Indonesia kehabisan lobster dan kelak kita tidak akan mampu lagi menikmatinya.

Imamat 25 memuat hukum-hukum Israel yang berkaitan dengan pemeliharaan alam dan keadilan bagi semua. Masyarakat Israel memiliki aturan Sabat. Pada setiap hari Sabat, mereka dilarang melakukan kegiatan apa pun karena Allah ingin memberikan kesempatan untuk beristirahat bagi semua. Mari kita lihat bagaimana pemahaman tentang hukum Sabat itu berkembang terus. Kita lihat perbandingannya dalam Keluaran 20:8-11, Ulangan 5:12-15, dan Imamat 25:2-7. Dari ketiga perikop ini, kita bisa melihat bagaimana aturan itu diterapkan (Schafer, 2013).

Dalam Keluaran dikatakan bahwa pada hari Sabat binatang-binatang pun harus diberikan istirahat, seperti juga manusia. Sabat diberikan karena Tuhan juga beristirahat pada hari ketujuh.

Dalam Ulangan, kesempatan istirahat itu diperluas kepada semua pekerja, buruh, dan hamba, serta semua binatang peliharaan harus diberikan istirahat. Sabat diberikan sebagai pembebasan bagi semua yang harus bekerja karena dasarnya adalah keadilan. Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perhambaan di Mesir. Kini mereka pun diingatkan untuk tidak menindas orang lain maupun binatang-binatang peliharaan yang biasanya digunakan untuk membantu kerja mereka.

Dalam Imamat, ada juga aturan hukum Sabat, yaitu tahun ketujuh, yang berlaku untuk tanah garapan bangsa Israel dan untuk binatang-binatang liar juga. Tanah yang tidak digarap harus dibiarkan tidak dituai. Hasil tanaman di tanah garapan itulah yang akan menjadi sumber makanan bangsa itu selama satu tahun Sabat itu. Demikian pula para budak, orang upahan, orang asing, binatang ternak dan liar, semuanya diizinkan untuk memakan semua hasil tanah itu.

Pemahaman tentang Sabat ini semakin diperluas di dalam Imamat 25. Di dalam bagian kitab itu dikatakan bahwa pada Tahun Yobel, yaitu pada tahun ketujuh dari tahun Sabat, artinya 7 x tahun Sabat (tahun ke-49 atau tahun ke-50), seluruh tanah harus diistirahatkan. Kemudian, masyarakat Israel akan menjalankan pembagian ulang tanah garapan dan perumahan mereka. Orang-orang yang selama ini miskin karena terpaksa menjual atau menggadaikan tanah mereka karena berbagai alasan, kini akan mendapatkan tanah kembali. Mereka yang sudah menjadi terlalu kaya karena terus-menerus berhasil membeli tanah berkali-kali, kini akan menjadi sama dengan rekanrekan sebangsanya. Tanah milik mereka akan dijadikan sama luasnya dengan para buruh tani dan hamba yang sebelumnya tidak punya tanah.

Mengapa aturan Sabat ini penting? Aturan ini penting karena ternya-ta alam juga membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan kembali kondisinya. Apabila tanah terus-menerus ditanami dan digarap, tanpa istirahat, tanah itu pun akan kehabisan zat haranya yang sangat dibutuhkan untuk menjadi sumber makanan bagi tanaman-tanaman yang tumbuh di situ. Kehabisan zat hara akan membuat tanah berubah menjadi padang gurun.

Dalam tradisi beberapa suku di Indonesia pun kita menemukan tradisi yang sama. Di kalangan suku Dayak di Kalimantan, ada kebiasaan untuk berladang berpindah-pindah. Mengapa praktik ini dilakukan? Alasannya jelas. Setelah tanah digarap beberapa tahun, kesuburannya akan semakin berkurang. Yang terbaik yang harus mereka lakukan adalah pindah ke tanah yang lain dan meninggalkan tanah yang lama untuk beristirahat. Setelah beberapa tahun kemudian, mereka bisa kembali ke tanah itu dan kini kondisinya akan menjadi lebih subur daripada sebelumnya.

Di Maluku ada tradisi “sasi” (jelajah.kompas.id, 2019), yaitu masa-masa larangan untuk masyarakat di sana untuk menangkap binatang-binatang tertentu. Ada sasi ikan lompa, sasi penyu, dan sasi burung gosong (Eulipoa wallacei), yang berstatus vulnerable (terancam). Semua ini adalah bagian dari kearifan lokal yang berkembang untuk memelihara dan melestarikan bagian-bagian dari alam yang terancam kelanjutannya.