Ciri Khas Perilaku Budi Luhur Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa


Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menyangkut keyakinan dalam kejiwaan dan kerohanian yang dapat diterapkan dalam berperilaku budi luhur.

Adapun ciri khas perilaku budi luhur penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, antara lain:
  • Penyembahan (iman) kepada Tuhan. “Manembah” bukan sekedar perilaku badaniah, melainkan aspek jiwa, atau rohani dari dalam hati yang bersih.
  • Berserah diri, didasari dengan pernyataan diri dan kehendak yang bulat “berserah dan tunduk “ kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wujud pernyataan diri berupa ritus religiositas (berupa ritual doa dan ibadat), dan terpadu dengan
  • Spiritualitas, perilaku hidup berbudi luhur berhubungan dengan sesama manusia dan terhadap lingkungan.

Perilaku budi luhur yang bertahap dan bertingkat ini merupakan etika, berupa “kesadaran dan sikap batin (kebatinan), jiwa (kejiwaan), roh (kerohanian), dengan penghayatan dan pengamalan yang diwujudkan dalam perilaku budaya spiritual.

Elemen roh sumber hidup itu berupa “dzat Tuhan” yang diberikan pada manusia hidup. Roh (tondi, dalam bahasa Batak) manusia itulah hidup (Urip, bahasa Jawa).

Hidup (roh, “dzat Tuhan”) ada dalam batin dan jiwa. Roh senantiasa terikat dalam hubungan antara “Pencipta, pemberi hidup” dan manusia ciptaan-Nya, penerima hidup”. Hanya dapat dikenali rasa-hati pribadi dengan kesadaran tingkat tinggi. 

Dengan rasa-hati yang benar, bersih dan tulus utuh “roh hidup” manusia dapat berhubungan dengan Tuhan “sumber roh hidup”.