Artikel Singkat Tentang Tanggung Jawab Manusia untuk Memelihara Alam


Berikut adalah contoh artikel singkat tentang “Tanggung Jawab Manusia untuk Memelihara Alam”

Akan sangat mudah bila kita memilih untuk tidak peduli dengan bersikap bahwa bencana alam yang terjadi menunjukkan kuasa Allah terhadap alam semesta. Namun, ada jenis bencana yang sebetulnya disebabkan oleh ulah manusia. Artinya, justru manusia yang berperan penting dalam timbulnya bencana yang menyebabkan kerugian jiwa dan berbagai material lainnya. Contoh-contoh di bawah ini menunjukkan betapa dahsyatnya bencana karena ulah manusia.
 
Tragedi Minamata ini berupa pencemaran merkuri (Hg) atau air raksa di Kota Minamata, Jepang. Sebuah perusahaan batu baterei, Chisso, membuang limbah kimia ke Teluk Minamata selama bertahun-tahun (tahuan 1932—1949 saat mulai ditemukan korban) dalam jumlah yang sangat besar (200—600 ton). Penduduk Jepang sangat gemar memakan ikan, bisa sampai 410 gram per hari. Tanpa curiga, mereka memakan ikan yang sebetulnya sudah tercemar limbah merkuri tersebut. Akibatnya, ratusan orang meninggal. Memang betul pabrik sudah ditutup, tetapi penderita cacat fisik dalam bentuk kelumpuhan syaraf masih ditemukan pada tahun 1958. Bertahun-tahun setelah pabrik ditutup pencemaran merkuri pun berhenti.

Ternyata, kejadian serupa — limbah merkuri yang merusak lingkungan — dengan penyebab yang lain juga ditemukan di Indonesia. Penyebabnya antara lain, penambangan emas secara liar dengan menggunakan merkuri yang limbahnya dialirkan ke sungai atau dibuang ke tanah di sekitar lubang galian. Suatu penelitian menemukan bahwa kadar merkuri yang ditemukan di wilayah Ambon berpuluh kali lipat lebih tinggi dari kadar merkuri yang ditemukan di Teluk Minamata. Dari catatan Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2017, ada 850 titik penambangan emas skala kecil yang tersebar di 197 kabupaten/kota di 32 provinsi di Indonesia, melibatkan sekitar 250 ribu penambang. “Dampak pengolahan emas menggunakan merkuri merugikan baik dari segi lingkungan, kesehatan, ekonomi, dan sosial,” kata Karliansyah di Jakarta (bisnis.tempo.co, 2017).

Untuk mengatasi hal ini, masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang bertujuan menyadarkan mereka akan bahaya yang sedang menunggu, baik bahaya untuk kerusakan alam maupun yang membahayakan manusia. Kegiatan edukatif seperti ini pernah dan masih dilakukan untuk kelompok nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil yang masih melakukan dengan cara yang tradisional. Pembekalan seperti ini akan meningkatkan pemahaman mereka untuk memahami informasi yang disampaikan oleh BMKG tentang prakiraan cuaca. Selain itu juga, akan meningkatkan keterampilan mengelola budidaya perikanan sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan. Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) adalah salah satu contoh program edukasi yang dilalukan sebagai bentuk kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Rare Indonesia, salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada isu konservasi alam.

Pada bulan Juni 2020, Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk menjaga wilayah laut sesuai dengan sistem ekonomi kelautan berkelanjutan (sustainable ocean economy) (mongabay, 2020). Sebagai negara kepulauan, laut menjadi bernilai penting untuk Indonesia. Secara global, lautan dunia memegang peranan penting karena menyumbang lebih dari 2,5 triliun USD per tahun dalam bentuk memberi makan dan mata pencaharian bagi lebih dari tiga miliar orang, serta mengangkut sekitar 90 persen perdagangan dunia. Lautan juga dianggap sebagai sumber energi terbarukan dan bahanbahan utama untuk memerangi penyakit.

Ada beberapa tragedi lain yang terjadi, misalnya tragedi Nuklir Chernobyl yang diperkirakan memakan korban sekitar 4000-an orang meninggal. Dampak dari radiasi masih ditemukan sampai saat ini walaupun tragedi itu terjadi pada tahun 1986.

Studi yang dilakukan oleh Gkargkavouzi, Halkos, dan Matsiori (2019) menemukan bahwa perilaku terkait dengan kepedulian dan pemeliharaan kelestarian alam didasari antara lain oleh sikap egois atau altruistik seseorang. Altruistik adalah sifat yang mendahulukan kepentingan orang lain, rela berbuat sesuatu yang mendatangkan kebaikan kepada orang lain (KBBI, 2013).

Orang yang egois hanya berpikir dari sudut kepentingannya sendiri. Ia ingin hidupnya nyaman tanpa mempedulikan bagaimana kehidupan orangorang lain yang mengalami dampak dari tingkah lakunya. Yang termasuk dalam kategori orang-orang seperti ini adalah orang yang membuang sampah sembarangan, orang yang membakar hutan untuk membangun perumahan, dan sebagainya.

Sebaliknya, orang yang altruistik berpikir tentang apakah tingkah lakunya memberikan dampak negatif kepada orang lain dan lingkungan. Orang yang altruistik ternyata memiliki rasa bersatu dengan alam. Mereka tidak rela bila melihat alam dan lingkungan menderita, bahkan hancur akibat kelakuan tidak bertanggung jawab dari orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Penggolongan ini tampak terlalu menyederhanakan, tetapi cukup memberikan gambaran kepada kita tentang prinsip hidup yang ternyata berperan erat dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya untuk menyelamatkan bumi dan isinya tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Mengapa? Justru rakyat banyak yang tidak tahu bahwa tindakan mereka secara tidak sengaja malah merusak lingkungan. Ada satu gerakan yang patut diteladani oleh banyak pemerhati lingkungan. Hanafi Guciano, fasilitator nasional Interfaith Rainforest Initiatives Indonesia menyatakan bahwa kearifan masyarakat adat menjadi kunci untuk menyelamatkan hutan. Ternyata, wilayah-wilayah di mana hutan tropis masih dikuasai masyarakat adat, hampir 80% keragaman hayatinya masih terjaga. (mongabay, September 2020). Sayangnya, kepentingan pengusaha justru sering diutamakan dengan mengorbankan kepentingan kelestarian hutan.

Salah satu tokoh masyarakat yang dianggap berperan banyak adalah Eliza Kissya, Kepala Kewang Haruku di Maluku Tengah, Kecamatan Pulau Haruku, Maluku. Eliza Kissya mengajak masyarakat setempat untuk menanam bakau di sepanjang pantai. Ia juga membantu proses penetasan telur dan penangkaran maleo, menyelamatkan penyu, dan merawat terumbu karang.

Ajakan memelihara kelestarian alam ini ditindaklanjuti oleh Gereja Kristen Indonesia Jayapura yang mengajak jemaat terutama yang tinggal di Lereng Cyclop untuk menjaga wilayah ini. Lereng Cyclop merupakan wilayah Pegunungan Cagar Alam Cyclop, tempat beradanya Danau Sentani, danau terluas di tanah Papua. Di danau seluas 9.360 hektar ini, ada sekitar 21 pulau. Ternyata, nama “Sentani” diberikan oleh pendeta Kristen, yaitu BL Bin, yang menjadi misionaris di wilayah ini pada tahun 1898. Kata “Sentani” berarti “di sini kami tinggal dengan damai”.

Namun, apa yang anda rasakan ketika mendengar tentang bencana yang timbul karena ulah manusia? Misalnya saja, tentang penggundulan hutan di Papua, Kalimantan, dan Sumatera, banjir bandang, abrasi pantai, menumpuknya sampah plastik yang justru merusak keindahan alam.

Sedikitnya ada tiga sikap yang muncul, yaitu:
  1. Membiarkan saja, karena tidak mungkin melakukan sesuatu untuk mencegah ini terjadi. Lagi pula, hal tersebut sudah terjadi untuk waktu yang lama. Yang penting adalah saya tidak melakukan hal-hal merusak seperti itu.
  2. Prihatin, sampai berapa lama hal tersebut dapat dibiarkan terjadi terus karena semakin lama, bumi dan segala isinya menjadi semakin tercemar dan rusak. Namun, di sisi lain, juga merasa tidak berdaya karena tidak mungkin melakukan upaya pencegahan mengingat terbatasnya kapasitas untuk melakukan perubahan.
  3. Bertindak aktif untuk mencegah kerusakan bumi semakin parah. Tindakan ini didasari oleh kesadaran untuk hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap alam pemberian Tuhan. Tanpa menunggu apa tindakan yang akan dilakukan oleh orang lain, tindakan aktif bahkan proaktif adalah membuat tindakan langsung, baik sendiri maupun bersama-sama dengan teman-teman yang juga memiliki kepedulian serupa, untuk membuat tindakan melindungi dan memelihara alam.

Contoh-contoh keterlibatan yang dapat dilakukan oleh remaja adalah ACT (Aksi Cepat Tanggap) di Yogyakarta yang bertujuan melakukan upaya pemulihan bagi mereka yang terkena bencana. Contoh lainnya adalah di Sulawesi Selatan. Di sana ada Lembaga swadaya masyarakat untuk memberi kesempatan remaja berkarya memelihara lingkungan, yaitu Makassar Berkebun, Mangrove Action Project — Indonesia. Usaha-usaha seperti itu menunjukkan bahwa kita pun dapat terlibat aktif memelihara kelestarian lingkungan sebagai wujud tanggung jawab kepada Tuhan Sang Pencipta.

Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) memilih untuk berperan aktif menyiapkan kader jemaat gereja yang mencintai alam. Contohnya, PGI bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) mengadakan program Green School Gereja Sahabat Alam 2020 yang berisi pembekalan pendeta di wilayah kerja restorasi gambut untuk menyebarluaskan pesan spiritual perlindungan alam kepada jemaat. Penekanan pada aspek moral spiritual ini menjadi penting karena manusia perlu bertobat setelah menyadari adanya perusakan alam oleh tangan mereka sendiri.

Sebetulnya, di setiap budaya dan wilayah, dapat kita temukan usaha masyarakat memelihara kelestarian alam. Misalnya, warga di Kampung Kalaodi, kota Tidore, Maluku Utara, memiliki ritual Paca Goya dan Bobeto (mongabay.co.id, 2016). Paca Goya adalah kegiatan membersihkan daerah yang dianggap keramat, berlangsung selama 3 hari penuh, tanpa diselingi aktivitas lainnya. Kegiatan tersebut meupakan upacara menjaga alam. Warga juga tidak boleh menebang kayu ataupun pohon karena bukit atau gunung diyakini sebagai tempat keramat yang paling hijau. Bobeto adalah sumpah bahwa warga tidak akan merusak atau menebang pohon sembarangan. Dalam bahasa Tidore, bobeto adalah nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon. Artinya, siapa merusak alam, nanti dirusak alam.

Dalam masyarakat Baduy, Banten, ada tradisi pikukuh yang memastikan masyarakat hidup berdampingan dengan alam (idntimes.com, 2020). Beberapa aturan yang ditetapkan dan tidak boleh dilanggar adalah warga tidak boleh menggunakan teknologi kimia untuk pertanian. Mereka juga dilarang meracuni ikan di sungai, tidak boleh memakai sabun bila mandi di sungai, tidak boleh menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi di sungai, dan sebagainya.

Andaikan saja seluruh warga dunia mempraktikkan hidup berdampingan dengan alam, niscaya bumi dan isinya terpelihara dengan baik. Mari kita bersikap proaktif melestarikan lingkungan kita.